
Kalian tahu kisah seorang raja yang menjadi buih? Itu adalah kisah yang kudengar dari penduduk sekitar.
"Mungkinkah jenderal pergi ke sana?" tanya Matsue sambil memegang dagunya.
"Untuk apa?" ucap Hatachi, ia melanjutkan sambil membayangkan sesuatu dan berkata.
"Aku masih ingin hidup lama, aku tidak mau menjadi buih," ucapnya sambil menggeleng.
"Hentikan Hatachi kata-katamu!" bentak Rui. Sejak tadi Rui hanya terdiam sambil bersedekap dan berpikir, baru kali ini dia berbicara dan marah.
"Apa kau tidak mengkhawatirkan jenderal?" ucap Rui kesal.
Hatachi membelalakkan matanya menatap Rui dengan marah.
"Apa maksudmu? Kau pikir hanya kau sendiri yang memikirkan jenderal?"
"Cukup!" ucap Otaru menengahi.
"Jangan bertengkar, simpan tenaga kalian, besok kita akan ke sungai Kyusu."
Kelima Akai tidak tidur malam itu, peristiwa seperti ini baru kali ini terjadi semenjak banyaknya peperangan yang mereka lalui.
Pada saat jenderal menguasai peperangan di Koshiro, jenderal memberi usul kepada raja agar melakukan ekspansi di luar dari kerajaan Koshiro yaitu Hanjang negeri gingseng, tidak tahu mengapa jenderal ingin ke Hanjang, tempatnya sekarang.
Sebelum matahari terbit, kelima Akai telah menuju sungai Kyusu, mereka melangkah dengan hati-hati, Hatachi melompat-lompat tidak ingin terkena sepercikpun air ke pakaiannya.
__ADS_1
Sesampainya di tepi sungai mereka melihat seorang anak kecil yang tertidur di atas bebatuan dan di sampingnya tergeletak sebuah pedang berwarna hitam panjang yang sangat mereka kenali.
Rui berlutut mengambil pedang itu, disusul Tutsima yang memandang anak laki-laki yang masih tertidur di atas bebatuan.
"I-ini, ini pedang jenderal." ucap Rui.
"Mengapa pedang jenderal ada di sini? apa yang sebenarnya terjadi."
Otaru mengamati anak yang pingsan itu, kemudian dia teringat anak dan ayahnya yang mereka tolong sewaktu di pasar.
"Rui, bukankah dia anak yang ada di pasar itu?" Rui akhirnya melirik kepada anak itu sambil mengernyit memandangnya.
"Ya, kau benar dia anak yang ada di pasar sewaktu kita menolongnya," ucap Rui.
"Tidak, dia pingsan, kita harus menyadarkannya, anak ini pasti tahu sesuatu tentang jenderal," ujar Tutsima.
Rui memandang pedang yang ada di tangannya, kemudian ia memandang sungai Kyusu yang mengalir dengan tenangnya, sambil menggenggam erat pedang jenderal dan tidak mau membenarkan apa yang ada di kepalanya saat ini.
Tutsima mengangkat Geem ke atas batu yang lebih rata lalu membaringkannya di sana, tiba-tiba Geem terbatuk-batuk dan mulai membuka kedua matanya. Kelima Akai memandang Geem, lalu Hatachi dan Otaru yang duduk di sampingnya.
Geem tersedak oleh air yang masuk ke tenggorokannya, lalu Tutsima mendudukkannya.
"Kau tidak apa-apa?" Geem tersadar kembali, ia melihat di sekitarnya, kemudian memandang orang-orang yang ada di hadapannya.
Otaru bertanya pada Geem.
__ADS_1
"Siapa namamu?"
Geem yang kelihatan takut pun menjawab perlahan.
"G-geem namaku. Mm Lee geem ling," ucapnya dengan takut-takut.
"Kau jangan takut Geem," ucap otaru menenangkan.
"Kenapa kau bisa berada di tempat ini? Dan pedang yang ada di sampingmu, apakah kau mengetahuinya?"
Geem mengingat-ingat kejadian yang menimpanya dengan ayahnya, lalu dia mulai berbicara.
"Kami ... kami dikejar oleh pasukan Ochtosk itu, lalu ayahku, ayah ...." Geem menitikkan air matanya.
"Ayahku terkena banyak panah sampai ia tewas, mereka kemudian mengejarku sampai ke sungai Kyusu." Geem menghapus air matanya dengan tangannya. Para Akai mendengarkan dengan seksama.
"T-tapi aku di tolong oleh seorang kakak, dia juga yang menolongku sewaktu di pasar."
Otaru tersentak kaget ketika mendengarkan penuturan Geem
'Ada seorang wanita yang menahan serangan preman itu sewaktu di pasar, mungkinkah ia jenderal? Tapi, belum tentu dia jenderal, itu tidak mungkin.' pikir Otaru menyangkalnya.
"Lalu dimana kakak yang menolongmu itu Geem?" tanya Tutsima. Geem menarik napas dan kembali menangis.
"Hik hik hik ... Kakak itu, ia telah berubah, ia berubah menjadi buih."
__ADS_1