
"Aku tidak menyangka, bahwa kau mengetahui prajurit bertopeng itu adalah aku, wakil kapten Cheon?" Ucap Renzai dengan tersenyum licik.
"Aku menebaknya, keahlian pedang anda sangat hebat begitupun dengan keahlian anda dalam memanah." Ucapnya. Dia berdiri kikuk tidak jauh dari Renzai.
"Wakil kapten. Aku yakin bahwa kau pasti tahu apa yang harus kau lakukan." Ucap Renzai, dia mengangkat telunjuknya di bibirnya.
"Tutup mulut jalan terbaik, wakil kapten Cheon. Saya tidak ingin namaku di sebut-sebut nantinya, semua ini tidak ada sangkut pautnya denganku, kau mengerti."
Wakil kapten Cheon hanya menelan ludahnya, ketika mendengarkan ancaman Renzai.
"B-baik."
☘️
"RENZAI." Suara itu sungguh terdengar sangat panik, dia mengelilingi benteng dan lapangan tempat prajurit berkumpul untuk mencari putrinya, tabib Jang ada di belakangnya membantu Jenderal mencari putrinya.
"Ayah."
Suara itu terdengar dari arah belakang. Jenderal Geem berbalik begitupun bersama tabib Jang.
"Renzai." Ucap Jenderal Geem ketika melihat Renzai berjalan ke arahnya, kali ini renzai sudah mengenakan pakaiannya sendiri setelah melepas pakaian prajurit itu.
Sang jenderal kemudian menghampiri putrinya lalu memeluknya.
"Renzai. Kau dari mana saja, sejak tadi ayah mencarimu," ucap Jenderal Geem dengan khawatir.
"Aku baik-baik saja. Aku hanya masuk sebentar ke dalam hutan untuk memetik tanaman obat-obatan." Matanya melirik kepada tabib itu yang terlihat ragu dengan ucapannya.
"Ayah akan bicara dengan putra mahkota, agar secepatnya kau dipulangkan ke Hanjang, disini sangat berbahaya, musuh bisa menyerang kapan saja."
Renzai tidak setuju dengan ucapan Ayahnya. Dia lalu menatap ayahnya dengan wajah sungguh-sungguh. "Aku di perintahkan ke tempat ini untuk menerima hukumanku, ayah. Bukankah melalaikan hukuman sama saja mencoreng nama besar keluarga kita. Aku akan menyelesaikan hukumanku dan kembali bersama Ayah ke Hanjang, apalagi hukumanku tinggal seminggu lagi, itu tidak akan lama, lagi pula selama aku menjalani hukuman, banyak pelajaran yang berharga yang kudaparkan di sini Ayah."
Sang ayah menghela napasnya. "Baiklah jika itu yang kau inginkan, kalau begitu kita kembali ke perbatasan, kita akan meninggalkan benteng ini sekarang juga, benteng ini tidak aman, sewaktu-waktu musuh dapat kembali menyerang dari segala arah."
"Baik Ayah."
Mereka naik kuda bersama-sama menuju ke perbatasan, Jenderal geem memperhatikan putrinya sejak tadi, tatapannya lurus ke depan dan terlihat dingin, senyuman sangat jarang terlihat di wajahnya.
Jenderal Geem menggelengkan kepalanya. Putrinya baik-baik saja, tidak ada yang aneh dengan sikapnya. Dia kemudian mengangguk dengan yakin.
"Renzai, sesampainya di perbatasan, kau harus bertemu dengan yang mulia putra mahkota dan minta maaflah pada pangeran, meskipun kau telah menjalankan hukumanmu tetapi kau harus tetap meminta maaf kepadanya, kau harus memperlihatkan bahwa kau tulus meminta maaf, kau mengerti?" Ucap sang Ayah.
Renzai bersusah payah menahan dirinya untuk tidak mendengus, giginya menggertak kuat dan menjawabnya.
"Baik Ayah."
***
Kelompok Jenderal Geem tiba di perbatasan, mereka tiba dengan selamat, tidak ada penyerangan pasukan musuh. Jenderal Geem lalu menatap putrinya.
"Renzai, kembalilah ke kamarmu dan beristirahat, Ayah akan menemui yang mulia pangeran."
"Baik Ayah."
__ADS_1
Renzai berjalan dan akan kembali ke ruangannya, langkah kaki itu berada di belakangnya, sehingga Renzai berbalik dan menatap tabib Jang.
"Wah wah, pelajaran apa yang bisa anda pelajari di tempat seperti ini Nona? di sini hanya perang dan kematian yang menunggu para prajurit, begitupun para tabib dan perawat lainnya." Dia merentangkan tangannya mengejek ucapan Renzai. Dia hanya menatap tabib itu dan tidak menghiraukannya, Renzai terus berjalan dengan cepat.
"Lee Renzai, kau mau kemana? Bukankah Jenderal berpesan agar kau beristirahat? Teriak tabib Jang dengan sengaja agar Jenderal geem mendengarnya. Renzai menggertak giginya sambil terus berjalan.
"Suatu saat, tabib konyol itu akan mati di tanganku." Gumamnya. Langkah kakinya terhenti ketika melihat empat orang pria telah berdiri di hadapannya.
"Kalian selalu ada di mana-mana." Renzai menatap kelima Akai yang tengah menghalangi jalannya. Sebelum mereka berbicara, Renzai telah melompat dengan melewati mereka berlima dengan lincahnya, kelima Akai tentu saja ikut berlari mengejar Renzai.
"Jenderal." Ucap Rui, suaranya terdengar terluka.
Pandangan mata Renzai membuat kelima Akai terdiam.
Hatachi menyenggol lengan Tutsima. "Katakan sesuatu, apa kita hanya diam saja di sini? Suasananya akan canggung."
Mata itu seketika berubah menjadi merah, senyum jahat merekah di wajahnya.
Para Akai, kepada siapa kesetiaan akan kalian berikan?
( Dalam bahasa kerajaan Ochtosk).
Kesetiaan dan nyawa kami, akan kami berikan kepada Jenderal Kimi Ga.
Para Akai mengucapkan dengan serempak.
Tubuhku saat ini belum bangkit sepenuhnya, kalian tetap berjaga, pangeran Himagasih ada di sini, jika waktunya tepat, aku akan menghabisinya dan merebut tahta Kerajaan Juseon, pedangku sudah sangat haus akan darah.
Wajah kelima Akai terlihat pucat, tanpa mengatakan apapun lagi, Renzai meninggalkan mereka dan masuk ke dalam ruangannya.
***
Dari sisi barat merupakan tenda kediaman putra mahkota, dia baru saja akan keluar dari tenda, ketika Jenderal Geem telah berdiri di hadapannya.
"Selamat datang Jenderal Geem, bagaimana? apakah putrimu telah di temukan?"
"Hamba sudah menemukannya, pangeran. Sekarang dia sedang beristirahat, tubuhnya lemah setelah berkuda. Hamba akan membawanya kehadapan anda setelah dia bersiap-siap."
Sang pangeran sejak tadi menatap dari kejauhan seorang pria yang mengintip dari balik tembok, dia memberikan isyarat kepada kasimnya dan membisikka sesuatu kepadanya.
"Baik pangeran." Kasim itu lalu pergi dan menemui tabib Jang, dia lah yang sejak tadi mencuri dengar sesuatu di balik tembok itu.
"Bawa putrimu ke hadapanku, aku ingin mendengar sendiri pendapatnya mengenai hukuman yang telah aku berikan kepadanya."
"Baik pangeran."
***
Hatachi duduk di lantai batu, dia terlihat merenung, begitupun dengan para Akai lainnya.
"Jenderal sama sekali tidak berubah, dia masih sama seperti dulu, haus darah. Jika jenderal seperti itu, tidak akan ada bedanya dengan puluhan tahun yang lalu, dia akan kembali menjadi buih, dan hal itu akan terus berulang, takdir yang terus berputar." Ucap Otaru dengan sedih.
"Apa yang harus kita lakukan? Kau sudah mendengar apa yang diinginkan jenderal." Ujar Tutsima menatap tajam mereka.
__ADS_1
"Kita akan tetap setia tentu saja, sebagai Akai milik jenderal, seharusnya kita mengikuti segala titahnya, tetapi sebagai teman di masa lampau, kita harus menyelamatkan dirinya, jiwanya sudah tercemar dengan darah, pedang jenderal seperti bagian dari jiwanya, tidak akan terpisahkan, selama jenderal memegang pedangnya, maka lingkaran setan tidak akan pernah terputus, akan terus berulang." Ucap Rui.
"Apa yang harus kita lakukan? menghalanginya berperang? Atau mencari cara agar kita menyegel jenderal kimi ga, dan dia tidak akan pernah bangkit dari tubuh Renzai." Ucap Hatachi.
"Bodoh, jika itu terjadi, maka kita berlima akan kembali membatu, kau mau?" Ucap matsue sambil mendengus.
"Itu tidak akan mungkin, sedikit demi sedikit Jenderal telah menguasai pikiran masa kininya, maka ketika itu terjadi, tidak ada yang bisa kita lakukan kecuali mematuhi sang Jenderal."
Di dalam ruangan kecil, Renzai sedang berbaring mengistirahatkan tubuhnya tiba-tiba senyuman menakutkan terlihat dari sudut bibirnya.
Akai, itu tidak akan terjadi, kalian tidak akan bisa menyegelku.
***
Suasana di tenda cukup sepi, hanya beberapa prajurit yang berada di sana sedang berjaga, langkah sepatu terdengar.
"Putra mahkota, hamba membawa pria yang tadi siang bersembunyi di balik tembok." Ucap sang kasim.
"Bawa dia masuk."
Dua orang kasim memegang seorang pria yang tidak lain adalah Tabib Jang, dia dibawa ke hadapan pangeran.
Tabib Jang tertunduk patuh, meskipun begitu, dia tidak terlihat ketakutan bahkan terlihat senyuman dari wajahnya.
"Kenapa kau menunduk seperti itu Kim Seo jang?" Ucap Pangeran.
Kedua kasim itu mundur pelan-pelan dan keluar dari tenda. "Lama tidak bertemu Seo Jang, apa yang membuatmu bertahan sebagai tabib di luar sana dan meninggalkan istana begitu lama."
Tabib Jang kini mengangkat kepalanya, dia lalu duduk dengan santai di depan pangeran. "Kau tahu sendiri kan, aku lebih senang hidup di luar istana di bandingkan di dalam istana, ibu akan terus menerorku terus menerus agar aku kembali menempati posisiku sebagai pangeran ke tiga." Ucapnya.
"Sejak kecil, kau tahu sendiri kalau aku tertarik dengan dunia perobatan, di bandingkan dengan urusan negara. Aku akan terkekang dan hidup menderita jika aku di jauhkan dari perobatanku." Ucap tabib Jang.
"Jangan khawatir, sepertinya ibumu sudah menyerah, dia pernah mengatakan kepadaku bahwa dia lebih mementingkan kebahagiaanmu, dibandingkan dengan apapun."
Tabib Jang mendengus. "Dan kau percaya perkataan ibuku? Aku lebih mengenalnya di bandingkan siapapun juga, aku sudah berusaha membujuknya untuk menghilangkan keinginannya menjadikanku kandidat putra mahkota, tetapi ibu tidak akan pernah menyerah." Ucap tabib Jang sambil menggelengkan kepalanya.
"Minumlah, kau baru tiba dari perjalanan jauh bersama Jenderal Geem dan putrinya."
Suara kekehan terdengar dari tabib Jang. Dia memberikan senyum melengkungnya. "Kudengar-dengar dia dihukum dan di bawa kemari karena dia melarikan diri dari seleksi pemilihan putri mahkota, apa itu benar?"
"Tsk, seperti yang kau dengar, yang mulia Raja yang menetapkan hukumannya, lalu mereka mengatakan atas perintahku, seakan aku betul-betul mengingingkannya." Ucap pangeran sambil menggelengkan kepalanya.
"Aha, mungkin yang mulia Raja menginginkan salah satu putri Jenderal Geem akan menjadi menantunya."
"Jangan bercanda, aku bahkan tidak pernah melihat dengan jelas wajahnya." Ucapnya.
"B-benarkah? Daebak." Ucapnya sambil tertawa.
"Ada hal yang lebih penting dari itu. Apa yan kau lakukan bersembunyi di balik tembok? Siapa yang kau intip?"
Tabib Jang lalu teringat dengan pembicaraan aneh antara Renzai dan kelima pria itu tadi siang.
"Ah, aku mengingatnya. Apa kau pernah dengar mengenai Akai? Aku tadi sedang mendengarkan pembicaraan antara lima orang pria dan putri Jenderal Geem. Mereka berlima terlihat aneh, mereka juga sepertinya mengikuti Nona Renzai setiap saat." Ucap tabib Jang.
__ADS_1