
Rui tiba-tiba berlutut di atas bebatuan. Hatachi mundur beberapa langkah ke belakang, seakan-akan yang dikatakan oleh Geem adalah berakhirnya kehidupan mereka, Tutsima terduduk, dia tidak percaya dan berkata pada dirinya sendiri .
"itu ... Itu tidak mungkin."
Seakan-akan seribu panah menusuk jantung Otaru. Air mata jatuh ke pipinya, penjelasan apa lagi yang mereka butuhkan? Pedang sang jenderal tidak pernah lepas dari tangan jenderal, bagaikan bagian dari dirinya sendiri.
Geem lalu melanjutkan ucapannya saat menatap kelima Akai.
"Kakak itu terkena tombak sewaktu ingin menolongku, lalu kakak itu ...." Perkataan Geem terhenti, Rui tiba-tiba berteriak.
"CUKUP! Hentikan omong kosong yang kau ucapkan bocah! Jenderal tidak mungkin ...." Rui memandang sungai Kyusu, air mata membasahi wajahnya, begitupun keempat Akai.
Petualangan mereka berperang dan bertarung bersama sang jenderal, kesetiaan kelima Akai lebih dari hidup mereka sendiri.
"Kini apa yang harus kita lakukan?" ucap Hatachi sambil terduduk di atas bebatuan sungai Kyusu, semilir angin segar dan langit mendung turut menaungi kedukaan mereka.
Otaru yang biasanya bersikap rasional dan selalu memperhitungkan segalanya, kini terduduk tidak mengetahui apa yang harus dilakukan. Matsue memandang pedang yang di pegang oleh Rui, sesuatu membuatnya tersentak kaget.
"Rui!" panggil Matsue.
"Gagang pedang ... lihat gagang pedang jenderal. Sepertinya ada sesuatu di sana." Rui melihat gagang pedang yang di katakan oleh Matsue. Dia memutarnya lalu ada secarik kertas kecil terselip di sana, Rui lalu mengambilnya. Otaru, Tutsima dan Hatachi ikut berdiri seakan ada secercah harapan bahwa jenderal mereka masih hidup.
Rui membuka gulungan, lalu di sana ada tulisan. Rui pun membacanya.
__ADS_1
"Mutiara hitam akan membuatmu hidup bagaikan mati ."
Rui memandang mereka berempat.
"Mutiara hitam?" Hatachi lalu menghapus air mata di wajahnya.
"Sepertinya aku tahu di mana mutiara hitam itu, tapi apa maksudnya? Untuk apa?" tanyanya.
"Dimana?" tanya rui.
"Dimana kita dapat menemukannya?"
Kemudian Hatachi menceritakan tentang kerajaan Ochtosk di musium para Akai sebelumnya.
"Kita semua memilikinya, perhatikan kalung kalian masing-masing."
Mereka semua memeriksa kalung yang ada di leher mereka dan menemukan kalung segi empat bergambar matahari merah di tengahnya, mereka semua melepas kalung mereka dan mengamati.
"Dimana mutiaranya?" tanya Otaru. Rui memencet gambar matahari berwarna merah, tiba-tiba gambar itu terbuka dengan bunyi klik pada atasnya.
Terdapat mutiara hitam pekat, sebesar kelereng, ketika tersentuh dengan kulit seperti layaknya sebuah es yang begitu dingin.
"Apa yang harus kita lakukan dengan mutiara hitam ini?" tanya matsue, tetapi tentu saja hatachi yang menjawabnya.
__ADS_1
"Sudah jelaskan mutiara itu harus di telan, jika kau setia terhadap jenderal dan menunggu kehadirannya kembali, maka kau tidak akan mati, sampai bangkitnya kembali sang jenderal, maka kita akan membeku seperti yang tertulis di kertas itu, kita hidup bagaikan mati." jelas Hatachi.
Otaru dan Rui memandangnya, lalu Hatachi menambahkan .
"Hei jangan rendahkan pengetahuanku, informasi di kerajaan Ochtosk sudah kulahap semua sebelum aku menjadi seorang Akai." ucap Hatachi dengan wajah menyakinkan.
Tiba-tiba Rui ingin menelannya begitu saja, lalu hatachi meneriakinya.
"Jangan di telan dulu Rui, kita harus menelannya bersama, dan mencari tempat teraman, kita bisa saja membeku ratusan tahun atau ribuan tahun untuk menunggu jenderal lahir kembali, kau tidak mau kan orang-orang memecahkan tubuh kita ketika kita membeku dan berubah menjadi patung." jelas Hatachi.
"Lalu kita akan kemana?" tanya Tutsima sambil menatap mutiara di genggamannya.
"Kupikir kita jangan terlalu jauh dari sungai Kyusu, mungkin di tengah hutan cukup aman." Rui lalu menambahkan.
"Bagaimana kita tahu jenderal lahir kembali?" lagi-lagi Hatachi yang menjawabnya.
"Itu sudah jelaskan ketika jenderal telah hadir di dunia ini, kita akan kembali seperti semula, kebekuan kita sirna seketika."
"Pertama-tama kita mencari tempat teraman," ucap otaru.
"Kalau sudah terlewat ratusan atau ribuan tahun, maka akan banyak yang berubah, kita akan ke sana." Sambil menunjuk gunung tinggi bernama Kyojin.
"Kita akan membeku di sana di puncak gunung Kyojin," ucap Rui. Matanya menatap gunung besar bersalju yang menanti kehadiran ke lima Akai.
__ADS_1