
Kini di ruangan jenazah Alvaro baru saja tiba, matanya dengan jelas melihat bagaimana sedihnya Tuan Prass melihat jenazah wanita yang ia sudah anggap seperti ibunya.
"Bu Zera..." lirih Alvaro melangkah pelan mendekati brankar itu. Air matanya jatuh kala kesedihan terasa jelas di dadanya.
Meski belum mengenal cukup lama, Alvaro sudah sangat nyaman bersama wanita paruh baya itu. Ia begitu merasakan kasih sayang dan kepercayaan dari Zera selama ini. Terlebih Alvaro ingat bagaimana Devina sangat memohon padanya untuk memastikan sang ibu baik-baik saja sampai ia keluar.
"Apa yang terjadi, Tuan Prass?" tanya Alvaro dingin menatap pria di depannya kini.
Sedikit banyak ia tahu jika Tuan Prass adalah pria masa lalu wanita yang sudah tiada kini. Namun, ia sadar dirinya hanyalah orang asing yang tidak boleh terlalu ikut campur masalah orang lain. Terlebih itu hanya masa lalu.
Tuan Prass mengerjapkan matanya yang membengkak akibat menangis. "Zera hanya mengatakan semua kebenaran, aku tidak tahu jika akan pergi seperti ini. Bahkan kedatanganku kesini untuk mencari tahu bagaimana bisa Devina adalah anakku?" jawab Tuan Prass membuat bola mata Alvaro membulat sempurna.
__ADS_1
Sedih di wajahnya berubah menjadi syok kala mendengar pengakuan Tuan Prass barusan. Ia meneguk kasar salivahnya lalu kembali bertanya. "Apakah hasil DNA itu sudah keluar?" tanya Alvaro memastikan.
Dan Tuan Prass mengangguk pelan. "Zera menyembunyikan hal besar dariku. Aku telah salah paham selama ini padanya." Tangis Tuan Prass semakin jadi. Seakan tangisan itu yang bisa melepaskan penyesalan terbesarnya.
"Tuan, alangkah baiknya anda meminta orang anda untuk mencabut gugatan pada Devina. Saya rasa itu akan lebih baik." saran Alvaro pun seketika membuat Tuan Prass teringat dengan sang anak yang hampir menjadi teman patner ranjangnya itu.
"Iya, kau benar." Tuan Prass tak banyak berkata hanya mengirim pesan pada orangnya. Alvaro melihat itu semua. Ia mengusap air matanya kala menatap wajah pucat nan cantik milik Zera.
Kini tak ada lagi wajah pucat yang menunggu kejutan-kejutan darinya setiap hari. Entah itu buket bunga mau pun kue-kue terenak yang Alvaro kirimkan atau bawakan ke rumah sakit.
Hingga akhirnya tangisan pecah dari arah luar membuat lamunan Alvaro buyar seketika. "Ibu!" teriak Devina berlari menghempaskan tangannya yang genggam kedua anggota polisi yang mengawal sejak dari kantor polisi tadi.
__ADS_1
Devina menangis tanpa perduli darah yang masih keluar di keningnya kala itu. Yang ia lakukan hanya memeluk dan membangunkan sang ibu.
"Ibu, Vina mohon bangun, Bu. Devina janji akan melakukan semua yang ibu minta. Devina mohon, Bu. Bangunlah, kita akan bersama. Vina tidak akan melakukan kesalahan lagi, Bu. Ayo bu bangun." Ia menciumi seluruh wajah sang ibu.
Berharap sang ibu akan merasa geli dan membuka matanya. Namun semua yang Devina lakukan nyatanya tak ada yang bisa merubah keadaan. Alvaro sangat sedih melihat wajah Devina saat ini. Hingga ia merasa tak sanggup lagi dan segera memegang kedua bahu Devina.
"Dev," panggilnya membalik tubuh rapuh Devina.
Devina sudah tak karuan lagi wajahnya. Kecantikan yang selalu ia perlihatkan kini tertutup dengan rambut acaknya dan darah di dahinya.
"Ibu sudah pergi, jangan membuatnya sedih." Pelan Alvaro membawa Devina ke dalam pelukannya yang juga tak kalah sedih itu.
__ADS_1