Bismillah, Aku Berhijab

Bismillah, Aku Berhijab
Kabar Duka


__ADS_3

Senyuman tulus dan air mata di wajah Zera membuat tubuh Tuan Prass membeku seketika. Sungguh ia tak sanggup mendengar kebenaran ini semua. Matanya terpejam seakan menahan sakit yang amat terasa di dadanya kala itu. Prass sampai harus mengatupkan kedua bibirnya demi menahan suara tangis yang bercampur amarah itu.


"Maafkan aku, Prass. Aku mohon jaga dia untukku. Jadikan dia anak yang mencintai kedua orangtuanya. Aku sangat mencintai anak kita. Dialah yang selama ini menghujaniku dengan cinta seperti yang kau berikan dahulu. Aku mencintaimu, Prass." Belum sempat rasanya Prass menerima kenyataan masa lalu dari Zera, kini pria itu harus menerima kenyataan bahwa wanita di depannya telah menghembuskan napas terakhir kalinya.


"Tidak, Zera! Tidak. Aku tidak ingin kau bercanda." Prass tertawa setengah panik menggelengkan kepala ketika menyadari Zera telah menutup matanya tanpa ada gerakan pernapasan lagi.


"Zera! Dokter, tolong!" teriak Prass meminta pertolongan.


Suara gaduh di dalam ruangan membuat anak buah Alvaro ikut berhambur masuk memastikan apa yang terjadi.


Semua terbelalak kaget melihat Prass menangis dengan dua mata pasien yang tertutup rapat di sana. Segera salah satu dari mereka meminta pertolongan dokter.


Hingga akhirnya sang dokter datang dan memeriksa. Ia menggelengkan kepalanya. "Pasien sudah tak bernyawa lagi, Tuan." ujar sang dokter. Terlebih mereka semua mendengar alat pendeteksi jantung yang tak bersuara.

__ADS_1


"Zera! Apa-apaan ini? Kau belum membayar semua perpisahan kita, Zer." Tuan Prass sampai memeluk tubuh kurus itu yang terbaring tak bernyawa di atas brankar. Air mata pria itu tak hentinya berjatuhan.


Sungguh Tuan Prass benar-benar terpukul. Bagaimana mungkin dalam waktu yang berdekatan ia kehilangan wanita yang ia cintai. Sungguh, ini bukanlah hal yang mudah untuk pria itu. Terlebih ia mengetahui bagaimana kebenaran menyiksanya dahulu.


Pergi dengan hati yang hancur meninggalkan wanita yang sangat ia cintai dan perjuangkan karena masalah yang ternyata bersumber dari kedua orangtuanya yang telah tiada.


Di ruangan itu, Prass mendapat waktu untuk menangisi jenazah Zera. Ia tertunduk tak bisa berkata apa pun lagi. Bahkan ia tak sanggup memikirkan nama Devina. Apa yang Devina lakukan padanya setelah mengetahui sang ibu meninggal. Sedangkan ia masih berada di dalam penjara.


"Apa? Bu Zera  meninggal?" Alvaro sampai menjatuhkan bunga indah yang baru saja ia beli untuk di bawa ke rumah sakit. Sungguh pria itu sudah sangat nyaman dengan kehadiran Zera di hidupnya yang seperti seorang ibu. Sering memberinya nasihat.


"Iya, Tuan. Di sini ada Tuan Prass." Alvaro mengakhiri panggilan itu sepihak. Segera ia melajukan mobil tanpa perduli dengan bunga yang rontok di bawah jalanan itu.


Sepanjang perjalanan Alvaro berusaha menahan tangis. "Bu, kenapa kau harus pergi secepat ini? Bahkan aku belum mengurus keluarnya Devina dari penjara. Maafkan aku, Bu." sesal Alvaro merutuki keterlambatan tindakannya.

__ADS_1


Kala mengingat Devina, Alvaro seketika mengambil ponsel dan menghubungi pihak kantor polisi. Ia mengabari untuk Devina di berikan waktu untuk keluar melihat ibunya yang akan segera di kebumikan.


Setelah menempuh perjalanan sekitar hampir tiga puluh menit, kini Alvaro tiba di rumah sakit beserta dengan anak buahnya yang langsung menyambut kedatangan sang tuan.


"Masih di ruangan sebelumnya, Tuan. Di sana Tuan Prass masih menahan dan menangis saat jenazah hendak di bawa ke kamar jenazah untuk di persiapkan kepulangannya." terang salah satu anak buah.


Alvaro berjalan cepat dengan melemparkan jas mahalnya pada sang anak buah. Ia ingin bergerak bebas dengan kemeja biru mudanya bergaris putih itu.


Kepanikan yang Alvaro tak berbeda jauh dengan kepanikan di kantor polisi saat pihak kepolisian mengabarkan Devina, sang ibu telah tiada.


Tangisan meraung di ruang tahanan wanita itu membuatnya sulit di kendalikan. Devina menangis sangat terkejut mendengar kabar itu. Ia beberapa kali memukulkan kepalanya pada tembok ruangan itu. Tak perduli bagaimana darah mengucur di keningnya. Sakitnya benar-benar tak bisa hilang ketika mendengar sang ibu tiada lagi.


"Ibu! Ibu tidak boleh pergi!" ia menangis meski polisi sudah memapahnya yang lemah saat berjalan ke dalam mobil.

__ADS_1


__ADS_2