
Satu malaman itu waktu di gunakan sebaik mungkin oleh Prass untuk berpikir. Ia pria yang cerdas dan sukses bagaimana mungkin ia bisa mengambil keputusan dalam keadaan emosi tanpa memikirkan suatu hal. Terlebih ini menyangkut masa lalunya serta keluarga kecilnya yang tersisa berdua saja dengan Aluna.
Tok Tok Tok
Tangan mungil mengayun di daun pintu kamar sang papah. Aluna segera memutar handle pintu dan di saat yang bersamaan dengan pintu terbuka, matanya melihat wajah tampan papanya berubah tak terbaca sembari duduk bersender di kasur king zise itu.
"Papah," panggilnya berjalan mendekat dan terus menatap wajah Prass.
"Ada apa, Sayang?" tanya Prass dengan sekuat tenaga untuk terlihat baik-baik saja.
"Aluna tidak bisa tidur. Boleh tidur di sini sama Papah?" tanya anak cantik itu tanpa takut melihat tatapan Tuan Prass yang kosong.
__ADS_1
Keheningan terjadi di kamar itu usai Aluna naik ke tempat tidur, tidak hanya sampai di situ saja. Bahkan ia bergerak duduk bersandar bersampingan dengan sang papah tanpa ada jarak sedikit pun.
Matanya mengedar menatap seisi kamar, rasanya sangat merindukan sang mamah saat ini. Padahal belum genap semalam mereka berpisah.
"Apa iya aku harus melakukan tes itu? tapi...bagaimana jika benar apa yang Zera katakan? Apa itu artinya aku selama ini salah besar menelantarkan hidup anakku sendiri? Tidak. Itu tidak akan mungkin, anak itu bukanlah anakku. Yah aku harus melakukan tes DNA dan segera memenjarakannya. Yulia pergi karena wanita itu. Awas kau Devina." geramnya mengepalkan tangan tanpa ada bicara sedikit pun.
Hingga lamunan itu terhenti saat lengan kekar Tuan Prass merasakan ada sesuatu yang menyentuh. Ia menoleh kaget dan mendapati sang anak yang sudah tertidur bersandar padanya.
Sedih rasanya kala melihat Aluna yang masih kecil harus di tinggalkan Yulia secepat itu.
"Lihatlah Yulia, anak kita masih membutuhkanmu. Bagaimana mungkin kau tidak berada di sisinya? Bagaimana aku bisa melakukan ini sendirian?" batin Prass ingin marah pada takdir. Ia benar-benar belum siap menghadapi semuanya.
__ADS_1
Malam yang semakin larut membuat Prass ikut tertidur memeluk guling, begitu pun Aluna yang juga memeluk selimut. Ia tidak ingin bantal guling, ia hanya ingin selimut yang masih menempel aroma sang mamah.
Sedangkan di sini di kantor polisi, akhirnya Alvaro memilih untuk pulang setelah mendengar semua penjelasan polisi. Bahkan ia pun belum bisa melakukan apa pun karena kasus yang Devina hadapi belum sepenuhnya di tetapkan padanya. Tuan Prass masih belum mencabut tuntutannya bahkan proses penyelidikan masih terus berlanjut. Dan beberapa saksi harus turut di ikut sertakan demi memenuhi persyaratan.
"Dev, istirahatlah. Jangan khawatir aku akan mengurus semuanya segera. Sekarang aku harus kembali untuk bekerja. Dua hari kedepan aku usahakan akan kemari lagi. Biar semua di tangani oleh orang kepercayaanku. Ibu mu akan di rawat dengan baik." Alvaro pamitan meski tak mendengar satu kata pun Devina keluarkan.
Wanita itu hanya diam menatap hampa dinding tahanan.
Selepas perginya Alvaro, baru Devina memeluk tubuhnya menangis tanpa suara. Yang di pikirannya saat ini hanya sang ibu yang sakit.
"Maafkan aku, Bu. Maafkan aku yang tidak memikirkan ibu selama ini. Aku terlalu berambisi balas dendam. Maafkan aku, Bu." sesalnya begitu besar.
__ADS_1