
Dua tubuh polos yang tampak saling menikmati dinginnya malam oleh pendingin kamar hotel itu kini saling bersahutan suara erotis.
Wanita cantik bertubuh indah bergerak di atas tubuh pria. Sangat jelas terdengar bagaimana puasnya suara pria tersebut.
Hingga beberapa saat akhirnya terdengar erangan panjang serta gerakan yang begitu kasar.
“Terimakasih, Sayang.” Ucapan terimakasih dan senyum di wajah pria itu kini menjadi penutup pekerjaan panjang Devina yang sangat melelahkan.
Sesuai janji, ini adalah kali terakhir permainan sebelum mereka akan tidur.
“Kamu lelah?” tanya pria itu yang merupakan pelanggan Devina malam ini.
Devina menggeleng. Ia tidak boleh mengeluh dan harus tetap tersenyum seolah kuat. Itulah kunci pekerjaannya akan terus laris.
“Kepuasan anda yang terpenting.” senyuman manis Devina sungguh memikat hati pria mana pun.
Bahkan rasa marah pada Devina karena terlambat datang ke hotel hilang seketika.
“Okey, sebaiknya kamu tidur. Kapan-kapan saya akan mencari kamu lagi. Ini permainan paling memuaskan sepanjang masa.” tutur pria itu memejamkan mata setelahnya.
Devina hanya tersenyum puas lalu ikut memejamkan mata.
Hingga tiba waktu pagi menyapa, seperti biasa Devina sudah siap dengan wajah cerahnya usai mandi.
__ADS_1
“Morning,” sapa pria itu bangun dari tidurnya dengan senyuman nakal, ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kasur sembari memperhatikan penampilan Devina yang sudah siap.
“Morning juga, Honey. Aku harus segera kembali. Adikku di rumah sakit pasti mencariku.” Devina duduk di samping pria itu sembari mengusap kepala sang pria.
“Oke,” Devina melihat pria itu meraih ponsel dan menggerakkan tangannya.
“Segini cukup?” tanyanya memperlihatkan angka 60 juta pada Devina.
Tanpa menolak atau berkata apa pun, Devina sudah menganggukkan kepalanya.
“Tulis rekeningmu,” pintahnya dan setelah itu notifikasi mbangking pun masuk ke ponsel Devina.
Sungguh pagi yang menyegarkan mata mendapat transfer sebesar itu. Ingin rasanya Devina berteriak girang. Namun, ia harus tetap bersikap elegan.
Belum sempat ia memejamkan mata di dalam taksi, sebuah chat tiba-tiba masuk.
“Selamat pagi, Devina.” Nomor yang baru pertama kalo menghubunginya namun sudah tertulis kontak nama di sana.
Senyum Devina terlukis di wajah wanita itu, tanpa menunggu lama ia pun membalasnya.
“Selamat pagi juga, Tuan Prass.” Terkirim.
Tanda centang dua biru segera terlihat di pokok kanan pesan itu.
__ADS_1
“Nanti malam bisakah menemaniku makan?” balasan dari Tuan Prass membuat Devin kembali membalas.
“Tentu saja, Tuan Prass. Anda orang terhormat bagaimana mungkin saya bisa menolak?” Hanya sebatas makan malam.
Yah, itulah yang Devina katakan. Jika bertemu pria yang tidak tahu pekerjaan Devina asli akan mendapat sebatas makan malam. Tapi, jika Devina sudah pernah melayani pria tersebut, ia akan melayani sepenuhnya.
“Baiklah. Sekertaris saya akan mengirim alamat padamu. Saya tunggu, Devina.” Pesan berbalas pun berakhir.
Kini Devina sudah tiba di rumah yang sunyi seperti biasa. Ia masuk lalu segera membersihkan diri dan menuju ke rumah sakit.
“Aku harus segera ke rumah sakit, Ibu pasti memikirkan aku.” batin Devina kemudian mengemasi barang bawaan.
Malam nanti adalah jadwalnya untuk bekerja bersama Tuan Prass, dan tentunya tidak akan memakan waktu lama.
Setelah selesai, ia pun kembali memesan taksi untuk menuju ke rumah sakit.
“Selamat pagi, Bu.” Sapaan hangat Devina sembari mencium punggung tangan sang ibu yang sudah bangun lebih dulu sepertinya.
“Dev, baru datang?” Suara lembut sang ibu membuat Devina mengangguk dan tersenyum.
“Devina sudah belikan Ibu sarapan. Kita sarapan bareng yah, Bu? Oh Ibu belum mandi, Devina mandikan Ibu dulu.” Perhatian Devina begitu dalam pada sang ibu.
Senyuman menghiasi wajah wanita paruh baya itu, rasanya sangat bahagia menyaksikan sikap hangat sang anak padanya. Devina adalah anak yang tidak pernah membantah sang ibu, kecuali karena satu hal. Yaitu sang ayah yang tidak bertanggung jawab itu.
__ADS_1