
Air mata yang lama tak terlihat, akhirnya di malam yang penuh hasrat pun Devina tumpahkan tanpa bisa menahannya lagi.
Ia menahan suara agar tidak mengeluarkan tangisan di depan sang suami. Sungguh, rasanya sangat tidak pantas mendampingi pria baik dan tampan seperti Alvaro. Jika dulu, Devina merupakan wanita yang sangat penuh percaya diri. Saat ini semua itu tak ada lagi di mata Alvaro.
Ia sangat jelas melihat bagaimana Devina menundukkan wajah tanpa berniat menatapnya.
“Aku sangat menjijikkan, Al. Aku tidak pantas, aku benar-benar tidak tahu malu menjadi istri pria sepertimu.” Devina menangis dan secepat kilat Alvaro memeluknya sangat erat.
Ia mencium pucuk kepala Devina beberapa kali.
“Hei…apa yang kau katakan? Aku sangat mencintaimu dan bahagia bisa menikahimu, Dev. Apa yang kau pikirkan saat ini? Ingat pernikahan bukanlah sebuah permainan. Dan aku sangat memegang teguh janji suci itu pada tuhan.” Penuturan Alvaro nyatanya belum cukup membuat Devina tenang.
Wanita itu menggelengkan kepala lantaran tak tahu harus bagaimana mengungkapkan perasaannya. Ia benar-benar rendah saat ini.
“Aku menikahimu, dan juga menikahi semua masa lalumu, Dev. Aku mohon jangan merusak hari bahagia kita ini.” Pelan tangan Alvaro mengusap air mata yang terus keluar dari kelopak mata Devina.
__ADS_1
Tanpa permisi, ia sudah mendaratkan bibir merah miliknya pada bibir ranum sang istri. Jujur saja, dalam hati terdalam Devina pun menegang merasakan sentuhan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
“Sentuhan ini benar-benar beda.” gumam Devina kala merasakan bagaimana sentuhan Alvaro serta perasaan yang penuh cinta. Sungguh membuat seluruh tubuh Devina menegang sempurna.
Jika biasanya ia hanya merasakan sentuhan tanpa kelembutan, kini ia mendapatkan semua yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Malam pertama yang menjadi penyatuan keduanya begitu menggairahkan. Suara mulut keduanya bersahutan saat Alvaro berhasil menyatukan tubuh mereka.
Meski Alvaro tahu dirinya bukanlah yang pertama, namun rasa cinta yang begitu besar untuk Devina membuatnya sangat bersyukur menikahi wanita yang ia dambakan sejak lama.
Malam pun semakin larut, bahkan selama berada di kamar, Tuan Prass penuh pengertian. Ia memerintah sang pelayan untuk tidak mengganggu dan menyiapkan makan di meja makan saja.
“Al, aku lapar.” tutur Devina membangunkan sang suami dari istirahat usai pertempuran panjang.
“Peluk aku dulu.” titah Alvaro. Keduanya berpelukan dan Devina bersuara.
“Terimakasih yah, kau sudah menerimaku dengan segala masa lalu yang buruk itu.” tutur Devina.
__ADS_1
“Itu bukan suatu masalah. Yang terpenting ke depannya semua tak lagi kau lakukan. Aku mencintaimu, Devina.” ujar Alvaro kembali mendaratkan bibirnya pada bibir sang istri.
Tanpa sadar, keduanya kembali larut dalam pergumulan panas yang sangat menggiurkan itu.
Hingga peluh yang semula mengering kini kembali bercucuran.
Tamat
_____
Terkadang cinta memang buta. Namun, mencintai seseorang dengan segala masa lalu bukanlah sesuatu yang di sebabkan cinta buta. Melainkan mencintai adalah ketulusan hati yang tak beralasan. Dan jangan pernah menghakimi seseorang lantaran jalan hidupmu berbeda.
Sebab engkau tidak akan bisa merasakan jika tidak mengalami hal itu sendiri. Mendukung dan mendoakan adalah satu cara yang paling tepat.
Semoga cinta Alvaro untuk Devina akan sampai pada ujung usia mereka.
__ADS_1
Sekian dan terimakasih dari saya, semoga novel yang singkat ini akan banyak memberikan pelajaran pada kita semua. Jika dendam tak akan membuahkan hasil yang memuaskan.
Dan masa lalu tak akan membuat cinta pudar. Terimakasih semuanya.