Bloody General Sword

Bloody General Sword
Eps 40


__ADS_3

Prajurit Hanjang diperkuat di benteng Gamyoung agar benteng itu tidak mudah lagi di taklukkan, jika musuh tiba-tiba menyerang. Jenderal Geem memperhatikan dengan seksama tubuh-tubuh yang telah di kumpulkan dalam satu tempat. Mereka akan di makamkan. Mata jenderal kembali menatap luka sayatan yang terlihat sama di setiap tubuh musuh.


"Wakil Cheon, apa kau tidak meyaksikan bagaimana musuh-musuh ini dapat di kalahkan? Sebelum prajurit kita tiba, musuh sudah di kalahkan dengan telak. Sangat aneh bukan?" Ucap Jenderal Geem.


"Coba kau perhatikan luka sayatan di tubuh mereka. Luka itu persis sama. Cepat, dalam dan mengenai langsung tempat paling vatal di tubuh mereka, sehingga dengan mudah mereka berjatuhan. Sebenarnya siapa yang melakukan penyerangan ini, aku yakin musuh ini di kalahkan bukan serangan dari prajurit biasa." Ucap Jenderal Geem.


Wakil kapten Cheon terlihat salah tingkah, tetapi jenderal tidak memperhatikannya. Dia terus menelusuri jejak-jejak yang ditinggalkan sang pembunuh.


***


Setelah beberapa hari, pembersihan benteng pun di lakukan. Keadaan kembali aman, Jenderal dan wakil kapten Cheon kembali ke barak utama, dimana penjagaan super ketat terlihat di sana. Pasukan Jenderal di sambut oleh Pangeran beserta tabib Jang. Sedangkan Renzai berdiri menjauh di sana, menatap ayahnya yang kembali pulang. Bisik-bisik terdengar dari pelayan-pelayan pangeran, mereka terus berbalik kepada Renzai yang hanya acuh tidak seperti seorang putri yang menyambut sang ayah setelah pulang dengan selamat sehabis berperang.


"Selamat datang Jenderal. Anda sangat berjasa karena merebut kembali Benteng Jamyoung." Ucapnya.


Jenderal hanya menundukkan kepalanya, karena tidak bisa menjelaskan situasi yang sebenarnya di depan orang-orang. Dia harus berbicara dengan pangeran secara rahasia karena hal ini berita yang begitu penting.


Renzai memperhatikan wakil kapten Cheon yang berdiri di samping jenderal Geem. Tatapannya jatuh kepada Renzai, dengan cepat dia mengalihkan tatapannya karena ketakutan.


Setelah berbincang-bincang dengan pangeran, Jenderal Geem segera pergi dan berjalan menuju kepada putrinya. "Kau baik-baik saja selama di sini Renzai? tidak ada sesuatu yang terjadi?" Ucap sang ayah.


"Tidak ada ayah, semua baik-baik saja, kenapa ayah tidak masuk ke dalam dan beristirahat? Pelayan akan menyiapkan baju ganti ayah." Ucap Renzai. Jenderal mengangguk dan menghembuskan napasnya, dia memang letih sehabis berkuda.


"Kau benar Renzai, ini hari yang melelahkan, sebaiknya ayah beristirahat." Jenderal Geem masuk ke tenda.


**


Wakil Cheon berdiri seorang diri di dekat kuda-kuda yang di tambatkan, dia terlihat gelisah dan terlihat sedang berpikir begitu keras.


"Apa yang membuatmu berwajah seperti kau sedang di ancam oleh seseorang, wakil kapten Cheon?" Ucap Renzai, dia berdiri di sampingnya sambil bersedekap. Wajahnya menyeringai ketika pria itu terkejut.


"Tidak ada Nona, Emm jenderal sepertinya mencurigai mayat musuh yang terbunuh dengan cara yang sama, instink jenderal sangat hebat, dia bisa merasakan ada yang tidak beres dari kekalahan musuh-musuh. Dia kelihatannya akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi." Ucapanya.


"Bukankah itu menjadi tanggung jawabmu? Kau kuperintahkan menutupi jejakku, terserah bagaimana caramu, yang terpenting jenderal Geem tidak mengetahui tentangku dan tentang kelima pria itu." Ucap Renzai. Matanya tajam mengancam kepada wakli kapten Cheon.


"B-baik, saya akan memikirkan segala cara. Tetapi, bolehkah saya mengetahui, siapa kalian sebenarnya?" Ucap wakil kapten itu. Renzai hanya melengkungkan bibirnya membentuk senyuman.


"Kerjakan saja yang aku perintahkan, jika kau berkhianat. Aku bisa menemukanmu kapan saja."

__ADS_1


"B-baik, saya mengerti." Renzai lalu pergi meninggalkannya. Dia terlihat lebih gugup dari biasanya. Tanpa dia sadari, pangeran dan tabib Jang sedang mengamati mereka sejak tadi. Bukan hanya dia saja. Seluruh pelayan dan dayang-dayang menggosipkan keakraban mereka.


"Siapa dia tabib Jang?" tanya pangeran.


"Erm, dia seorang wakil kapten, sudah sejak lama dia bertugas di benteng, aku tidak tahu bahwa dia seakrab itu dengan Nona Renzai." Ucapnya.


Tabib jang berjalan dan mendekati wakil kapten Cheon, dia sengaja duduk di dekatnya ketika makan siang bersama. "Selamat datang kembali wakil Cheon." Ucapnya.


"Ngomong-ngomong kau sangat akrab dengan putri jenderal." Ucapnya sambil melirik wakil Cheon yang tiba-tiba berjengit mendengar pertanyaannya.


"T-tidak tabib Jang, siapa bilang aku akrab dengan putri jenderal, tadi dia hanya bertanya padaku mengenai situasi benteng Jamyoung, dia tidak bertanya kepada ayahnya karena jenderal Geem terlihat lelah." Ucapnya terbata.


Tabib Jang terkekeh. "Kau tidak pandai berbohong, kau tahu? Kalian memiki rahasia, dan kau tidak mau berbagi kepadaku?" Ucap Tabib. Wakil Cheon berpura-pura tidak mendengarnya, dia memalingkan wajahnya dan memunggunginya.


***


"Nona Lee Renzai, anda di undang makan malam bersama Jenderal Geem dan pangeran mahkota, silahkan anda bersiap-siap, kami akan melayani anda. Perintah ini langsung dari pengeran. Renzai memukul meja hingga terdengar suara dari dalam tenda, para pelayan itu saling melirik dari luar tenda.


"Masuk." Perintahnya.


Empat orang dayang masuk ke tenda milik Renzai. Mereka menunduk dan memberi hormat.


Mereka bekerja dalam diam, pakaian Renzai di ganti dengan gaun indah bersulam, warna krem dan putih berpadu dengan sulaman indah kupu-kupu di setiap tepiannya. Rambut renzai yang panjang di bentuk dengan indah dan diberi perhiasan, wajahnya pun di poles dengan makeup natural yang membuatnya terlihat lebih cantik. Renzai kini menatap wajahnya.


Apa ini? Kenapa wajahku seperti mengenakan sebuah topeng?


"Anda sangat cantik, Nona. Silahkan lewat sini, kami akan mengantar anda ke tenda pangeran." Renzai menatap bosan mereka semua. jika di perbolehkan dia ingin melarikan diri saja, tetapi hal itu nanti akan menyulitkan jenderal Geem dan pada akhirnya akan menyulitkan dirinya. Tabib Jang juga menuju ke tenda pangeran ketika mereka saling berpapasan.


"Wah, anda terlihat berbeda. Bagaimana kalau kita jalan bersama?" Ucapnya. Renzai mendengus dan dengan sengaja mengacuhkannya, ingin sekali dia menutup mulut cerewet itu yang sejak tadi mengoceh.


Renzai masuk ke dalam tenda, tampak di sana Jenderal Geem dan pengeran serta tabib Jang. Mereka semua menatapnya, dia membungkukkan sedikit tubuhnya.


"Duduklah Nona Renzai, silahkan duduk di sini." Ucap tabib Jang memberikan tempat duduk untuk Renzai di depan pangeran.


***


"Kita tidak bisa berada di sana, menyebalkan." Ucap Hatachi, dia sejak tadi memperhatikan yang terjadi di sekitar tenda pangeran.

__ADS_1


"Sekarang apa yang akan terjadi? Bagaimana jika pangeran tertarik kepada jenderal, dan berniat menjadikanya sebagai permaisurinya?" Ucap Otaru.


"Jika itu terjadi, aku lebih baik membiarkan segel jenderal terbuka, biarkan dia menghabisi seluruh kerajaan Hanjang. Itu adalah pilihan pertama yang akan aku lakukan, tetapi jika itu tidak bisa terjadi, lebih baik aku membunuh jenderal, dan biarkan aku kembali menjadi batu. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi selama aku masih hidup." Ucap Rui.


Tutsima menatap rembulan malam, lalu kembali menatap Renzai yang sedang duduk di antara mereka.


"Kenapa hatiku sakit?" Gumamnya sambil memegang dadanya.


Saat itu Hatachi dan matsue tergelak, dia tertawa terbahak-bahak sampai harus di pukul oleh Rui karena suara mereka yang besar.


"Apa kau cemburu Jenderal duduk bersama mereka?" Ujar Hatachi.Tutsima memandang mereka dari kejauhan.


"Selama kita menjadi Akai dan mendampingi Jenderal, satu kalipun aku tidak pernah duduk seperti itu bersama Jenderal, apalagi makan bersama, mereka sialan beruntung." Ucapnya


"Kau tahu apa yang sekarang Jenderal pikirkan? Kalian tahu?" Ucap Hatachi. "Aku bisa menebaknya. Saat ini dia pasti memikirkan kata bosan, dia ingin segera keluar dari tenda itu. Atau suatu hari akan membunuh mereka."


Renzai menyeringai ketika tabib Jang memujinya dan mengatakan akan senang jika saja mereka lebih cepat bertemu. "Jenderal Geem bagaimana kalau aku melamar Nona Renzai? Lagi pula dia tidak terpilih menjadi putri mahkota." Ucapnya setengah mabuk. Jenderal Geem hanya terkekeh mendengarnya. Renzai mengepalkan tangannya.


Sangat membosankan, aku ingin segera keluar dari tenda sialan ini. Suatu hari mereka semua akan kuhabisi.


Renzai menyesap minumannya. Saat ayahnya telah mabuk dan sudah tidak sadarkan diri. Renzai mengangkat tangannya, empat orang pengawal dari luar segera masuk. "Bawa Jenderal Geem ke ruangannya." perintahnya.


"Baik Nona." Renzai berdiri, dia membungkuk kepada pangeran sebentar. "Kami permisi, pangeran." Ucap Renzai, Sebelum dia beranjak dari tenda, pangeran mengatakan sesuatu.


"Nona Lee Renzai, silahkan duduk dulu, ada hal yang ingin saya katakan kepada anda. Biarkan prajurit membawa Jenderal ke tendanya."


Renzai tidak mengatakan apa-apa, dia lalu kembali duduk di depan mereka berdua. Wajah dingin paten Renzai terus seperti itu. "Tuangkan minuman di cawanku." Ucap pangeran dengan perintahnya.


Mata Renzai beralih kepada pria yang duduk di depannya.


"Ini perintah, jika kau tidak melakukannya, maka aku akan menunda kepulanganmu ke kota Hanjang, hukumanmu akan bertambah menjadi sebulan, apa kau mau?" Tambahnya.


Renzai menyeringai dengan wajah angkuhnya dia lalu berdiri. "Saya lebih memilih di sini selama sebulan." Ucapnya datar. Tabib Jang membelalakkan matanya, sementara kepala dayang yang ada di sana menatapnya dengan heran.


"Nona Renzai, d-duduklah tuangkan minuman itu sekarang." Ucap tabib itu tercengang dengan pilihan Renzai. Tatapan renzai terlihat merendahkan dengan senyum miring di wajahnya. Ingatan masa lampau muncul di pikirannya, mata mereka saling bertemu. Dia tidak akan lupa hari itu, hari ketika pria di hadapannya menyerang kota Gem hanya ingin membunuhnya.


"Sudahlah, kau boleh pergi." Ucap pangeran.

__ADS_1


Renzai membalikkan tubuhnya, dia perlahan berjalan lalu keluar dari tenda. Tabib Jang menggelengkan kepalanya. "Gadis itu betul-betul keras kepala, bagaimana mungkin dia akan menjadi putri mahkota, tentu saja dia menjadikan kakaknya sebagai tameng agar dia tidak ikut terpilih mengikuti seleksi pemilihan putri mahkota, bahkan menuangkan minum di cawanmu pun dia tidak mau, apalagi terpilih menjadi ratumu." Ucap tabib Jang sangat terkejut dengan sikap Renzai.


__ADS_2