Bloody General Sword

Bloody General Sword
Eps 47


__ADS_3

Wajah datar tanpa ekspresi terlihat di wajah Renzai, setelah peperangan usai mereka memperkuat benteng Gamyoung, serta kembali ke barak utama. Renzai telah kembali ke tendanya, matanya yang berubah hitam kini semakin sulit untuk kembali seperti semula, dia harus berada di sungai mencoba menormalkan energinya, dia duduk seorang diri di atas batu, menatap pantulan bayangan dirinya, mata hitam legam itu belum kembali seperti semula. Renzai menunggu cukup lama dan setelah berjam-jam menunggu. Matanya kembali normal seperti sedia kala.


"Sepertinya jenderal Kimi ga akan menguasai tubuh itu seluruhnya, dia akan menyatu dengan Lee Renzai seutuhnya." Lompatan secepat itu tidak di sadari kelima Akai. Renzai sudah berada di antara mereka.


Untuk itu, aku harus segera melenyapkan diriku sendiri, tidak ada lagi Lee Renzai, sekarang yang ada hanyalah Kimi Ga, Eraku akan bangkit.


Mereka semua tertunduk, merasakan aura gelap telah mengelilinginya, sudut pandang gadis itu telah berubah sepenuhnya, kini di dalam kepalanya hanyalah darah dan peperangan. Renzai pergi tanpa mengatakan apa-apa. Meninggalkan kelima Akai yang berdiam di sungai.


***


Kemenangan pasukan Hanjang akan di rayakan dengan pesta, meskipun bukan pesta sangat meriah tetapi makanan yang berlimpah serta minuman dan istirahat di antara prajurit sudah merupakan pesta bagi mereka. Ketika Jenderal Geem tiba di barak utama, dengan cepat dia berlari karena laporan dari salah satu prajurit yang mengatakan bahwa tenda Nona Renzai telah di serang.


Menurut laporan salah seorang prajurit bahwa Kim hyun ki menyerang tenda Nona Renzai dan menghabisi keenam prajurit itu. Salah seorang berlari, dia kembali memberikan laporan.


"Jenderal, kami menemukan tubuh kapten Kim hyun Ki di dekat hutan, dia meninggal karena di tebas pedang." Jenderal Geem sangat terkejut, begitupun pangeran.


"Renzai dimana renzai," ucap jenderal. Dari kejauhan dia melihat Renzai berjalan bersama para perawat, dia bergabung bersama mereka.


"Renzai kau tidak apa-apa?" Tanyanya. Wajah ayahnya terlihat cemas. Dari kejauhan pangeran menatap Renzai bersama dengan Tabib Jang.

__ADS_1


"Apa anda tidak mencurigai kasus kematian ini pangeran? Aku merasa pembunuhnya bukanlah orang sembarangan. Meskipun aku mungkin bisa menebak, tetapi aku tidak memiliki bukti sama sekali." Tabib Jang menatap Renzai dengan kecurigaan yang tidak di sembunyikannya.


"Berhenti menatap ke arah Nona Renzai. Aku tahu apa yang kau pikirkan, tapi berhenti menatap dan mencurigainya," ucap pangeran, entah mengapa dia mengatakan itu, setelah melihat langsung putri ketiga Jenderal Geem, ada yang berubah dari dirinya, salah satunya yaitu mimpinya tidak lagi berulang, mimpi itu terus berlanjut.


"Sepertinya andapun mencurigainya pangeran, pada lokasi dan tempat yang sama, gadis itu berada di sana. Aku pun tidak ingin mencampuri urusan gadis itu, tetapi sepertinya ... entahlah, sebaiknya aku kembali saja ke Hanjang. Aku tidak mau berada di sini dan berurusan dengan gadis itu." Tabib Jang segera pergi dan masuk ke dalam tendanya sendiri, siapa yang menyangka bahwa Renzai yang dulunya bisa dia ajak bercanda, kini baginya tampak menyeramkan, dia tahu Renzailah pelaku pembunuhan kasim Cha dan putra kim. Meskipun kematian Kim hyun ki karena kesalahan dirinya yang berani mengganggu gadis mengerikan itu.


***


"Sejak tadi siang aku berada di balai pengobatan bersama para perawat, setelah itu aku ke tenda ayah dan tidur di sana, memangnya ada apa?" Tanyanya, dia masih melihat wajah khawatir jenderal Geem.


"Tidak apa-apa, bukan sesuatu yang harus kau dengarkan, dan untungnya kau tidak ada di tenda pada saat kejadian itu terjadi, Ayah sangat bersyukur. Masuklah ke dalam tendamu, Ayah akan memerintahkan beberapa pengawal untuk berjaga di depan tendamu," ucap jenderal Geem.


***


Pangeran duduk di kursinya, tangan di dagunya, merasa ada sesuatu yang sangat penting yang di lupakannya, sangat penting tapi semakin dia ingin mengingatnya maka semakin sakit kepalanya, keringatnya berjatuhan, tapi kenangan itu menyakitkan untuk di kenang.


Jari-jarinya berada di atas meja, bergoyang tiada henti. Dari kehari mimpi yang sama selalu menghantuinya seakan mimpi itu telah ada di dalam kepalanya, terus menerus berputar, dia melihat dirinya berdiri di samping seorang Raja yang duduk di singgasananya, wajah mengerikan terlihat di wajah Raja itu. Anak kecil yang dia lihat adalah dia sendiri. Dia menatap seorang gadis kecil yang sedang menunduk memohon ampun kepada sang Raja.


Matanya kembali memberat dan tanpa sadar pangeran kembali tertidur, mimpi yang sama kembali terulang lagi. Keningnya berkeringat, terlihat dirinya yang masih berusia 10 tahun di masa puluhan tahun yang lalu, dia sedang berdiri di samping seorang Raja bengis yang tertawa terbahak-bahak melihat kehancuran Raja sebelumya. Sekali lagi dia memandang gadis kecil itu, matanya tajam memandangnya.

__ADS_1


Yamagashi, hei putraku yamagashi. Kau ingin apakan sepupumu ini? Kini kerajaannya menjadi milik Ayah, kau sekarang adalah pangeran, kau ingin apakan Kimi Ga? Tanyanya.


Matanya memandang manik mata gadis kecil itu. Biarkan dia hidup. Aku ingin melihat dia tumbuh menjadi apa dan bagaimana dia bertahan di istana ini, Ayahanda.


Hahaha, kau memang putraku, memiliki kebaikan hati seperti ibumu, baiklah Kimi Ga, Aku akan membiarkanmu hidup, tetapi kau harus berusaha menjadi seseorang yang hebat, jika tidak. Kau akan mati di tangan pangeran Yamagashi.


Pangeran terbangun dengan tubuh di penuhi dengan keringat, dia telah berada di atas pembaringannya, napasnya saling mengejar. "Kimi ga? Siapakah gadis kecil bernama Kimi Ga itu? Ugh sial, Aku terbangun di saat-saat penting, setidaknya mimpiku telah mengalami perkembangan. Siapakah Kimi Ga?" Gumam pangeran. "Mengapa aku selalu memimpikannya?"


***


Jenderal Geem telah merencanakan kepulangan Renzai ke Hanjang. Bagaimana selanjutnya? Apakah Jenderal akan kembali melaksanakan rencananya?" Ucap Otaru.


Rui memandang rembulan yang bersinar, tatapan matanya seakan kosong, ingatannya kembali jatuh pada sosok gadis di masa lampau. "Jenderal Kimi Ga, jiwanya sudah tidak tertolong lagi sejak dulu," gumamnya.


"Sst, bodoh bagaimana jika jenderal mendengarmu? Kita sudah tahu dari awal, bahwa jenderal sudah mengerikan sejak kita menjadi prajurit Akai di bawah pimpinannya. Jadi berhenti mengatakan yang tidak-tidak Rui," ucap Tutsima.


Rui tertunduk, "Aku hanya ingin menolongnya, hidup di zaman Ochtosk sebagai Kimi Ga dan sekarang sebagai Lee Renzai tidak ada bedanya, dia akan menjadi Jenderal yang kejam yang haus akan darah, aku ingin merubahnya. Aku tidak mau dia terlahir kembali menjadi seperti itu, setidaknya, aku ingin jenderal Kimi ga menjadi gadis normal yang hidup bahagia," ucap Rui dengan pancaran emosi yang dalam.


"Apa kau berkata seperti itu karena kau teman kecilnya? kau memang hidup lebih lama dengannya, tetapi dia bukan lagi kimi ga kecilmu Rui, dia adalah jenderal kita dan selamanya akan seperti itu. Jika kau menginginkan jenderal berubah, maka resiko besarnya adalah kau akan mati ditangan jenderal, Apa kau mau?" Ucap Tutsima. Rui hanya tertunduk.

__ADS_1


"Kita akan terus memantau bagaimana masa depan Jenderal Kimi Ga di kerajaan Hanjang, kita akan terus mengikutinya, akhir mengerikan bagaimana yang akan di tempuh oleh Jenderal."


__ADS_2