
Sejenak pertemuan itu menjadi hening, Devina menatap dalam wajah Tuan Prass kemudian menatap gadis cilik di samping pria itu dan beralih pada sosok Alvaro yang menatapnya penuh teduh. Keras hati Devina yang dulu tak ada yang menyangka ternyata telah hilang entah kemana.
Helaan napas terdengar keluar usai susah payah Devina menarik napasnya dalam. "Sudahlah...semua sudah berlalu. Aku tidak ingin membahas itu lagi atau mengingatnya. Aku ingin menata semua kedepannya." Devina menunduk saat mengatakan itu pada sang papah.
Jujur saja rasa dendam yang ia pelihara sejak dulu tak ada lagi bersisa, yang ada hanya rasa sedih saat kehilangan sang ibu tanpa bisa meminta maaf di saat hari terakhirnya.
Meski sakit saat mengingatnya, namun Devina kembali kuat tiap kali Alvaro menggenggam tangan wanita itu dengan penuh ketulusan.
Tentu saja Tuan Prass yang mendengar ucapan sang anak sungguh tak menyangka, dan hal itu jauh dari luar dugaannya. Ia sedikit tersenyum dan menampakkan matanya yang merah menahan sedih.
"Apa Papah tidak salah mendengar? apa itu artinya kamu memaafkan Papah, Dev?" tanya Tuan Prass sangat bahagia menyebut kata papa pada wanita yang sudah tumbuh begitu dewasa itu.
__ADS_1
Biasa panggilan itu hanya untuk Aluna saja, namun saat ini ia mampu menyuarakan kata papa pada Devina. Anaknya yang cantik hidup tanpa ada sosoknya sampai dewasa.
Sementara Alvaro menghela napas lega mendengar ucapan Devina. Ia turut senang mendengar hal itu, sungguh ia sendiri pun tak menyangka Devina akan berucap demikian. Pasalnya Devina merupakan sosok gadis yang kerap kali bertutur kata pedas saat sedang emosi.
"Ya, semuanya sudah selesai saat ibu meninggal. Dan saat ini aku hanya ingin melihat ibu bahagia di atas sana tanpa menangisi kejadian di sini." tutur Devina lagi.
Secepat kilat Tuan Prass meraih tangan sebelah Devina yang berada di atas meja makan. Ia genggam dan tersenyum tanpa perduli ada setetes air mata yang jatuh.
Devina pun turut tersenyum lembut mendengarnya. Hijab yang ia kenakan nyatanya tak mampu menutup wajah ayu itu. Bahkan dengan hijab yang ia kenakan justru Devina tampak semakin cantik dan bersinar.
"Kakak..." Aluna berdiri lalu duduk di samping Devina. Ia menatap takjub wanita di sampingnya kini.
__ADS_1
"Iya, Aluna. Kamu senang punya kakak?" tanya Devina lembut.
Mendengar bagaimana tutur kata Devina yang lembut, membuat Alvaro dan Tuan Prass saling pandang dan tersenyum.
Hingga tanpa mereka ikut campur perbincangan, Aluna dan Devina akhirnya sangat akrab. Dan Alvaro akhirnya berkata dengan pikiran yang matang.
"Tuan Prass, ijinkan saya meminang Devina. Saya sudah cukup lama meyakinkan diri saya dan saya rasa ini adalah waktu yang tepat." Ungkapan tiba-tiba dari sosok Alvaro membuat Semua yang duduk di situ tercengang kaget.
Devina yang tertawa bersama Aluna menoleh sangat kaget. Syok rasanya ia mendengar ungkapan Alvaro tanpa mengatakan apa pun padanya.
Bibir Devina seolah beku tak bisa bergerak untuk sekedar berucap satu kata pun.
__ADS_1
Senyuman pun terbit di wajah Tuan Prass. Ia tahu ucapan Alvaro bukanlah ucapan yang hanya asal berbunyi saja.