Bismillah, Aku Berhijab

Bismillah, Aku Berhijab
Rencana Tuan Prass


__ADS_3

Malam itu di lorong rumah sakit, tampak dua pasang kaki berjalan beriringan. Suara hentakan sepatu dan lantai tak membuat fokus para pekerja rumah sakit tertuju pada mereka.


Devina sudah tak asing lagi bagi sebagian tenaga medis di rumah sakit tersebut. Sering kali wanita itu bolak balik ke rumah sakit semenjak sang ibu sakit-sakitan.


“Malam, Mba Dev.” Sapaan hangat suster yang sering bertemu Devina membuat sosok pria di samping Devina mengernyitkan keningnya.


“Malam juga, Sus.” sahut Devina lebih ramah.


Kini akhirnya keduanya pun tiba di ruangan yang tidak luas. Jauh dari kata nyaman. Karena ruangan itu adalah ruangan gabungan.


“Bu, Devina datang.” Ia bersuara usai menutup pintu ruangan dengan sangat pelan.


Kedatangan Devina di sambut senyuman oleh Zera.


“Baru saja Ibu memikirkan kamu, Dev. Katanya hanya sebentar tapi tidak pulang-pulang juga.” Devina mengusap punggung tangan sang ibu mendengar penuturan wanita di depannya.


Ia tahu bagaimana rasa khawatir yang selalu ibunya rasakan.


“Perkenalkan, Bu. Ini Tuan Alvaro. Teman Devina.” Ia mengenalkan pria yang baru saja menolongnya itu.


Alvaro yang berwajah datar kini sedikit tersenyum. “Saya Alvaro, Bu. Salam kenal.” Sapanya lebih dulu.


Zera berkedip pelan kemudian tersenyum. “Kalian sangat serasi. Ibu senang, Dev. Harapan Ibu kalian bukan sekedar berteman. Tapi menikah.”


Wajah Devina yang hangat tiba-tiba saling bertatapan bingung dengan Alvaro yang tak kalah terkejutnya.


Sungguh ini salah paham. Bagaimana Devina tidak malu dengan Alvaro. Pertemuan pertama dengan sang ibu, justru menimbulkan salah paham.

__ADS_1


“Bu, bu-“


“Semoga saja, Bu. Doakan saja yang terbaik. Asal Ibu harus segera sembuh.” Alvaro tidak tega melihat wajah penuh harap wanita paruh baya di depannya. Sedangkan Devina sudah mendelik.


Apa Alvaro tidak sadar jika ucapannya bisa saja berujung harapan yang mengecewakan sang ibu? Ia tidak ingin hal itu terjadi.


“Tuan,”


“Dev, sudah malam. Saya harus segera pergi. Nanti setelah ada waktu luang lagi. Saya akan berkunjung.” Alvaro pun pamit undur diri oleh Zera.


Sedangkan Devina keluar ruangan untuk mengantar kepergian Alvaro.


“Tuan, apa yang anda lakukan?” pekik Devina sangat kesal.


Alvaro menatap Devina tenang. “Beri ibu semangat jika kau benar ingin beliau sembuh. Pengobatan rumah sakit saja tidak akan cukup tanpa ketenangan yang ia dapatkan.” Diamnya Devina menjadi waktu bagi Alvaro pergi.


Pria itu melangkah pergi tanpa perduli wajah bingung Devina yang terbengong di depan pintu.


Lalu setelahnya, Devina masuk kembali ke ruang rawat sang ibu. Ia membersihkan diri kemudian ikut menyusul tidur di samping Zera. Tidur bersama dalam satu ranjang yang mini. Tak membuat mereka mengeluh.


***


“Pah, apa yang terjadi?” Di sini seorang wanita yang berhasil melacak keberadaan sang suami setelah gelisah menunggu Tuan Prass yang tak kunjung pulang.


“Pah, bangun! Papah kita pulang.” Dengan susah payah Yulia membopong tubuh sang suami yang mabuk itu.


Rasanya cukup lega setelah mendapati sang suami seorang diri di kamar hotel. Bahkan tak ada jejak sedikitpun yang mencurigakan.

__ADS_1


“Hanya melepas baju sepertinya itu hal biasa. Syukurlah, semoga tidak ada apa-apa.” Yulia membawa pulang sang suami di bantu dengan supir.


Sesampainya di rumah, ia membawa Tuan Prass masuk ke dalam kamar. Kekesalannya kini memudar kala tak mendapatkan hal yang mencurigakan. Hingga malam itu ia putuskan untuk tidur bersama sang suami dengan lelap.


Tanpa terasa pagi sudah kembali menyapa. Rasa pusing di kepala tiba-tiba membuat sosok pria mengeluh.


“Ah kenapa pusing sekali?” ucapnya lirih.


Gerakan tubuh di samping membuat Yulia terusik dari tidurnya.


“Jadi ini alasannya Mamah nggak boleh ikut semalam? Hah! Papah itu sudah bikin cemas tau?” Belum saja Tuan Prass sadar sepenuhnya, omelan sang istri sudah lebih dulu menyambar padanya.


“Mah, apa sih bangun-bangun ngomel.” kilahnya tak ingin berdebat.


Sejanak Tuan Prass teringat kejadian semalam. “Devina,” batinnya.


“Wanita itu benar-benar membuat jantungku berdebar-debar. Aku merasa beda dengannya.” lanjutnya bermonolog dalam hati.


“Pah! Papah!” Suara bawel berisik membuat Tuan Prass membuyarkan lamuannya.


“Siapa Devina?” pertanyaan itu lolos saat tanpa sadar gumaman sang suami terdengar olehnya.


Tuan Prass kesal, ia tak terima di intimidasi sang istri.


“Apasih? Sudah Papah mau mandi. Ada-ada saja yang di ributkan.” Ia meninggalkan Yulia di atas tempat tidur dengan dada yang bergemuruh.


Tak perduli bagaimana kesalnya sang istri, di kamar mandi justru Tuan Prass memikirkan berbagai macam cara untuk bertemu kembali dan memiliki Devina seutuhnya.

__ADS_1


“Jika di ganti dengan Devina, sepertinya akan jauh lebih menarik. Aku suka wanita itu.” Seringai jahat tampak di wajah pria tampan itu.


Berawal poligami kini justru jiwa kerakusannya beralih untuk mengganti sosok Yulia.


__ADS_2