
"Tugas apa itu hatachi? Otaru menatap hatachi dan bertanya kepadanya setelah sampai di penginapan. Para penduduk yang melihat penampilan mereka menatap curiga kepada mereka berlima.
Mereka masuk ke dalam penginapan dan duduk di satu meja. Orang-orang menatap mereka dengan curiga.
"Kita akan berbagi tugas mengamati keluarga kedua bayi itu, lalu kita akan melihat perkembangan keduanya dan mencari tahu mana yang paling mencerminkan sikap jenderal." Ucap Hatachi.
Matsue menggelengkan kepalanya, "Cara itu kurang efektif hatachi, bagaimana jika setelah jenderal dilahirkan kembali sikap dan tingkah lakunya berbeda dengan yang dulu?"
"Tidak ada apapun peninggalan jenderal selain pedang ini". Kata Rui.
"Sekarang kita hanya perlu mengamati dan mendekati keluarga itu masing-masing, dan yang paling penting sekarang ini, penampilan kita sekarang, kita hidup di era yang berbeda, mereka menatap kita dengan pandangan aneh, aku tidak akan heran jika sebentar lagi prajurit kota ini akan datang membawa kita." ucap Otaru.
"Ya, kau benar kita hidup di masa Raja yang berbeda, kita akan di gantung jika mereka mengetahui siapa kita." Ucap Hatachi sambil memegang lehernya.
~
Musim dingin yang panjang telah berganti dengan datangnya musim semi, 10 tahun telah berlalu sejak kelahiran kedua bayi perempuan itu, pagi yang cerah dan bunga Krisan bermekaran di halaman rumah, seorang gadis kecil sedang mengamati kakaknya berlatih pedang.
"Bagaimana menurutmu Renzai? apakah sekarang aku terlihat keren?" Cha wu bergaya di depan adik perempuannya sambil memainkan pedangnya.
Renzai memegang dagunya sambil menatap kakaknya.
"Hm...Kakak tidak akan dilirik oleh gadis manapun jika bertingkah idiot seperti itu." Kata Renzai sambil memandang malas kakaknya yang memandang wajahnya sendiri di kolam ikan.
"Sepertinya aku harus pergi, dan mencari orang yang pantas menjadi guru pedangku." ucap Renzai.
__ADS_1
"Renzai kau mau kemana?" latihanmu belum selesai." ucap kakaknya.
Lee Renzai, dia adalah putri ketiga jenderal Lee gem ling, wajahnya cantik dengan kulit putih rambut hitam yang berkilau, dia terlihat sangat cantik di bandingkan dengan kakak perempuannya Lee Hana, begitupun kepribadian Renzai yang begitu bertolak belakang dengan kedua kakaknya.
Renzai anak yang tenang, tidak terlalu banyak bicara, dan lebih tertarik dengan peperangan yang dilakukan ayahnya, politik dan seni pedang.
Renzai berjalan-jalan seorang diri di pasar, dia melihat keadaan sekelilingnya.
"Apakah dia putri Jenderal Lee geem Ling?" tanyanya.
"Ya, dia adalah putrinya, namanya Lee Renzai, aku mengamatinya setiap hari." Kata seorang pria yang berdiri di hadapan penjual keramik sambil memperhatikan dari kejauhan.
"Hatachi kau tunggu di sini, biar aku yang mengajaknya berbicara." ucap Rui.
"Adik kecil kau mau membeli apa?" Renzai berhenti tepat di hadapan Rui dan Hatachi.
Rui menutup matanya melihat tingkah hatachi .
"Kau terlihat aneh hatachi, dia akan menganggapmu paman yang aneh." bisik Rui.
Renzai memandang layangan yang di pegang oleh rui dan kemudian Renzai menatapnya.
"Aku tidak suka layangan paman." Dengan angkuh Renzai pergi meninggalkan mereka berdua.
"Sikap yang manis sekali." kata hatachi memandang Renzai dari kejauhan. "Bagaimana dengan yang lainnya?" ucap Rui.
__ADS_1
Hatachi memandang Rui yang masih memandang Renzai. "Dan ada seorang pria yang gugup kepada bocah berumur 10 tahun, huuf lagi pula kita masih belum memastikan dia jenderal atau bukan?" sambil menatap langit cerah yang berarak.
Sementara itu Renzai kembali mengamati para pandai besi yang membuat peralatan perang, pedang tajam berkilau di hadapannya.
Renzai kelihatan tertarik dengan besi penutup yang berkarat dan berwarna hitam.
"Ada apa?" tanya seorang penjual pedang itu kepadanya. Renzai berjongkok dan memegang besi tua itu.
Seorang pria berdiri di samping Renzai sambil memegang kipas panjangnya. "Berapa harga tombak tua itu?", sambil melirik Renzai yang memegang besi tua itu di tangannya. Dia ikut berjongkok di sampingnya dan melirik kepada renzai.
"Kau menyukai besi tua ini adik kecil?" ucap tutsima kepada renzai. Seakan-akan tidak ada yang berbicara dengannya, Renzai tetap mengagumi besi penutup pedang itu.
"Adik kecil apakah kau...." Ucapan tutsima tiba-tiba terhenti dengan pandangan tajam Renzai, dia tidak mengatakan apa-apa lalu berlalu pergi, tinggal tutsima melebarkan kipasnya sambil mengipas dirinya sendiri.
"Dia pasti jenderal." ucap tutsima yakin, "Lihat saja sikapnya itu..." gumam tutsima.
Kini giliran Otaru dan Matsue yang mengamati Renzai yang sedang memandangi gulali. Saat itu Otaru menyamar menjadi penjual gulali dan Matsue berdiri tepat di sampingnya.
Otaru tersenyum kepadanya. "Halo adik kecil, kau menyukai gulali? Ehm boleh kakak tahu siapa namamu?"
Renzai yang sibuk mengambil uangnya lalu menatapnya tajam.
"Aku tidak berbicara dengan orang asing, ambil kembaliannya." ucap Renzai dingin, tinggal Matsue yang tertawa di belakang Otaru.
"Mengapa anak sekecil itu bisa bersikap...." ucapan Otaru terhenti lalu hatachi menyambungnya. "Angkuh." Sambil terkekeh.
__ADS_1
"Mungkin saja anak kecil itu jenderal kita, kalian lihat bagaimana anak itu memandang kita? dia kelihatan....., kata-kata hatachi terhenti dengan pandangan Rui kepadanya.
"Kali ini kita akan mengamati anak yang satunya lagi, sang putri." ucap matsue dan kita semua harus mencari cara agar bisa masuk ke dalam istana." ucapnya.