Bismillah, Aku Berhijab

Bismillah, Aku Berhijab
Penyesalan Tiada Akhir


__ADS_3

Suasana di kantor milik Tuan Prass mendadak tegang. Kala kehadiran wanita yang sangat jarang datang ke tempat itu tiba-tiba membuat pemilik perusahaan tersebut marah besar.


“Papah yang salah, kenapa Mamah yang di salahkan? Papah yang selingkuh.” Suara bernada tinggi milik Yulia membuatnya tiba-tiba semakin geram.


Tak suka di tuduh yang memang benar terjadi, Tuan Prass tanpa bisa mengendalikan emosi seketika menggebrak meja, di detik berikutnya tangan kekar itu menghambur semua berkas di atas meja kerjanya.


Tubuh emosi Yulia bergetar takut. Air matanya tak bisa ia hentikan lagi. Sungguh hari ini seperti mimpi buruk untuknya.


Pria yang sangat mencintainya kini berteriak dan kasar padanya. Ia beberapa kali menggeleng tak percaya dengan apa yang ia lihat.


“Pergi dari sini, Yulia! Pergi!!” Tuan Prass menunjuk ke arah pintu serta mata yang membulat penuh amarah.


Ia tidak ingin semakin kasar lagi, sebab itu ia memilih untuk menyuruh sang istri pergi.


Sungguh Yulia tak menyangka pernikahannya akan seperti ini jalannya. Ia mengusap air mata sembari menggeleng pelan. Pikirannya sangat kecewa.


Wanita bertubuh tinggi berparas cantik meski tak muda lagi itu berlari keluar dari ruang kerja sang suami. Ia berniat pulang untuk menenangkan diri.


Sepanjang perjalanan Yulia tak hentinya merutuki nasib pernikahannya saat ini.


“Tega kamu, Pah. Tega kamu sama aku. Malam ini anniversarry pernikahan kita. Kamu tega hancurkan ini semua.” Tanpa sadar kaki berkuku panjang di bawah sana sudah semakin menginjak gas mobil.


Pikirannya sangat kacau hatinya benar-benar hancur. Terlebih sang suami sama sekali tidak berniat menjelaskan apa pun padanya. Seolah semua tuduhannya benar tanpa bisa di elak lagi.


Tangisan yang mengeluarkan air mata sepertinya membuat pandangan Yulia memudar. Hingga tanpa sadar ia berteriak saat menyadari di depan kacanya sudah jelas terlihat kendaraan yang melaju dengan kecepatan tinggi melintas.


“Aaaaaaaa!!” Teriakan menggema di dalam mobil bersaman ia menabrak sebuah truk bermuatan mobil di depannya.


Lampu lalu lintas pun masih tampak menyala warna merah. Yah, Yulia tak memperhatikan lampu lalu lintas yang menyala.


Tabrakan terjadi hingga membuat mobil Yulia hancur bagian depan. Dan beberapa mobil baru yang di muat kendaraan di depan juga ikut rusak.


Kejadian tersebut dengan cepat terdengar oleh seorang pria yang tengah duduk memijat kepalanya.

__ADS_1


“Apa?” Tuan Prass tampak membulatkan matanya. Dadanya bergemuruh mendengar kabar mengejutkan barusan.


Wajah putih itu berubah merah seketika.


“Yulia, tidak! Tidak, Yulia.” Segera ia meminta sang supir mengantarnya ke rumah sakit terdekat dari arah kecelakaan. Karena ia tidak ingin jika sampai terjadi sesuatu dengan dirinya yang panik.


Bagaimana pun dirinya pada Devina, tetap saja. Yulia adalah wanita satu-satunya yang paling ia utamakan.


“Tidak, Yulia. Jangan tinggalkan aku. Aku tidak ingin kau pergi. Aku tidak benar-benar menceraikan kamu, Yulia. Maafkan aku.” Sungguh rasa bersalah memenuhi kepala Tuan Prass siang itu.


Belum usai amarahnya pada sang istri, kini ia mendengar kabar yang sangat menakutkan.


Sepanjang jalan, Tuan Prass terus saja mengusap wajahnya kasar sesekali ia mengusap air mata yang tanpa sadar terjatuh di kedua pipinya. Ada ketakukan yang teramat besar di sana.


“Tuhan, aku sudah salah berniat menduakan istriku. Tapi aku benar-benar tak berniat menggantikannya.”


Sepanjang perjalanan, tanpa sadar Tuan Prass habiskan dengan menangis dan menyesal. Hingga kini mobil pun tiba di salah satu rumah sakit yang sudah di sebutkan oleh pihak rumah sakit.


Langkahnya mengikuti salah satu suster.


“Di dalam istri anda sedang di periksa, Tuan.” ucap sang suster menunjuk ruangan yang tertutup.


Tuan Pras mondar mandi menunggu dan akhirnya sang dokter keluar juga.


Bisa Tuan Prass lijat jelas bagaimana ekspresi dokter yang keluar menemuinya itu. Rasa takut semakin besar kala melihat hal itu.


“Dok, ada apa? Istri saya baik-baik saja kan, Dok?” tanya Tuan Prass tak sabar.


Dokter menggelengkan kepalanya. “Tuan, istri anda tidak bisa kami selamatkan. Lukanya cukup parah. Bahkan bagian kepala sudah hampir tidak utuh karena benturan keras.” Lutut kuat Tuan Prass seakan ingin runtuh mendengar penjelasan sang dokter.


Ia menodorong dokter dan berlari masuk. Rasanya tak percaya dengan apa yang ia dengar.


“Mah, Mamah bangun, Mah! Yulia!!!” Tangisan histeris menggema di ruangan. Mata pria itu jelas melihat bagaimana parahnya luka di kepala sang istri.

__ADS_1


Kening yang retak bahkan mengeluarkan darah tanpa henti di bagian retakan itu. Sungguh rasanya ia tak sanggup melihat wajah cantik istrinya berubah menjadi menakutkan.


Tuan Prass menggelengkan kepalanya tak percaya. “Tidak! Ini tidak mungkin! Yulia bangun aku mohon.” Ia memeluknya sangat erat, beberapa kali Tuan Prass menggenggam tangan sang istri.


Sayang, sekeras apa pun ia berteriak. Sebesar apa pun ia menyesali semuanya. Tidak akan merubah keadaan. Istrinya tak akan kembali.


Di saat ia menangis, Tuan Prass mengingat sesuatu. Ia buru-buru mengusap wajahnya kasar dan melihat jam di tangannya.


“Aluna,” tuturnya kala menyadari sang anak yang tidak ada.


Buru-buru pria itu meminta sang pelayan untuk menjemput anaknya. Atau siapa pun yang ada di rumah.


“Baik, Tuan.” sahut pelayan dengan segera.


Mata milik Tuan Prass tak habis-habisnya mengeluarkan air mata.


“Kenapa Yulia? Kenapa kau benar-benar pergi. Aku hanya memalsukan perceraian kita. Aku tidak sungguh-sungguh memintamu pergi.” Kini ia hanya bisa menunduk meratapi semua penyesalannya.


Andai waktu bisa di ulang kembali, Tuan Prass tidak ingin berpaling. Ia sungguh tidak berniat serius dengan Devina.


Saat keadaan hening ketika Tuan Prass menggenggam tangan sang istri. Tiba-tiba terdengar suara dering ponsel.


“Halo,” Suara serak Tuan Prass menyapa.


“Tuan, Nona Aluna sudah pulang dari tadi kata pak security. Di jemput perempuan agak tua. Katanya adiknya Tuan.”


Semakin kacau pikiran Tuan Prass kala mendengar hal itu. Matanya sampai membulat sempurna. Ini nyata bukan sesuatu yang baik.


“Tidak, Bi. Saya tidak punya adik. Itu pasti penculik!” Tuan Prass berteriak ketakutan. Wajahnya mendadak pucat.


“Aluna! Tidak, Aluna jangan tinggalkan Papah juga.”


Tanpa sadar Tuan Prass mematikan panggilan sepihak. Tangannya yang bergetar susah payah ia kendalikan untuk mencari kontak polisi yang ia kenal.

__ADS_1


__ADS_2