
Matahari sudah sepenggal pohon Pinus, menyinari desa Namu dengan terang, tidak tahu apapun, penduduk desa tetap menjalankan aktivitasnya seperti biasa, mereka tak tahu bahwa sebentar lagi mereka akan di serang oleh pasukan Ochtosk.
Wanita yang tadi menolong Geem, melihat ke arah dua pemuda tadi, sedikit ekspresi ganjil di wajahnya, tidak ada yang tahu apa yang dipikirkannya, ia terus berjalan.
Otaru dan Rui masih berjalan menuju benteng Gaku.
"Seperti yang diperkirakan, benteng Gaku dijaga ketat, lihat saja prajurit-prajurit yang menjaganya," ucap otaru. Mereka berdua berdiri di bawah pohon mengawasi.
"Siapa jenderal yang memimpin benteng Gaku?" tanya Rui kepada Otaru.
"Aku sudah memberi tugas kepada Hatachi untuk mencari tahu, ini adalah keahliannya mencari tahu semua hal, bahkan jika itu bukan urusannya pun dia pasti akan tahu." senyum Otaru.
"Ayo kita kembali ke benteng, jenderal mungkin sudah pulang." Perkataan Otaru Berhenti. Derap kaki kuda dan derap kaki puluhan prajurit menyerang kota Namu. Otaru dan Rui begitu terkejut.
"Bagaimana ... bagaimana mungkin, apa yang terjadi?" Bendera yang bergambar matahari merah terbentang selebar-lebarnya . Pasukan Ochtosk menyerang membabi buta, para penduduk berlarian menyelamatkan diri tapi mereka sungguh tidak berdaya, siapapun terlihat oleh pasukan Ochtosk, mereka tidak terselamatkan lagi, darah mengalir, rumah-rumah terbakar dimana-mana, penduduk berlarian.
"Rui apa yang terjadi? Mengapa pasukan kita menyerang?" Tetapi Rui menunjuk seseorang di atas kuda, dengan memakai baju zirah berwarna abu-abu serta memegang pedang.
__ADS_1
"Itu ... itu pangeran Yamagashi." teriak Rui. Tiba-tiba mereka berdua tersadar, Rui tanpa sadar menyebutnya.
"Jenderal. Apa yang terjadi padanya, hari ini dia menyamar, kita harus mencarinya." teriak Rui.
Mereka berdua lari sekencang-kencangnya, Rui berlari dengan kecepatan penuh, dikepalanya hanya di penuhi dengan jenderalnya, begitupun Otaru, mereka tiba di sebuah bukit.
"Bagaimana kita bisa mengetahui yang mana jenderal kita, kita tidak tahu wajahnya." ucap Otaru.
Mereka berdua frustasi, Rui memukul pohon.
"Sial, harusnya kita mempersiapkan ini, kita tahu pangeran Yamagashi ingin menghabisi jenderal, ia tahu yang dilakukan jenderal kita sebelum menyerang, ada yang berkhianat pada kita," ucap Rui.
"Tidak!" ucap Rui.
"Benteng mungkin sudah diambil alih oleh pangeran Yamagashi , yang harus kita lakukan mencari jenderal dan mengumpulkan para akai."
***
__ADS_1
Sementara itu, wanita yang berjalan di pasar di kota Namu juga ikut berlari, ia menemukan Geem dan ayahnya yang juga berlari di belakangnya, ayah Geem menggendong anak itu, tetapi tiba-tiba saja mereka terjatuh dari atas bukit menuruni lereng yang sedikit terjal, ia bangkit lagi dan kembali berlari menuju ke sungai kyusu, wanita itu berlari menyaingi orang-orang yang ada di belakangnya, kecepatannya terlalu hebat untuk ukuran seorang wanita, ia terlihat seperti terbang.
Terdengar suara teriakan, mereka berdua terjatuh, salah satu pasukan Ochtosk mengejar mereka dan memanah kaki ayah Geem.
Geem yang melihat ayahnya terkena panah segera membantunya.
"Ayah bangunlah! Kita harus lari sebelum mereka sampai kesini." teriak Geem.
Hujan panah terus mendarat di kota Namu, tiga panah menghujam ayah Geem, tembus hingga ke dadanya. Geem berhenti berlari ketika melihat ayahnya terkena panah yang bertubi-tubi mengenai tubuh sang ayah.
"AYAH. AYAH ..." Geem teriak dan menangis pilu. Darah mengucur dari tubuh sang ayah.
"L-lari Geem. Larilah Geem. Cepat!" Geem yang ketakutan mengikuti ucapan sang ayah meninggalkannya yang sudah tidak bernyawa lagi.
Salah satu prajurit Ochtosk sempat melihat Geem yang berlari, kedua prajurit mengejarnya dengan memakai kuda.
Napas Geem berhembus kencang, darah mengalir di pelipisnya, Geem berlari menuju rumahnya di tepi sungai Kyusu, tetapi sayangnya Geem dapat di jangkau oleh dua prajurit Ochtosk, mereka mengejar Geem dengan menyeser tombak panjang ke tubuh anak itu.
__ADS_1
Ketika sampai di atas bebatuan sungai Kyusu, tanpa Geem sadari tombak panjang sedang menuju ke arahnya, lalu tanpa di duga-duga, tombak itu mengenai seseorang yang melindungi Geem dari belakang punggungnya. Wanita yang ditemui Geem di pasar telah menghalau tombak hingga mengenai punggung wanita itu.