Bloody General Sword

Bloody General Sword
Eps 39


__ADS_3

Pasukan yang berjumlah 300 orang prajurit telah menuju benteng Gamyoung, di bawah pimpinan jenderal Geem, mereka pun sangat waspada ketika melewati hutan, karena pasukan musuh selalu menyerang tiba-tiba, hutan yang lebat serta lereng yang curam menjadi tempat strategis untuk menyerang pihak musuh, sehingga mereka sangat berhati-hati.


Bunyi Gong memekakkan telinga, bendera merah berkibar-kibar di udara. Jenderal Geem dan pasukannya telah tiba di benteng itu, mereka semua sangat terkejut. Tidak ada satu prajuritpun tersisa di sana, hanya mayat bergelimpangan di setiap sudut benteng. Jejak darah, serta sebagian benteng telah terbakar dan hangus menjadi bukti peperangan baru saja terjadi.


"Periksa dan cari siapa saja yang hidup." Perintah jenderal Geem. "Apa sebenarnya yang terjadi? siapa yang dapat menghabisi mereka semua dalam waktu secepat ini." Ucap jenderal Geem.


Seluruh prajurit memeriksa tubuh tak bernyawa itu, mencari siapa saja yang masih hidup. Jenderal Geem menunduk dan melihat tebasan pedang yang mengenai salah satu tubuh musuh.


Pedangnya sangat tajam, lukanya sangat dalam. Terlihat sangat rapi dengan tebasan begitu cepat, bukan hanya itu saja, sebagian besar luka di tubuh mereka terlihat sama.


"Periksa kembali, jangan sampai ada yang terlewatkan." Ucap Jenderal. Seluruh pasukan kembali memeriksa. Tiba-tiba dari suatu sudut salah satu prajurit menemukan satu prajurit Hanjang yang masih hidup, jenderal Geem berlari-lari menghampirinya, dia kemudian menunduk mendekati prajurit yang sebentar lagi akan meregang nyawa itu.


"Katakan. Katakan apa yang terjadi, siapa yang melakukan semua ini?" Ucap jenderal Geem sambil mengangkat kepala prajurit itu.


"T-topeng ... seseorang bertopeng, mereka dengan mudah menghancurkan musuh." Ucap prajurit itu terbata, napasnya kini tidak beraturan.


"Bertopeng? Siapa, kau melihat siapa saja yang menghabisi prajurit musuh."


"Mereka ... mereka menghabisinya dengan mudah." Tidak ada napas lagi yang terdengar. Jenderal Geem melepaskan prajurit itu, dia kini tewas.


"Jaga di setiap sudut dan periksa dengan teliti, jangan biarkan musuh kembali menyerang." Jenderal menatap tubuh tidak bernyawa itu bergelimpangan, semua memiliki luka yang sama.


"Apa yang sebenarnya terjadi, siapa yang melakukan ini semua."


***


Sungai itu mengalir dengan jernih, derasnya aliran sungai dan suaranya menderu dengan kencang, batu-batuan membuat seseorang dengan mudah memijakkan kakinya di sana, dia lalu melepaskan topengnya dan mencucinya di aliran sungai itu. Dia kemudian membersihkan wajahnya, pakaiannya dari darah yang melengket di tubuhnya, bau anyir mengerikan memenuhinya.


Matanya tajam melihat di sekitarnya. Dia membersihkan pedangnya, meskipun tidak ada noda darah di sana, tetapi dia membersihkan pedangnya dengan hati-hati, seakan pedang itu bernyawa.


"Tsk, aku harus segera kembali, sebelum seseorang mencurigaiku." Renzai masuk ke dalam hutan, dia mengambil kudanya yang dia tambatkan di dalam hutan. Matanya menelisik di setiap sudut, dia tahu bahwa mereka ada di sana sedang memperhatikannya sejak tadi. Renzai mendengus berpura-pura tidak melihat kelima Akai itu.


"Apa mereka tidak bosan selalu mengikutiku?" Gumam Renzai. Dia naik ke atas kudanya dan melajukan kudanya dengan kencang.


***


"Cepat, kita ikuti Jenderal." Ucap Rui ingin segera bersiap-siap melompat. Kerah bajunya tiba-tiba saja di pegang oleh Hatachi.


"Tidak usah mengikuti jenderal, sebelum kita pergi, bersihkan dulu diri kalian masing-masing, coba kalian lihat tubuh kalian semua, sungguh mengerikan. Darah memercik di mana-mana." Kelima Akai masuk ke dalam sungai dan membersihkan diri mereka sambil bercakap-cakap.

__ADS_1


"Apa yang akan di lakukan jenderal setelah peperangan usai?" Ucap matsue kepada mereka semua.


"Menjalankan rencananya, kalian ingat ucapan Jenderal? Pangeran Himagashi ada di sini, kita harus berhati-hati."


***


Pukul 8 malam, barak Utama.


Renzai telah tiba, dengan cepat dia mengendap-endap dan masuk kembali ke dalam kamarnya.


Setelah mengganti pakaiannya, Renzai keluar dari kamarnya, dia berjalan sebentar dan menemukan pangeran sedang berdiri tepat di depan kamarnya. Renzai menatapnya, dia sedikit menunduk tetapi tidak mengucapkan apapun. Pangeran hendak berjalan dan mengabaikan keberadaan Renzai, tetapi dia kemudian berhenti lalu berbalik.


"Siang tadi, aku menyuruh pelayan ke ruanganmu, tetapi kau tidak ada di dalam ruanganmu. Apakah kau keluar?" Ucap pangeran.


"Siang tadi saya masuk ke dalam hutan, mengikuti Jenderal Geem sebentar dan kembali lagi ke ruanganku." Jawab renzai.


"Apa kau tidak bisa mendengarkan ucapan jenderal Geem? di luar sana berbahaya." Pangeran menatapnya tajam, tidak ada wajah penyesalan atau keraguan yang diperlihatkan gadis ini kepadanya.


Suara dari kejauhan membuat mereka berdua berpaling. Tabib Jang menghampiri mereka. "Apa yang kalian lakukan berdiri di sini? Oh ya makan malam sebentar lagi akan di siapkan. Nona Renzai, kau bisa bergabung bersama kami, bagaimana?" Renzai ingin sekali mengumpat di depan wajah tabib ini.


"Saya akan makan di ruanganku saja." Ucap Renzai menolak menatap tajam kepadanya.


"Tidak bisa seperti itu Nona renzai, ikutlah makan dengan kami, semakin ramai semakin asyik bukan?"


Putra mahkota tidak mengatakan apa-apa, dia juga tidak melarang tabib Jang untuk mengundang Renzai untuk makan bersama. Mereka tiba di tenda khusus, ketiganya duduk di sana. Suasana tampak kaku, apalagi Renzai sama sekali tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya makan dengan tenang.


"Nona Renzai bagaimana kalau anda menuangkan minuman di gelasku? itu akan menjadi suatu kehormatan untukku." Ucap tabib Jang sambil tersenyum. Renzai yang ingin makan tiba-tiba berhenti, dia menatap tajam tabib itu tanpa mengatakan apa-apa, dia pun tidak berniat untuk melakukan apa yang di minta oleh tabib itu.


"Kenapa kau tidak melakukannya, meskipun dia seorang tabib, tetapi dia adalah pangeran ke 3 di negeri ini, lakukan apa yang dia minta." Suara dingin itu membuat Renzai menatapnya dengan tajam. Para pelayan yang sejak tadi menunduk mengangkat sedikit kepalanya.


Suasana semakin canggung dan berubah mencekam, karena Renzai tidak melakukan apa yang diinginkannya, dia masih menatap kedua pria itu dengan tatapan menghina yang tidak ditutup-tutupi.


"Hahahaha, jangan terlalu serius pangeran, aku hanya bercanda, aku bisa menuangkan minuman ini di cawanku, anda jangan khawatir." Ucap tabib Jang. Pangeran mengangkat tangannya menyuruh tabib Jang untuk diam.


"Lakukan, ini perintah. Tuangkan minuman di cawan pangeran ketiga." Matanya tidak berpindah dari wajah Renzai. sementara itu Renzai tidak melakukan apapun yang di perintahkan.


Kenapa dia begitu keras kepala? Pangeran tidak bisa di tentang, lakukan saja, apa susahnya. Tabib Jang terlihat frustasi melihat Renzai dan pangeran saling menatap tajam, dengan wajah permusuhan.


Langkah kaki prajurit mengalihkan suasana mencekam itu. Dengan cepat dia menunduk dan memberikan informasi yang di dapatkannya.

__ADS_1


"Benteng Gamyoung telah di rebut kembali, seluruh pasukan baik-baik saja, mereka tidak terluka sedikitpun."


"Bagus, kirim bahan makanan ke benteng, biarkan mereka menikmati kemenangan mereka di sana."


"Baik yang mulia."


Tanpa mereka sadari Renzai sudah menghilang dari tempat duduknya, dia pergi dari tenda dan hendak kembali ke ruangannya. Empat orang dayang mengikutinya, salah satunya adalah seorang wanita yang menjadi kepala dayang yang khusus di tugaskan untuk melayani segala keperluan putra mahkota.


"Nona Lee Renzai, bisa kita bicara sebentar." Wanita berparas ayu dan lemah lembut itu berdiri di depan Renzai bersama ketiga dayangnya.


"Nona Renzai, apa yang anda lakukan tadi itu sungguh di luar batas, anda makan bersama dengan kedua pangeran merupakan keberuntungan luar biasa yang diinginkan oleh seluruh wanita di kota Hanjang. Bukankah sikap arogan anda bisa mencelakakan anda sendiri? Aku sebagai kepala dayang pangeran tidak akan membiarkan hal itu terjadi." Ucap wanita itu.


Renzai melengkungkan bibirnya perlahan. "Jadi, apa yang akan kau lakukan?" Suara itu dingin dan mengerikan, membuat ketiga dayang itu mundur beberapa langkah.


"S-sebagai putri dari seorang Jenderal, bukankah tidak pantas bersikap seperti itu? Tidakkah ...."


Renzai hendak menyerang wanita itu ketika Tabib Jang datang sehingga keempat dayang itu mundur dan menundukkan kepalanya. "Wah, disini ramai sekali, semua baik-baik saja bukan?"


"Semua baik-baik saja yang mulia." Ucap keempat dayang itu.


"Nona Renzai, kenapa anda pergi? makan malam belum selesai." Ucapnya. "Pangeran telah pergi, bagaimana jika kita makan bersama? mungkin kita bisa bercerita sambil mengakrabkan diri."


Renzai berdiri di sana tanpa mengucapkan apa-apa, tatapannya tajam menatap Tabib Jang sehingga dia menjadi salah tingkah. "Anda bisa makan sendiri, saya ingin beristirahat." Ucap Renzai.


"Ah, baiklah. Kau pasti lelah sejak tadi siang berada di dalam ruanganmu terus menerus, kalau begitu selamat beristirahat."


Renzai berbalik dan menjauhi mereka semua, dari kejauhan dia bisa mendengar keempat dayang itu mengeluhkan tentang Renzai yang kurang ajar.


***


Wakil kapten Cheon baru saja tiba di benteng Gamyoung, dia berusaha menampilkan akting sempurna, ketika melihat seluruh tubuh prajurit bergelimpangan mengerikan di tanah.


"Wakil Cheon, kau di sini? Bukankah kau berangkat sejak awal menuju Benteng Gamyoung? kenapa kau baru tiba sekarang?"


"A-aku di serang oleh tiga prajurit musuh, aku hampir saja mati," Jawabnya tanpa memandang mata kaptennya.


"Syukurlah kau selamat, sebaiknya kita perketat kembali benteng ini, musuh bisa saja menyerang balik, oh ya di mana jenderal? sejak tadi aku tidak melihatnya." Satu persatu mayat prajurit itu di periksa oleh Jenderal, sebagian besar mereka memiliki luka yang sama, tubuh mereka tersayat dengan pedang yang sama.


Sesuatu menarik perhatiannya, jenderal musuh terbaring di sana dengan tiga panah langsung melesat di tubuhnya hingga menembus ke belakang. "Sekuat apa pemanah itu hingga mampu menembus zirah yang di pakainya." Gumam Jenderal.

__ADS_1


"Siapa yang melakukan ini semua?" Ucap Jenderal Geem, sementara Wakil kapten Cheon berdiri di belakang jenderal Geem sambil berbisik parau dari kejauhan.


"Putrimu, Jenderal."


__ADS_2