
Renzai berlari sekuat tenaga, menuju ke istana saat itu juga, tetapi ingatannya kembali kepada kelima Akai. "Ck sial ! bajuku ada padanya."
Renzai merubah haluan, dia akan mencari kelima Akai dan bermaksud mengambil kembali pakaian yang dikenakannya dari istana saat itu, dia kembali mengingat-ingat siapa yang membawa pakaian istananya?
"Salah satu pria di antara kelima pria itu membawa baju istana yang kukenakan tadi." Ucap renzai mengingat wajah Hatachi.
Renzai menyusuri pasar, dia mencari kediaman kelima Akai, ketika dia menemukan tempatnya, tidak satupun dari kelima pria itu ada di sana, ia kemudian menyusuri kediamannya dan mencari pakaiannya, kemudian sesuatu menarik perhatiannya, ia berbalik dan memandang sesuatu di dinding. Sebuah gambar yang cukup besar di pajang di dinding itu.
"Ke..kenapa wajahku ada di gambar itu?" Ia lalu memperhatikan lagi pakaian yang di kenakannya di gambar, pakaian yang dikenakannya tidaklah biasa, dia mengenakan baju yang terbuat dari besi hitam, pedang berada di tangannya, rambutnya diikat tinggi, separuh rambutnya menutupi sebelah matanya, tapi wajahnya, meskipun sangat mirip, wajah seorang wanita di gambar itu terlihat lebih dewasa, tetapi wajahnya terlihat sangat kejam, wajah seorang pembunuh.
Renzai melangkah lebih dekat, dan memegang gambar itu, seketika memori baru terbentuk di ingatannya.
Seorang wanita memakai baju besi berwarna hitam, ia lalu menutupi wajahnya, dengan topeng hitam, langkah seseorang membuatnya berbalik
"Jenderal, pasukan telah siap."
Ia keluar dari ruangan itu dan menatap ke lima Akai yang tertunduk di hadapannya, salah satu dari kelima akai memandang sang jenderal
Renzai terkesiap dan terkejut. "Mereka semua siapa? kenapa wajah mereka berlima ada di dalam ingatannya.
Renzai kemudian berbalik, dan mendapati baju yang di kenakannya tadi pagi sewaktu di istana, kemudian dia mengambilnya, sekilas dia memandang kembali gambar itu, lalu segera pergi dari tempat itu.
"Mereka berutang penjelasan kepadaku, siapa sebenarnya kelima pria yang selalu memanggilku jenderal." ucap renzai.
~
Pagi telah menampakkan dirinya ketika cahaya mentari menyinari seluruh pelosok istana, Hana menunggu dan berharap pada Renzai agar datang menolongnya, begitupun keluarganya. Renzai berlari menyusuri pepohonan, lalu menyusuri pasar, Ia telah mengenakan pakaian dari istana, Renzai telah melihat gerbang istana dan ingin segera masuk ke dalam istana.
Lima Akai berdiri di hadapannya, ia menghalangi jalannya, Renzai berhenti dan mendengus. "Apa yang kalian lakukan, minggir !"
"Kami tidak bisa membiarkan anda untuk masuk kedalam istana, tidak akan kami biarkan." Ucap Rui, sambil menundukkan kepalanya.
"Apa yang kau katakan? ck, minggir, kalian menghalangi jalanku." bentak Renzai.
Apa mereka gila? Renzai menggertakkan giginya, waktunya hanya sampai siang hari, jika dia tidak segera kembali ke istana, nyawa kakak dan keluarganya terancam.
Renzai bergeser hendak berlari, tetapi kelima Akai pun ikut bergeser, dia kembali menghalangi jalan Renzai.
"Maafkan kami." Ucap Otaru. "Kami menunggu bangkitnya jenderal kembali, tapi bukan melihat anda untuk menikah dengan putra mahkota." Ucap Otaru.
"Apa? Jenderal?" Renzai memutar bola matanya, "Siapa yang akan menikah ! minggir kataku !" Renzai menyerang kelima Akai, mereka pun tidak mengelak ketika terkena pukulan dari Renzai ketika dia menyerang, mereka bertarung tetapi tidak sekalipun ada keinginan dari kelima Akai untuk menyakiti Jenderal mereka.
Setelah mereka semua terjatuh di tanah, Renzai hendak pergi, tapi Rui lalu teriak.
__ADS_1
"Jangan pergi jenderal..." Teriak Rui seakan renzai akan pergi selamanya.
"Apa dia sinting, kenapa dia tidak berhenti memanggilku dengan sebutan jenderal." gumamnya.
Renzai berlari melanjutkan perjalanannya menuju ke istana, Renzai akhirnya tiba di depan gerbang ke istana, prajurit membiarkan dia lewat karena melihat pakaian yang di kenakannya, matanya tertuju pada Hanna yang duduk seorang diri di tengah-tengah lapangan istana
Renzai menghampiri Kakaknya, semua orang yang berdiri di sana menatap ke arahnya, mereka semua berbisik-bisik, Hana menyadari kedatangan renzai, dia kini berdiri di sampingnya, pandangan Hana kepada renzai begitu marah sekaligus cemas.
Renzai tidak berkata apapun, Ia menunggu apa yang akan mereka katakan karena pelariannya dari istana, ia menunggu hukuman apa yang akan di terimanya.
Seorang kasim baru saja keluar dari istana dalam, dan berhenti di depan Renzai.
"Kepada Nona Lee Renzai yang telah melarikan diri pada saat seleksi pemilihan putri mahkota, dia telah menyalahi peraturan istana, dengan melarikan diri, dan melukai pelayan istana, maka yang mulia memutuskan akan memberikan Hukuman kepadanya."
Wajah Hana memucat, dia kemudian menatap Renzai, dengan wajah ketakutan.
"Hukuman yang diberikan istana kepada Nona Lee Renzai adalah, dia akan dikirim sebagai asisten perawat pada Benteng Arang yong yang berada di garis depan Hanjang, anda akan di berangkatkan esok hari." ucap kasim itu.
Tiba-tiba Hana berdiri, dia kemudian memegang tangan Adiknya, dia menggelengkan kepalanya, dia ingin mengatakan sesuatu tetapi hanya air mata yang terus mengalir di pipinya.
"Renzai, renzai apa yang harus kita lakukan?" ucapnya sambil terus menangis. "Kita...kita akan mengatakannya kepada Ayah." Ucapnya.
"Kau tahu? apa yang ada di Benteng Arang yong??" Ucap Hana menggenggam erat tangan adiknya. Renzai menggelengkan kepalanya.
"Perang ! perang Renzai, bukan hanya prajurit saja yang bisa kehilangan nyawanya jika di kirim ke garis depan, tetapi siapa saja yang ada di sana sewaktu-waktu nyawanya akan melayang."
Renzai di bawa dua pengawal ke ruangan lain, tempat hana di tahan dahulu. "Ck, Perang ya? mungkin cocok untukku, kenapa menunda sampai besok? kenapa tidak pergi sekarang saja?" Ucap renzai menantang sambil mempelototi dua prajurit itu, mereka heran mendengar perlawanan renzai, mereka pikir wanita ini akan menangis sejadi-jadinya dan memohon ampun agar hukumannya di ringankan tetapi mereka salah duga, Wajah renzai menyiratkan perlawanan, dia tersenyum sinis kepada dua prajurit itu.
Mereka saling menatap, tetapi tanpa berkata apa-apa, akhirnya kedua prajurit keluar dari ruangan itu setelah menguncinya.
🌿
Hanna mentautkan jari-jarinya, dia sekarang berada di dalam tandu, dia menyuruh pengawal agar berjalan lebih cepat. Setelah hana tiba di kediamannya, dia segera berlari dan berteriak-teriak tanpa memperdulikan banyak pengawal di sana.
"Ayah ! ayah...Renzai....
Langkah Hana terhenti, ternyata seseorang berada bersama ayahnya, Hana membelalakkan matanya, dia seketika menunduk, ternyata putra mahkota ada di ruang pertemuan bersama jenderal Lee Geem Ling.
"Ma..maafkan aku." Ucap Hana tertunduk.
Jenderal Geem menghembuskan napasnya.
"Aku sudah mendengarnya, maafkan aku yang mulia, sebagai jenderal, hukuman yang pantas untuk seseorang yang menghina keluarga kerajaan, tidak ada yang lebih baik dari titah yang mulia saat ini." Ucapnya.
__ADS_1
Hana terkejut, mengapa ayahnya tidak membela Renzai, atau memohon kepada yang mulia agar memberikan hukuman yang lain saja ! pikir hana marah.
"Ini adalah titah yang mulia, jenderal Geem, dan bagaimanapun juga titah raja baru saja diumumkan di depan khalayak." Ucap putra mahkota.
"Tidak yang mulia, hukuman itu bukanlah apa-apa, anda sudah datang kemari saja merupakan kehormatan besar bagi keluarga kami."
Hana, cha wun dan ibunya menunggu di sudut belakang, ketika jenderal geem berbicara kepada pangeran mahkota. Ketika putra mahkota telah pergi bersama para pengawal-pengawalnya. Mereka bertiga mengelilingi ayahnya meminta kepastian mengenai Renzai.
"Ayah, ayah bagaimana dengan Renzai? apa yang akan terjadi padanya?" ucap Hana.
Jenderal Geem hanya diam, "Tidak ada, tidak ada yang bisa kita lakukan jika yang mulia sudah mengeluarkan titahnya."
"Ta..tapi ayah, dia akan di kirim ke garis depan sebagai asisten perawat, tempat itu paling berbahaya, peperangan antara Hanjang dan kerajaaan Jamoung masih bergulir, bukankah menempatkan renzai di sana sama saja menghukum mati Renzai." Ucap Cha wu.
"Cukup!" Jenderal menghentikan pembicaraan, dia lalu meninggalkan mereka bertiga, tinggal ibunya dan hana yang menangis tersedu-sedu, dan Cha Wu yang tertunduk dan diam.
🌿
Berita tentang hukuman yang diberikan kepada Renzai sudah sampai ke telinga para Akai.
"Apa? Mana mungkin, tidak masuk akal." Ucap Matsue jengkel, "Dia kan hanya pergi sebentar dari istana, terus dia kan kembali lagi, apanya yang menghina anggota kerajaan, hukuman ini mengada-ada." dia kemudian mendengus.
"Kapan Jenderal akan di berangkatkan?" Tutsima bertanya kepada Hatachi si pembawa kabar, " Besok, dia akan berangkat begitu kapal bersandar." Ucap hatachi sambil mondar mandir.
"Apa yang harus kita perbuat?" Ucap Hatachi sambil menggigit kukunya, dan terus berjalan kesana kemari, membuat Matsue jengkel di buatnya.
"Hatachi hentikan panikmu itu, bikin orang sebal tahu ! semua orang juga sedang mencemaskannya." Ucap matsue sambil melotot.
"Jenderal akan berangkat besok pagi ketika kapal bersandar, mungkin dia akan menggunakan kapal perbekalan prajurit." Ucap Otaru.
Rui sejak tadi diam, kemudian dia menatap mereka semua dan mulai mengemukakan apa yang ada di pikirannya.
"Harusnya..." Rui memulai.
"Harusnya apa Rui." Tanya Otaru.
"Harusnya kita bunuh saja pangeran mahkota itu," Kata Rui tajam, ia memandang ke jendela dan menatap istana dari kejauhan.
"Tutup mulut Rui, bagaimana jika seseorang mendengarmu." Ucap Otaru.
"Ya, tutup mulut Rui, kau ini mengada-ada." Ucap Hatachi.
"Tidakkah kalian ingat ketika di kerajaan Ochtosk?" Ucap Rui. "Pangeran Yamagashi, dia selalu menempatkan jenderal kita di situasi dan kondisi yang berbahaya, ada sesuatu tentangnya yang aneh kepada jenderal kita, saat itu dia selalu muncul dimana-mana menghalangi kita dan jenderal, dia selalu menjadi penghalang terbesar bagi kita para Akai dan jenderal."
__ADS_1
Tutsima menaikkan alisnya, dia tahu sejak dulu persaingan antara Rui dan pangeran yamagashi selalu terjadi, apalagi jika melibatkan jenderal kita.
"Besok pagi kita semua sudah berada di kapal." Ucap Otaru.