Bismillah, Aku Berhijab

Bismillah, Aku Berhijab
Perlahan Hancur


__ADS_3

Satu minggu menjadi waktu untuk Tuan Prass memenuhi permintaan Devina. Tampak pria itu menyerahkan bukti berkas perceraian serta data kepemilikan saham untuk Devina.


“Kamu pikir saya sebodoh itu, Devina?” batin Tuan Prass tersenyum menyeringai. Matanya memperhatikan ekspresi di wajah Devina yang datar.


“Cih, dia pikir aku akan percaya begitu saja dengan pria hidung belang ini? Tidak akan Tuan Prass. Jam terbangku sudah jauh. Kau sudah berani bermain-main denganku. Baiklah akan ku tunjukkan diriku yang sebenarnya.” Senyuman jahat Devina sembunyikan dalam hatinya.


Saling menipu, itulah yang sama-sama mereka lakukan.


“Bagaimana, Devina? Semua sudah saya lengkapi. Kapan kita bisa menikah?” pertanyaan itu menghentikan aktifitas Devina yang membuka dan membaca lembaran demi lembaran di depannya.


Devina beralih menatap Tuan Prass. Sungguh kebencian semakin besar di hati wanita itu saat ini.


“Beri saya waktu satu bulan untuk mempersiapkan diri saya. Pernikahan adalah hal yang tidak pernah terpikirkan oleh saya. Maka dari itu saya ingin menenangkan diri dulu.” ujarnya penuh rencana.


Hingga pertemuan malam itu pun berakhir dengan wajah kecewa Tuan Prass. Jarak yang ia dekatkan nyatanya Devina tolak saat bibir keduanya hampir bertemu.


“Saya permisi, Tuan. Di pertemuan berikutnya mungkin kita akan melakukannya.” janji Devina.


***


Siapa sangka jika malam itu Devina sudah menjalankan sebuah rencana yang tak di ketahui Tuan Prass.

__ADS_1


“Pah! Papah! Ini apa? Papa selingkuh? Apa ini sebabnya Papah selalu pergi sendiri sekarang?” Amukan Yulia membuat Tuan Prass mengernyit heran.


“Yulia, apa-apaan ini? Sejak kapan kau bersuara tinggi seperti ini pada saya?” Tuan Prass balik bersuara tinggi.


Kekesalannya karena tak mendapat jatah bibir dari Devina, kini bertambah dengan kekesalan sang istri padanya. Sungguh, kepalanya ingin pecah.


Pekerjaan di kantor yang sangat padat membuat pria tampan itu ingin merilekskan pikirannya.


“Ini jelas-jelas parfum wanita. Papah katakan dengan jujur! Siapa selingkuhan Papah!” Teriaknya setengan gemetar menahan sesak di dadanya.


Bahkan untuk pertama kalinya Yulia meneteskan air mata.


“Mah, ini bukan apa-apa. Papah tidak tahu soal parfum. Papah tidak bertemu siapa pun.” Sejenak Tuan Prass berpikir, namun hanya satu wanita yang ia temui, yaitu Devina.


Dan sejak malam itu keharmonisan dalam rumah tangga Tuan Prass perlahan-lahan retak.


Pagi hari di sebuah restaurant ternama, tampak para wanita sosialita berkumpul dengan kumpulan berlian di meja yang menjadi pusat perhatian.


“Wah pada fresh-fresh nih. Pasti dompetnya tebal semua yah? Ciri-ciri laris dong berlian saya.” tutur salah satu wanita yang ikut bergabung. Dia adalah pembisnis berlian itu.


Tawa semuanya terdengar heboh, namun tidak dengan Yulia yang mengernyitkan kening saat mendengar ponselnya berdering tanda pesan masuk.

__ADS_1


“Nomor baru? Apa yang dia kirim ini?” gumamnya menekan layar ponsel tanda mengunduh gambar di sana.


Foto seorang pria yang sangat familiar di matanya, serta seorang wanita yang sangat dekat seolah keduanya sedang berciuman. Yah hanya bagian belakang wanita itu saja yang terfoto.


“Papah?” Yulia tak kuasa menahan tangannya yang bergetar. Bahkan matanya sudah memanas menahan air mata yang hendak jatuh.


“Yulia, ada apa? Ini loh pasti cocok sama kamu. Desain terbaru dan limited edition.” seru wanita pemilik berlian itu.


Tanpa basa basi lagi, Yulia bahkan menghempaskan berlian itu dan berlari keluar restaurant.


Beberapa kali tangannya mengusap air mata di pipi yang sudah basah.


Dering ponsel miliknya terus terdengar namun tak ia hiraukan. Yulia memilih melajukan mobil miliknya dengan kecepatan tinggi.


“Tega kamu, Pah. Tega kamu seperti ini di saat malam ini adalah anniversary pernikahan kita?” ujarnya mengutuk suami yang sangat ia cintai.


Laju mobil itu kini menuju ke arah kantor sang suami. Ia tak akan tinggal diam lagi. Selama ini kepercayaannya pada Tuan Prass sangat besar hingga tak pernah sekali pun wanita itu menuju kantor sang suami.


Atas mama keprofesionalan kerja, Tuan Prass ingin memberi contoh yang baik untuk bawahannya.


Sedangkan di sini, sosok anak remaja dengan seragam sekolah dasar tampak celingak celinguk menatap ke arah jalanan sekolah. Semua teman-temannya sudah di jemput.

__ADS_1


“Mamah kemana sih? Katanya mau jemput? Kok di telepon nggak di angkat-angkat? Coba Pak Supir nggak sakit kan sudah sampai di rumah.” Anak dari pasangan Yulia dan Prass kini seorang diri tanpa ia tahu dari sudut lain ada sepasang mata sedang mengintai dirinya.


Tak lama setelah itu, tampak seorang wanita paruh baya datang dengan wajah yang tersenyum.


__ADS_2