
Geem menutup matanya, dan beberapa menit kemudian dia membuka kedua matanya dan melihat seorang wanita telah menjadi tameng baginya, mata wanita itu menatap ke arah geem, kedua prajurit Ochtosk telah tewas, wanita itu sempat bertarung dan mengalahkannya.
Saat itu Langit berubah menjadi gelap, petir menyambar-nyambar dan hujan pun turun dengan derasnya, dengan sekuat tenaga Geem mencoba menolong wanita itu, sehingga yang terpikirkan oleh anak itu adalah memberinya air, Geem menyeret kakinya yang terluka dan mengambil daun kemudian menuju sungai Kyusu dan mengisinya dengan air yang mengalir dari sungai itu.
Gem menghampiri wanita yang kini bersimbah darah di atas bebatuan sungai Kyusu.
"Kakak. Minumlah air ini, minumlah agar luka kakak tidak sakit lagi."
Wanita itu tidak berbicara apapun dia hanya menatap Geem, napasnya mulai pendek dan darah mengalir dari punggungnya.
"Kelinciku pernah terluka dan aku memberikan air ini untuknya, keesokan harinya kelinciku kembali sehat." ucap Geem dengan polosnya. Kemudian Geem melanjutkan.
"Kakak pastilah orang baik jadi ... jadi minumlah air ini," ucap gem sambil menahan tangisnya.
Geem mendekatkan daun berisi air itu ke bibir wanita yang kini tengah sekarat, satu tegukan kemudian bunyi gemuruh memecah keheningan petir menyambar-nyambar, Geem meminumkan lagi, dua tegukan mata wanita itu bergerak-gerak, kemudian kilat berbentuk zig zag terlihat di langit itu, ketiga kali tegukan yang gem berikan kepada wanita itu membuatnya seperti menghilang sedikit demi sedikit kemudian dia tidak ada lagi, dia lenyap berubah menjadi buih dan mengalir bersama air sungai Kyusu.
__ADS_1
Geem gemetar ketakutan, akhirnya ia jatuh pingsan di tempat sang jenderal telah berubah menjadi buih.
***
Kelima Akai telah berkumpul di tengah-tengah hutan.
"Apa yang harus kita lakukan? Benteng telah jatuh ke tangan pangeran Yamagashi, dan kita tidak tahu dimana jenderal," ucap Matsue.
Selama ini hanya jenderal yang bisa menemukan kita berlima, dimanapun kita berada, walaupun kita tidak dapat menemukannya.l," ucap Hatachi.
"Pagi tadi jenderal menyamar." ucap Rui.
"Aku menemukan jejak sepatu wanita, meskipun aku tidak tahu yang mana jenderal kita ketika aku dan Otaru menyusuri pasar tadi pagi."
"Kita tahu apa yang dilakukan jenderal sebelum menyerang, ia akan melihat-lihat keadaan kota yang akan diserangnya." Tutsima menambahkan.
__ADS_1
"Informasi ini mungkin di ketahui oleh pangeran Yamagashi sehingga ia menyusun rencana licik ini," ucap Otaru.
"Hei kawan, yang dia hadapi itu sang jenderal," lanjut Hatachi.
"Tidak semudah itu membunuhnya."
"Tapi kita tahu jenderal sedang menyamar, jadi ia tidak akan mungkin melakukan sesuatu jika dia tidak mengenakan baju zirahnya dan sangat mencolok jika ia bisa menghabisi seorang diri puluhan prajurit itu, identitasnya akan terungkap," ucap Otaru.
Kelima akai berharap dan menunggu sang jenderal membuka pintu, tetapi tidak ada tanda-tanda kehadirannya. Malam semakin larut , udara semakin dingin, hanya satu penerangan yang menerangi mereka berlima.
Kepala mereka sibuk berpikir dimanakah jenderal mereka berada.
Tidak terlintas dipikiran mereka bahaya yang mengancam jenderal mereka, apalagi kematian sang jenderal, tidak semudah itu melenyapkan pemimpin mereka dengan segala pertarungan dan peperangan yang pernah dihadapinya.
Tiba-tiba Otaru tersadar akan sesuatu, ia memegang meja dan berkata kepada mereka.
__ADS_1
"Sungai Kyusu. Kalian tahu? Sebelum sampai ke benteng, jenderal menyuruhku mencari sungai Kyusu yang melegenda itu, mungkinkah jenderal ke tempat itu?"