
🌿
Ratusan prajurit dari kerajaan musuh melawan pasukan Hanjang yang hanya berjumlah puluhan saja, mereka si serang secara tiba-tiba sehingga banyak nyawa yang melayang.
Mereka mengelilingi prajurit Hanjang sambil tertawa terbahak-bahak. "Kau mau apa kapten, sekarang berdoalah, karena sebentar lagi jiwamu akan terpisah dari ragamu?" Ucap salah satu pemimpin pasukan gamyoung.
"Singkirkan mereka ! dan bawa barang-barang perbekalan mereka !" Teriaknya.
Seorang prajurit dari musuh maju dengan membawa pedang di tangannya, dia tersenyum dengan angkuh, tatapan remeh dan sikap sok, dia melayangkan pedangnya kepada Wakil kapten tersebut. Mereka hendak menebas wakil kapten Hanjang, secara tiba-tiba ada sesuatu yang manghalangi pedang dari prajurit musuh itu.
Bunyi pedang yang di tahan, sang wakil kapten yang tadinya terpukul mundur dan sudah terluka, menatap terkejut dengan apa yang dia saksikan. Salah seorang wanita dan dia juga seorang perawat yang di bawa tabib Jang menangkis pedang pasukan Gamyung.
Renzai dengan cepatnya menangkis serangan musuh, tanpa ragu menebas hingga dia ambruk di tanah, seluruh pasukan, baik pasukan musuh dan pasukan Hanjang terkejut melihatnya, kini seluruh pasukan musuh gamyung maju, mereka menyerang ke arah renzai, tetapi kecepatan luar biasa dari renzai mampu mengalahkan mereka dengan secepat kilat, kecepatannya sangat hebat, bahkan wakil kapten itu dan prajurit-prajurit yang turut ingin bergabung pun melongo menyaksikannya, secepat itu puluhan pasukan musuh bergeletakan di hutan itu.
"Si..siapa sebenarnya gadis itu?" Ucap sang wakil kapten.
Tabib choi dan separuh perawat yang masih hidup, hanya membelalakkan matanya, menatap keheranan.
"He..hebat ! hebat sekali, siapa dia?"
Renzai terus menyerang mereka, tidak ada rasa bersalah ketika dia menjatuhkan pihak musuh sehingga darah mengalir di setiap prajurit musuh yang berjatuhan, tak ada yang dapat mengalahkannya, gerakannya sangat gesit, dia seperti sudah melakukan ini ribuan kali, layaknya bukan seorang manusia biasa, ia terus menebas tanpa ampun, darah musuhnya mengalir memenuhi wajah dan pakaian yang di kenakannya. Kini tinggal beberapa orang saja yang tinggal dari prajurit musuh, Renzai memutar pedangnya dan dengan tanpa ragu mengalahkan ketiga prajurit dengan sekali serangan.
Kini wajah kapten dari kerajaan Gamyung terlihat pucat, dia mundur beberapa langkah, setelah pasukannya benar-benar habis di lahapnya, dia mundur, setelah itu dia mulai berlari kencang, tetapi renzai dengan gesitnya mengambil panah dari atas tubuh prajurit yang telah mati, dia kemudian memanah kapten yang berlari itu dengan tiga panah sekaligus, sehingga menembus tubuh sang kapten gamyung hingga akhirnya dia tersungkur dan terjatuh di tanah.
Renzai membuang panah itu ke tanah, lalu mengambil pedang tetsunya, dia kemudian berbalik dan menatap orang-orang yang berdiri di belakangnya dengan tampang terkejut, seperti renzai bukan seorang manusia.
Wakil kapten Hanjang, para prajurit serta tabib choi dan perawat berdiri di sana, tidak tahu mereka harus berkata apa. Hening sejenak, wakil kapten itu melangkah pelan dan ragu-ragu, dia berhati-hati mendekat ke arah renzai yang masih memandang pedang tetsunya.
"An...anda baik-baik saja?" Tanyanya.
Renzai menoleh, mengalihkan pandangannya kepadanya. tiba-tiba pedang di arahkan ke leher wakil kapten itu, seakan ingin menyerangnya, dia sangat kaget begitupun mereka yang menyaksikannya.
"Ap...apa yang anda lakukan?" Tanyanya, kepalanya miring karena pedang renzai melekat erat di lehernya.
"Wajah kalian melekat di ingatanku." Ucap renzai. "Tidak ada yang kalian saksikan atau lihat ! dan yang mengalahkan seluruh pasukan musuh adalah kau." Ucap renzai sambil menunjuk wakil kapten itu.
__ADS_1
"Jangan pernah kalian, menyebutku." Renzai kemudian menatap tajam kepada wakil kapten itu.
"Kau...yang menghabisi mereka semua, Kalian mengerti !"
Pria bertampang serius itu menganggukkan kepalanya, dia lalu berdiri tegak.
"Ti...tidak ada apapun yang kami lihat !tidak ada...." Semua yang ada di sana menganggukkan kepalanya, begitupun tabib Choi.
Sang wakil kapten melirik ke arah tabib Choi, dia menganggukkan kepalanya. "Lanjutkan perjalanan !" Perintah renzai.
"Baik !" Dalam situasi yang tegang, akhirnya mereka melanjutkan perjalanan, renzai berjalan di depan, tetapi tiba-tiba dia berhenti dan mengangkat tangannya, serangan mendadak kembali terjadi, anak-anak panah berterbangan dan mengenai mereka yang ada di sana, dengan cepat renzai menghalau mereka dengan memanah mereka dengan gesit begitupun prajurit lainnya. Secepat itu pihak musuh dapat dipukul mundur.
🌿
Wakil kapten itu terkagum-kagum dengan kehebatan renzai begitupun prajurit lainnya, mereka akhirnya tiba dengan selamat di tenda darurat, suasana di sana sangat mencekam dan mengenaskan, sangat berbeda dengan keadaan di perbatasan, Meskipun benteng jamyung telah berada di tangan mereka tetapi aktivitas di tenda darurat itu sangat sibuk, banyak prajurit yang terluka parah, selain itu puluhan prajurit akan kembali ke medan pertempuran.
Ketika mereka tiba, kapten pasukan militer yang mengepalai penyerangan itu menyambut kedatangan mereka apalagi perbekalan prajurit itu telah sampai dengan selamat.
"Wakil kapten Lee Cheon, wah wah...kau hebat sekali, aku tidak menyangkanya, menurut laporan prajuritku, dua tim pasukan musuh dari kerajaan gamyung yang berada di hutan dan bukit Gong yang anda lewati, telah anda habisi, berkatmu sebagian prajurit musuh telah berkurang ini memberikan keuntungan besar bagi kita untuk menyerang balik." Ucapnya.
Wakil kapten Lee Cheon hanya tersenyum dengan ragu dan cangghng, dia melirik ke arah tabib Choi sambil garuk-garuk kepala, bingung dengan situasinya.
"Te..terima kasih kapten." Ucapnya.
"Tidak perlu berterima kasih, memang sudah seharusnya kau mendapatkannya." Dia kemudian pergi meninggalkan mereka semua sambil terbahak.
Wakil kapten menatap Renzai, "Itu...itu, anda kan...." Renzai menatapnya dengan tajam.
"Kau mau hidup lama? maka ikuti kata-kataku." Wakil kapten itu menelan ludahnya kasar.
"Baik." jawabnya.
Renzai pun pergi dari tempat itu, "Apa yang harus aku lakukan tabib choi, aku tidak mungkin berbohong, Kau juga melihatnya bukan?" Tabib Choi mengernyitkan alisnya lalu memandang wakil kapten itu.
"Aku tidak melihat apapun, kejadian tadi karena anda memang hebat, aku masih sayang nyawaku, jadi sebaiknya ikuti saja kata-katanya" ucap tabib sambil melirik ke arah renzai.
__ADS_1
🌿
Jenderal Geem ling dan pangeran serta kelima Akai telah tiba di benteng Jamyoung, mereka di sambut oleh seluruh pasukan dan beberapa orang kapten dari bagian selatan, barat dan utara.
"Pangeran mahkota kehormatan besar anda telah datang kemari." Ucap salah satu kapten.
Jenderal Geem sejak tadi melihat kesana kemari dan memperhatika lalu lalang para perawat, tetapi anehnya dia tidak sekalipun melihat putrinya renzai. Setelah penyambutan untuk pangeran mahkota, jenderal geem bergegas mencari renzai, tetapi dia tidak ada di mana-mana, dan tidak satu orang pun yang mengenalnya.
Kebetulan tabib Jang mendengar Jenderal geem mencari-cari dan menyebut nama renzai, dia lalu keluar dari balai pengobatannya.
"Apakah anda mencari Lee renzai?
"Iya, dimana renzai, dimana putriku? apa kau mengenalnya?"
"Iya jenderal, tapi maafkan aku jenderal geem, Renzai tidak di sini sekarang," Ucap tabib jang ragu-ragu.
Jenderal geem membelalakkan matanya, "Dimana dia?"
"Nona Renzai dan ratusan prajurit, tealh di kirim ke garis depan, dia mendapat tim yang pertama berangkat sejak kami tiba." Ucapnya.
🌿
"Mana jenderal Geem?" Tanya pangeran mahkota.
Seorang kasim sedikit tertunduk, "Pangeran, sepertinya jenderal Geem sibuk mencari putrinya yang telah di hukum di tempat ini." Jawab sang kasim.
"Oh ya, aku mengingatnya, rupanya salah satu putri jenderal Geem di hukum karena menolak mengikuti seleksi pemilihan putri mahkota."
"Ya, yang mulia sangat di sesalkan." Ucap kasim itu sambil menggelengkan kepalanya.
"Siapa namanya?" tanya pangeran.
"Nama putri ketiga Jenderal Geem adalah Lee Renzai, yang mulia."
"Lee renzai? aku akan mengingatnya."
__ADS_1