
"Tidak ada yang terjadi pada orang itu, kenapa mereka tidak menjadi buih?" Gumamnya. Kelihatannya jenderal melupakan bagian terpenting dari cerita itu, jenderal melepas topeng hitam yang menutupi wajahnya dan melepas baju besi berwarna hitam yang dikenakannya, kemudian ia pun berendam sambil memikirkan misteri sungai kyusu.
Pagi menyambut keluarga Lee Ming Kyung dengan hangat, mereka tetap tinggal di rumahnya, sementara itu geem sedang menerbangkan layang-layang yang dibuatnya sendiri berkat ajaran kakak kangnya.
"Geem!" Panggil ayah geem.
"Ada apa ayah?" Seru geem berlari kearah ayahnya.
"Kau mau ikut dengan ayah?" tanyanya.
"Ayah mau kemana?" Geem lalu menatap sepatu yang sudah menumpuk di belakang tas ayahnya yang digendong.
"Sepatunya sudah selesai geem, ikut ayah ke kota Namu." Geem pun mengangguk bersemangat.
Sementara mereka melewati hutan akhirnya melewati sungai kyusu.
"Ayah? Apakah aku boleh bermain di tepi sungai ini?"
"Kau boleh bermain Geem tapi tetap berhati-hati dengan arusnya." Kata sang ayah pada geem.
Kota namu terlihat begitu ramai, di sana sini aktivitas perdagangan lancar dan orang-orang begitu sibuk. Ayah geem berhenti di sebuah tempat di dekat penjual kain sutera, dia meletakkan sepatu jeraminya lalu menatanya.
"Geem belilah sesuatu untuk mengisi perutmu, dan belikan sedikit untuk ayah." Dia memberikan beberapa logam uang kepada Geem, maka berlarilah Geem dengan riang gembira mencari-cari sesuatu yang dapat mengenyangkan perutnya dan ayahnya.
"Bibi, aku mau ini dua ya." Sambil menunjuk dua buah bakpao panas yang beruap. Setelah membeli, Geem bersenandung dan berlari-lari kecil dan kembali pada ayahnya, tetapi sesuatu menarik perhatiannya, sebuah atraksi-atraksi dari para akrobat yang memperlihatkan kehebatan mereka.
__ADS_1
"Woah hebat sekali, Geem kemudian mengingat ayahnya, dia lalu berlari dan tanpa sengaja menabrak seseorang.
"M-maaf aku tidak sengaja, maafkan aku...." Geem menatap orang yang ditabraknya.
"Maafkan aku Nona, sambil memungut makanan yang dijatuhkannya. Wanita itu hanya melihatnya, tanpa berkata apapun dia lalu melanjutkan perjalanannya. Geem lalu berbalik melihatnya.
"Ayah, cantik sekali Nona itu."
Sementara itu dibentengi Gem para pasukan Okhtosk telah bersiap-siap untuk menyerang, Otaru Akai mengetuk kamar jenderal dan membawa nampan berisi makanan.
"Jenderal. Apakah anda telah bangun? Sarapan telah siap." Otaru melihat sesuatu yang diselipkan di sela-sela pintu. Otaru membuka pesan itu dan melihat tulisan tangan jenderal.
"Ada apa Otaru?" tanya tutsima yang masuk membawa beberapa baju bersih untuk jenderal.
"Itu saja pesannya?" Kata tutsima. Otaru menganggukkan kepalanya. Lalu Rui, Hatachi dan matsue berkumpul dengan yang lainnya.
"Otaru apakah sarapan itu untukku?" kata Hatachi sambil tersenyum. Otaru mengambil satu bakpao dan memasukkan paksa kedalam mulut Hatachi.
"Hei ada apa dengannya?" Sambil memandang Tutsima yang tidak menggubrisnya.
"Ada apa dengan mereka berdua?"
Saat ini Otaru bertugas mempersiapkan pasukan yang akan dibaginya kepada masing-masing Akai, akan tetapi ia melihat jejak sepatu, ia lalu memandangnya dan berpikir sejenak, kemudian Otaru menyentuh jejak sepatu itu di tanah.
"Ini ... sepatu seorang wanita," bisik otaru.
__ADS_1
Melihat Tutsima menuju ke arahnya, ia kembali ke posisi semula sambil sibuk memperbaiki pedang yang di taruhnya dibagian samping kuda.
"Ada apa dengan wajahmu Otaru? tanyanya.
Otaru memandang Tutsima lalu bergumam dengan dirinya sendiri.
"Mungkinkah? Tapi itu tidak mungkin."
"Apanya yang tidak mungkin?" tanya Tutsima.
"Tidak! Tidak usah kau pikirkan."
***
"Nona, kain ini cocok sekali dengan kulit Nona, cobalah lihat sebentar." Kata seorang wanita setengah baya yang memanggilnya.
"Cobalah lihat Nona, cocok sekali dengan kulit nona yang putih. Anda akan semakin cantik dengan baju warna biru muda ini," rayunya.
Wanita itu berhenti sejenak, memegang sedikit kain itu, dia sedikit memiringkan kepalanya dan berkata.
"Bibi, aku menyukai hitam. Apakah ada?" Bibi itu mengerucutkan bibirnya lalu berkata dengan suara agak keras.
"Warna hitam tidak ada nona, kenapa cari warna hitam? Warna ini paling cocok dengan kulit putih Nona."
Ia lalu Tersenyum dan melanjutkan perjalanannya melihat-lihat keadaan kota Namu, sehingga sampailah ia di depan benteng kota Gaku, perbatasan antara kota Namu dan benteng Gaku.
__ADS_1