
“Perempuan ini sudah membuat rumah tanggaku hancur. Tunggu pembalasanku, Devina. Aku tidak akan mengampunimu.” ucap Tuan Prass bergegas pergi tanpa perduli dengan dekorasi romantis yang membuat hatinya semakin sakit itu.
Pria tampan itu melajukan kembali mobil menuju rumah di mana sang istri tertidur untuk selamanya.
“Aluna, dimana kamu, Nak. Tidak mungkin Papah memakamkan Mamah kamu sementara kamu belum melihat Mamah kamu.” Seluruh hati Prass hancur di saat yang bersamaan. Ia benar-benar tak berdaya saat ini.
Andai saja tubuhnya bisa di bagi dua. Ia sudah melakukan hal itu. Mencari anaknya sendiri dan menunggu sang istri di rumah untuk terakhir kalinya.
Sayang, itu semua tidak mungkin ia lakukan.
Kendaraan roda empat yang ia lajukan tiba-tiba pelan saat Tuan Prass mendengar suara panggilan di ponsel miliknya.
Keningnya mengernyit dan mata yang berair itu segera ia usap kasar. Rasanya benar-benar membuatnya penasaran. Segera ia menepikan mobil kemudian mengangkat telepon.
“Bagaimana, Pak? Anak saya ketemu?” tanyanya antusias tak sabaran.
Suara di seberang sana membuat Tuan Prass mengeratkan rahangnya penuh amarah. Tanpa suara lagi ia pun melajukan kendaraan roda empat itu dengan sangat laju.
Seperti yang pihak kepolisian katakan padanya. Jika pelaku sudah di amankan. Bagaimana tak semakin marah kala Tuan Prass mendengar jika yang menculik anaknya adalah orang yang sangat ia kenal.
Flashback on
“Bu, ayo tidur.” ajak Devina tersenyum bahagia.
Ia bahagia saat membayangkan bagaimana nasib pria yang sudah menelantarkannya dan sang ibu saat ini.
“Anak ibu kenapa? Apa baik-baik saja? Sepertinya ibu tahu apa yang membuatmu bahagia seperti ini.” Devina seketika menghilangkan senyum di wajah cantiknya mendengar penuturan sang ibu.
Ia takut jika sampai ibunya tahu kejahatan yang sudah ia lakukan di luar sana. Bagaimana pun sakitnya Zera, ia tidak pernah setuju jika Devina membalaskan sakit mereka pada pria yang pernah sangat ia cintai.
“Ibu tahu?” tanya Devina penasaran.
Zera mengangguk. “Alvaro kan alasannya? Dia sangat baik. Ibu benar-benar sangat bahagia kamu sama dia, Dev.” sahut Zera membuat Devina jadi ingat pria tampan yang selalu memberi perhatian pada ibunya.
“Hehe sudahlah, Bu. Ayo kita tidur.” ajak Devina enggan berkomentar.
Ia sendiri bingung harus menyikapi seperti apa. Takut jika sang ibu akan kecewa dan banyak pikiran lagi.
Hingga akhirnya mereka di kejutkan oleh ketukan pintu di luar ruangan itu.
__ADS_1
“Permisi, atas nama Nona Devina Shanika. Anda kami tangkap atas laporan penculikan anak di bawah umur.” Senyuman bahagia di wajah yang tak kencang lagi milik Zera seketika hilang berganti ekspresi syok.
“Bu, tenanglah.” Devina bukan takut dengan polisi, justru ia sangat takut saat melihat sang ibu sudah memegang kepalanya yang mendadak pusing.
“Devina, apa ini?” tanya Zera tidak percaya jika sang anak melakukan hal itu.
“Pak, kita bisa bicara. Tolong biarkan saya menemani ibu saya dulu.” Mohon Devina sayangnya hal itu langsung di tolak seketika.
“Kita bisa bicarakan di kantor. Anda ikut kami.”
Devina di bawa pria berseragam itu keluar ruangan. Bahkan Devina menangis melihat sang ibu yang sudah mencabut paksa infus di tangannya. Darah yang mengalir tak ia perdulikan. Ia berlari mengejar sang anak.
Flashback off
Dan di sinilah mereka berada.
“Pak, apa salah anak saya?” Wanita yang sangat lemah itu terpaksa keluar dari rumah sakit saat menyaksikan sang anak yang di bawa paksa pihak kepolisian.
“Anak anda menculik anak sekolah dasar dan menitipkannya pada sepasang suami istri yang sudah di bayar.” terang polisi itu pada Zera yang wajahnya begitu pucat.
“Bu, Devina mohon ibu kembali ke rumah sakit, Bu.” Air mata Devina menetes sangat tidak tega melihat ibunya keluar dengan keadaan sangat lemah. Terlebih ini masalah yang bisa membuat wanita paruh baya itu semakin drop.
“Pak, apa benar anak saya pelakunya? Kami orang miskin, Pak. Anak saya tidak mampu mengeluarkan uang untuk hal itu.” Zera beralih menatap Devina yang juga akan bersiap di introgasi.
“Dev, ini tidak benar kan, Nak? Untuk apa kau menculik anak orang? Ini salah kan?” Zera bertanya sangat menekan Devina.
Belum usai percakapan keduanya, kini seorang pria gagah dengan wajah kacau datang lalu berteriak.
“Dimana orangnya? Dimana penculik sialan itu? Akan ku habisi dia!” Tuan Prass mengamuk tanpa bisa menahan amarahnya. Tak perduli dengan kecantikan Devina yang menggoda hasratnya. Anak dan istrinya jauh lebih berharga menurut Tuan Prass.
Ia takkan mengampuni Devina kali ini.
“Harap tenang, Tuan. Pelaku sedang kami introgasi bersama ibunya.” ujar pak polisi menahan tubuh tinggi tegap Tuan Prass.
“Ibu? Sial perempuan tidak tahu mendidik anak.” umpatnya semakin geram saja.
Ia pun melangkah memasuki ruangan dan berteriak lagi.
“Mana kau pembunuh?” Sontak teriakan menggelegar itu membuat semua yang di ruangan menoleh.
__ADS_1
Pandangan mata yang sendu kini beralih pada pria yang membuat jantungnya terhenti saat itu juga. Tubuhnya gemetar menahan sakit di dada. Air matanya pun jatuh.
“Prass,” lirihnya bergetar.
Sedangkan Devina menukikkan alisnya tajam sebelah. “Cih, pria itu.” ujarnya tanpa rasa bersalah.
“Papah!” Aluna berteriak berlari memeluk Tuan Prass yang tiba-tiba mematung tanpa suara.
Pelukan tangan mungil di kaki jenjangnya tak membuat pria itu sadar.
Kini terjawab sudah pertanyaan Zera pada sang anak. Kebenaran atas penculikan dan apa sebabnya.
Zera menggelengkan kepala tak percaya rasanya jika benar Devina melakukan apa yang ia inginkan sejak lama.
“Devina, kau melakukannya, Nak?” Zera kecewa menatap sang anak yang terdiam melihat betapa marahnya sang ibu.
“Bu, dia pantas mendapatkan semuanya.” elak Devina lagi tanpa mau merendah.
Dendamnya pada sang ayah sudah mendarah daging.
“Maafkan anakku, Tuan Prass. Saya mohon jangan penjarakan anakku. Saya mohon.” Sungguh di luar dugaan.
Devina menggeleng tak percaya melihat bagaiman sang ibu berusaha menyelamatkan dirinya dari jeruji besi yang siap mengurungnya itu.
Bahkan Tuan Prass menunduk melihat Zera sudah berlutut di depannya sembari menangkupkan kedua tangan mohon ampun.
Air mata Tuan Prass jatuh.
“Bu, berdirilah. Ayo! Dia tidak pantas mendapatkan semuanya. Ibu tidak pantas memohon pada manusia berjiwa iblis ini!” Tunjuk Devina mantap pada Tuan Prass.
Setelah cukup lama mematung, kini Tuan Prass sadar jika semua yang terjadi bukan penculikan semata. Ada masa lalu yang menjadi pemicunya.
“Zera, apa dia…” sungguh rasanya Tuan Prass tak sanggup melanjutkan ucapannya saat ingin bertanya sosok Devina yang terus memangil Zera dengan sebutan ibu.
Zera menangis tersedu, ia sungguh sakit mengingat kembali luka lama serta perbuatan sang anak yang membuat harga dirinya sebagai seorang ibu terasa di jatuhkan.
“Sekarang anda puas? Meninggalkan kami, kau pria tidak bertanggung jawab Prass. Kau membuat ibuku menderita. Kau pantas menerima semua ini. Dan wanita itu pantas meninggalkan pria sepertimu.” Suara lantang Devina membuat ingatan Tuan Prass kembali pada Yulia.
Rasanya malam ini ia benar-benar bingung. Masalah di kantor polisi membuatnya pusing dan kaget. Sementara saat ini ia harus membawa Aluna pada sang istri di rumah.
__ADS_1