
Melihat keadaan yang tidak kondusif, seorang polisi bersuara.
"Jangan membuat keributan di sini, Bapak, Ibu. Silahkan di bicarakan baik-baik."
Tuan Prass dan Alvaro sama-sama menganggukkan kepala mereka. Terlihat jelas amarah yang memuncak di wajah sang mami. Tuan Prass tahu itu adalah hal yang wajar mengingat mereka adalah orangtua Yulia yang anaknya kini sudah tak ada.
Namun, rasanya tidak memungkinkan jika ia membicarakan semuanya dengan Zera di depan mereka. Akhirnya Tuan Prass mengambil keputusan untuk mengajak Zera berbicara bersama dulu.
"Bisa kita bicara sebentar?" tanyanya dengan tatapan yang begitu membuat Zera sadar dirinya memang tidak ada di hati pria itu sedikit pun.
Zera hanya bisa mengangguk usai tangannya mengusap air mata itu. Tuan Prass pamit dengan kedua mertuanya.
"Mami, Papi, biar saya bicara dengannya dulu. Setelah itu baru kita bicara bersama." Tanpa ada anggukan dari kedua mertua, ia bergegas meninggalkan tempat itu di ikuti dengan Zera.
Di sinilah mereka saat ini. Ruangan lorong yang tersedia kursi dan keadaan lumayan sepi.
Zera hanya duduk menunduk, matanya sama sekali tidak ingin menatap wajah pria di depannya yang juga duduk dengan tatapan menusuk hatinya.
"Aku tidak pernah menghianatimu bahkan menyakitimu. Mengapa harus datang lagi, Zera? Apa tidak cukup dengan pernikahan yang ku lakukan saat itu? Apa kau masih belum puas membuat hidupku sakit?" pertanyaan dari bibir Prass akhirnya terdengar juga.
__ADS_1
Sungguh dada Zera sangat sesak mendengarnya. Bertahun-tahun mereka pisah nyatanya kesalah pahaman itu masih belum juga usai. Sungguh, ini yang membuat Zera tidak ingin membiarkan Devina mengetahui siapa sang ayah yang sebenarnya. Ia tahu, bagaimana pun kekehnya Devina berkata, Prass tidak akan percaya dan mengakui ia anaknya.
Namun, keadaan ini sangat membuatnya terdesak harus membuka mata dan pikiran Prass.
"Sungguh aku sangat tidak menginginkan pertemuan ini, Tuan Prass. Sampai mati pun aku tidak pernah menginginkan hari ini terjadi..." ia menangis terisak sebelum melanjutkan ucapannya.
Namun, suara amarah Prass nyatanya memotong semua kata yang Zera susun dalam pikirannya. "Tidak ingin bertemu? Tidak menginkan hari ini terjadi? Apa dengan kata itu kau membuatku percaya, Zera? Kau sudah menghancurkan keluargaku. Istri yang sangat ku cintai meninggal! Kau masih ingin katakan tidak menginginkan hari ini terjadi? Apa yang kau inginkan dariku?" mata amarah Prass berubah merah menahan sakit hatinya.
Ia benar-benar marah jika ada yang berani mengusik keluarganya.
Zera semakin terisak. Apakah ia mampu membuat pria di depannya ini percaya dengan apa yang ia katakan nanti? tidak. Bagaimana pun ia harus meyakinkan Prass.
"Aku sungguh tidak pernah ingin melihatmu bahkan mendengar namamu. Tapi dia..." tunjuk Zera pada arah tempat Devina di tahan.
Sayang, tubuhnya kian melemah. Ia hanya mampu berucap dengan lirih.
"Cih! Membawa nama anak? Jangan kau pikir aku lupa dengan hal itu, Zera. Hal yang sangat menyakitkan untukku. Oh aku tahu, apa kau memanfaatkannya untuk membalas semuanya agar aku tidak akan marah padamu dan memaafkan anak itu. Lalu apa rencanamu setelah itu? apa rencanamu setelah keluargaku hancur, Zera?" Tuan Prass tak lagi berteriak.
Ia berkata sembari menunduk sedih.
__ADS_1
Cinta yang dulu sangat ia perjuangkan nyatanya hal yang paling menyakitkan saat ia mengetahui semuanya.
"Demi Tuhan, Prass. Dia anakmu." Zera menangis memeluk tubuhnya yang sangat sakit. Sakit yang berkali-kali lipat ia rasakan kini. Hati dan tubuhnya sudah remuk rasanya.
"Aku mohon, kau boleh tak percaya padaku. Aku tidak akan perduli. Aku minta maaf jika Devina membuat rumah tanggamu hancur dan istrimu tiada. Tapi aku mohon, ini adalah kegagalanku mendidiknya. Tapi, tolong lepaskan Devina. Kau boleh tak percaya dengan ucapanku, tapi cobalah dengan tes DNA, aku rasa ini waktu yang tepat untukmu mengetahui semuanya. Aku mohon dengan sangat, Prass."
Air mata Prass akhirnya jatuh saat mendengar tutur kata Zera yang lemah tak ada teriakan sama sekali. Matanya ia usap kasar dan menatap wanita yang kini semakin menunduk terisak.
"Untuk apa dia melakukan itu?" tanya Prass ingin tahu.
Zera hanya menggeleng pelan kemudian ia bersuara usai mengusap air matanya.
"Satu hal yang pernah ia katakan padaku setelah bertanya siapa ayahnya. Dia hanya tidak terima meninggalkannya dengan kehidupan yang serba kekurangan dan kejadian malam itu..." Ingatan Zera kembali sakit saat mengatakan kejadian tragis yang di alami anak perempuannya.
Kening Prass mengernyit mulai tertarik ingin tahu lebih lagi.
"Devina di lecehkan oleh orang saat berjualan di malam hari. Aku melihat kemarahan yang dia pendam, namun aku tidak menyangka jika tujuannya adalah kau. Bahkan beberapa kali ia bertanya siapa ayahnya, aku tidak pernah memberi tahunya, Prass. Tolong ampuni darah dagingmu."
Keadaan sesaat hening, Prass memijat kepalanya menimbang permohonan sang masa lalu. Apakah ia akan mencoba jalur tes DNA itu atau tidak?
__ADS_1
Tatapan nanar Zera kini tertuju pada wajah pria yang tertunduk memijat kepalanya.
"Aku sangat mencintaimu, Prass. Sampai detik ini pun cinta itu masih sangat besar. Aku tidak menyangka jika kepergianmu dengan fitnah yang ku dapatkan saat itu masih tetap membuat cinta ini abadi di hatiku." batin Zera menatap sedih. Tak ada keinginan lagi untuknya bersama pria di depannya. Sudah cukup rasanya dengan kepergian Prass di masa lalu membuatnya sangat terluka dan begitu kecewa.