
“Aluna, anak Papah baik-baik saja kan?” Tuan Prass memeluk sang anak sembari mengecup beberapa kali kepala Aluna. Ia benar-benar khawatir pada sang anak.
Kini satu masalah sudah ia selesaikan. Malam semakin larut, Tuan Prass harus segera pulang bersama Aluna.
“Papah, tadi Mamah Aluna telponin nggak di angkat. Aluna malah di jemput tante baik.” Anak itu bercerita di sepanjang jalan saat sudah berada di mobil.
Ia masih tidak mengerti apa yang terjadi sebenarnya.
“Sayang, dia bukan orang baik. Mereka itu penjahat.” ujar Tuan Prass tak terima dengan pengakuan sang anak.
Aluna menatap wajah kusam Tuan Prass dengan mencebikkan bibirnya tak terima. Bagaimana ia ingat jelas orang yang bersamanya seharian ini memperlakukan dirinya sangat baik.
“Tapi Tante baik itu kasih Aluna kue yang enak-enak, Pah.” selanya lagi.
Tuan Prass paham jika anak seusia Aluna tidak akan mengerti dengan permasalahan ini. Ia pun memilih diam saja. Ada hal yang harus ia hadapi saat ini yang lebih serius.
“Zera…bagaimana mungkin dia datang? Apa maunya sampai harus menggangguku?” batin Tuan Prass berprasangka buruk pada wanita masa lalunya.
“Devina, dia anaknya Zera. Cih apa itu anak yang dulu?”
Laju mobil akhirnya kini berhenti di depan rumah milik Tuan Prass. Manik mata Aluna menatap sekeliling rumah dengan penuh tanya. Ia penasaran ada apa di rumahnya.
“Ayo, Sayang.” ajak Tuan Prass menggendong sang anak. Ia terpukul dengan kepergian sang istri. Namun, Tuan Prass benar-benar tak kuat jika membayangkan bagaimana sedihnya Aluna saat tahu ibunya tak ada lagi.
“Papah,” Suara polosnya membuat wajah Tuan Prass yang menatap ke depan kini menoleh ke sang putri.
“Kok banyak orang ngaji? Apa di rumah kita lagi ada pengajian?” tanyanya tanpa curiga sedikit pun.
Sayangnya Aluna tak mendapatkan jawaban apa pun dari sang papah. Hingga matanya menangkap tubuh seseorang yang berbaring di lantai dengan kain menutup tubuhnya.
__ADS_1
Wajah polos cantik itu mulai merasa ada yang aneh. Film horor seketika membuatnya ingat orang yang berpulang ke sang pencipta.
“Papah, hantu!” Teriak anak itu ketakutan dan memeluk leher Tuan Prass. Wajahnya ia benamkan di leher berbulu sang papah.
Air mata Tuan Prass jatuh saat itu juga. Ia tak perduli bagaimana sang anak yang ketakutan. Ia mendudukkan dirinya lalu membuka kain penutup sang istri.
“Mamah sudah pergi, Aluna.” ujarnya seketika membuat Aluna menoleh menatap sosok wanita yang ia cari siang tadi.
Mata ketakutan tadi berubah saat itu juga menjadi banjir air mata.
“Mamah!” Teriakan histeris membuatnya mendorong tubuh Tuan Prass dan menghambur memeluk tubuh Yulia yang berbaring.
“Aluna,” Tuan Prass turut memeluk tubuh mungil Aluna.
“Mamah kenapa, Papah? Mamah kenapa? Aluna nggak mau Mamah pergi! Aluna nggak mau!”
Malam itu pun menjadi malam yang paling menyedihkan untuk Aluna. Rasanya sungguh sulit menerima kenyataan jika wanita yang selalu menjadi tauladannya dengan kecantikan yang luar biasa harus pergi untuk selamanya.
Hingga pagi pun tiba, Aluna terbangun dari tidur singkatnya. Tampak wajanya sembab melihat wanita yang masih belum bangun juga.
“Mamah, Aluna tidur tungguin Mamah bangun. Mamah nggak mau bangun juga.” tangisnya setengah merengek. Bahkan anak itu mengusap-usap rambut panjang sang mamah.
“Sayang ayo segera bersiap. Mamah harus di solatkan dan di makamkan.” Wajah bersih Tuan Prass masih terlihat jelas sembab di sana.
Kemeja hitam, celana hitam, serta kupiah hitam membuatnya semakin gagah. Tak ada tangis lagi di wajah pria beranak satu itu.
“Papah, Aluna takut Mamah pergi. Takut Papah tinggalin Aluna juga.” ujarnya sedih.
Tuan Prass yang mendengar kekhawatiran sang anak menggeleng. Ia membawa Aluna ke dalam pelukannya.
__ADS_1
“Papah tidak akan tinggalkan Aluna sampai Aluna mendapatkan penjaga yang tepat. Papah akan selalu bersama Aluna.” ujarnya berjanji dan mereka pun akhirnya sampai di kamar sang anak.
Aluna mandi bersiap di bantu oleh pelayan. Sementara Tuan Prass ikut mempersiapkan semuanya di bawah.
Sebuah mobil mewah di halaman rumah Prass baru saja terparkir, daun pintu mobil pun terdengar di tutup kasar.
“Yulia!” Tangisan wanita paruh baya serta pria paruh baya yang tak lain adalah orangtua Yulia kini tiba di rumah duka.
“Papi, Mami,” Tuan Prass menyambut kedatangan sang mertua.
Ia memeluk dia mertuanya dengan air mata yang kembali jatuh.
Mereka pun akhirnya kini beranjak menuju pemakaman.
Menangis pun tak kan membuat Yulia bisa kembali. Menyesalpun tak membuat waktu terulang lagi.
Jarak tempat tinggal membuat mereka sangat jarang bertemu dengan sang anak.
Hingga kini tinggallah penyesalan yang mengantar kepergian Yulia ke tempat peristirahatan.
Hari itu benar-benar menjadi hari bersejarah di keluarga Tuan Prass Aditya. Usai pemakaman di laksanakan, kini rumah menjadi kembali sunyi.
“Katakan pada Mami dan Papi, Prass. Apa yang terjadi? Yulia tidak pernah ceroboh dalam berkendara. Apa benar tentang isu di berita itu?” Tuan Prass tertunduk takut.
Berita keributan di kantornya tiba-tiba tersebar luas usai hebohnya berita kecelakaan Yulia.
Banyak penggemar tak membuat prahara rumah tangga mereka hilang begitu saja. Banyak yang tiba-tiba jadi kepo saat seorang Yulia yang mereka kagumi meninggal.
“Ini semua salah saya, Mi.” Tuan Prass memilih jujur dan ingin memberitahu semuanya tentang masalalu dan kemungkinan terburuk jika masa lalunya yang menyebabkan pertengkaran mereka.
__ADS_1
Kening kedua orangtua Yulia mengernyit menunggu lanjutan ucapan Prass saat itu. Ketegangan terjadi di ruangan tersebut.
“Katakan semuanya! Jangan ada yang kamu tutupi, Prass. Yulia anak kami satu-satunya.” Kini sang Papi yang bersuara tegas. Dadanya terasa bergemuruh ingin marah. Tetapi ia memilih untuk mendengarkan lebih dulu penjelasan sang menantu.