Bloody General Sword

Bloody General Sword
Eps 36


__ADS_3

Kelima Akai tidak membuang-buang waktunya, setelah mengetahui kepergian jenderal mereka, dengan cepat mereka menuju ke benteng musuh. Jenderal Lee Gem Ling yang masih mencari-cari keberadaan Renzai begitu terkejut ketika melihat kelima pria yang mengendarai kuda dengan terburu-buru.


"Bukankah itu pejabat Rui dan Tutsima? mengapa mereka ada di sini?" Ucap jenderal Geem.


☘️


Derap retusan kaki kuda terdengar jelas, masing-masing prajurit memegang bendera kerajaan, mereka telah tiba di garis perbatasan benteng musuh. Wajah-wajah sangar dan siap mati di perlihatkan masing-masing kedua kubu, dengan mengandalkan seluruh kekuatan dua kerajaan mereka masing-masing.


Maka bertemulah dua pasukan dari kerajaan Hanjang dan Jamyoung, mereka terpisah hanya beberapa meter saja, mereka yang sudah ada dalam lingkaran pertempuran telah siap mati untuk membela kerajaan mereka.


Masing-masing kapten dari dua kerajaan bertemu, mereka memegang bendera kerajaan. Hanjang dengan warna merahnya dengan naga besar terpampang di benderanya, sedangkan kerajaan Jamyoung dengan simbol pedang dan tombak dengan warna kuning menyalanya.


"Kapten, apa yang mereka inginkan?" Tanya wakil kapten Cheon yang berada di sampingnya.


"Mereka menginginkan duel sebelum melakukan peperangan." Tanpa ragu dia mengangkat pedangnya sambil mengendarai kudanya. Dia lalu berteriak di depan seluruh prajuritnya.


"Siapa diantara kalian pasukan dari Hanjang bersedia mempertaruhkan nyawanya demi kerajaan kita." Suaranya menggelegar dan tapak kaki kudanya terdengar dari ujung yang satu sampai ke ujung lainnya.


Maka majulah seorang prajurit berbadan besar, dia menarik pedang dari sarung pedangnya, dengan tegap dan gagah berani dia berjalan di tengah-tengah area pertarungan menantang pasukan Gamyoung. Satu prajurit maju ke garis depan siap melawan prajurit Hanjang itu, mereka berduel, tetapi sayang sekali ilmu bela diri dan permainan pedangnya tidak terkalahkan, prajurit berbadan besar itupun seketika mati di tangannya.


Salah satu pasukan Hanjang menggantikannya, dia maju dan menarik pedangnya ke tempat pertarungan, mereka pun bertarung dan mereka terlihat seimbang, tetapi sayang sekali nasibnya tidak jauh beda dari prajurit yang pertama.


"Sial, apa perlu aku yang maju kapten?" Ucap Kapten Cheon.

__ADS_1


"Jangan, setelah pertarungan ketiga, kita akan menyerang mereka."


Ketika pasukan Hanjang menjemput ajal, para prajurit musuh menertawakannya, lalu mengejek mereka. Seorang prajurit terlihat di barisan paling belakang, berjalan dengan tiba-tiba menggantikan kedua pasukan yang tewas, wajahnya tertutup topeng besi berwarna hitam, dia memegang pedang panjang juga berwarna hitam, dia maju ke medan pertempuran untuk bertarung. Para prajurit musuh bertambah sorakannya ketika yang datang prajurit kecil dan terlihat kurus.


Senyum meremehkan terlihat dari wajah prajurit Gamyoung itu, dia bersorak dan menyeringai melihatnya mengenakan topeng.


Karena perawakan musuhnya sangat tidak seimbang, dia berdiri dengan santai, lalu dengan malas-malasan prajurit musuh itu menyerang, dengan mendadak si prajurit bertopeng menangkisnya, kecepatannya dalam menangkis serangannya membuat pihak musuh terkejut, dia menangkis dan berkelit lalu balik menyerang dengan lincah dan kegesitannya membuat orang-orang tercengang, kecepatannya tidak bisa terbaca oleh pihak musuh, prajurit yang mengenakan topeng itu menyerang dengan kecepatan luar biasa, dia melukai tubuh bagian depan pasukan musuh itu, dan dengan lincah menghentakkan pedangnya hingga terlepas dari tangannya, seketika terdengar tusukan pedang yang menembus tubuh pasukan Gamyoung.


Seluruh prajurit Hanjang bersorak dan meneriakkan nama Hanjang dengan gagap gempita.


Pasukan musuh tidak menyerah begitu saja, salah seorang dari pasukan musuh maju ke depan prajurit bertopeng, dia tiba-tiba melepaskan anak panahnya kepada prajurit bertopeng itu, dengan cepat sekali lagi dia dapat menghalaunya sehingga panah yang melesat jatuh menyedihkan di tanah yang berdebu.


Prajurit itu terkejut dengan kelihaiannya menghalau anak panah dalam jarak cukup dekat, tanpa ada yang menyangka parajurit bertopeng itu berlari dengan kecepatan kilat ke arah pasukan musuh dengan sekali serangan dia menyerangnya dan menebasnya, hingga prajurit itu jatuh berlutut bersimbah darah.


"Siapa prajurit itu?" tanya kapten kepada wakil Cheon.


"Dia hebat."


Wakil kapten Cheon mengerutkan alisnya dalam, dia seperti mengetahui siapa sosok di balik topeng berwarna hitam itu, wajahnya tentu tidak dapat terlihat, rambutnya dari belakang di ikat seperti halnya prajurit lainnya, hanya topeng besi itu saja yang menutupi wajahnya.


Prajurit bertopeng itu kini bergerak, dia mengambil dua anak panah yang langsung menembus baju besi prajurit Jamyoung, dua dari prajurit mereka jatuh dari kudanya.


Peperanganpun tidak bisa di cegah, prajurit itu naik ke atas kuda hitam legam miliknya, dengan dia berada di barisan paling depan, dia memegang kendali kuda dengan gesit dan menebas musuh-musuh kerajaan Hanjang, tidak ada yang luput dari pedangnya, setiap musuh yang mendekat tidak akan ada yang lolos darinya, tebasan dan sabetan pedangnya yang tajam akan mengalahkan prajurit musuh dengan mudahnya, dia terus menebas pedangnya. Prajurit itu berada di tengah-tengah peperangan tanpa rasa takut sedikitpun.

__ADS_1


Dia menggunakan panahnya, sekali memanah dengan melepaskan tiga anak panah sekaligus merubuhkan prajurit musuh yang berada jauh darinya. Akhirnya pasukan Jamyoung terpukul mundur hanya beberapa orang saja yang masih hidup, mereka berlarian meninggalkan bentengnya sendiri.


Pasukan Hanjang berhasil menguasai Benteng musuh, separuh prajurit musuh yang berada di benteng dapat dikalahkan dengan mudah, ratusan pasukan Hanjang memasuki benteng Jamyoung, bendera berwarna merah dengan gambar naga berkibar di benteng itu.


☘️


"Dimana prajurit itu?" Kapten Hanjang sedang mencari-cari sejak tadi prajurit yang mengenakan topeng hitam, prajurit misterius yang tiba-tiba muncul di medan peperangan.


Wakil kapten Cheon memeriksa satu persatu prajurit, dan mencari prajurit misterius yang mengenakan topeng besi berwarna hitam, tetapi dia sama sekali tidak menemukannya, meskipun dia menyuruh seluruh pasukannya melepas semua pelindung besi di kepala seluruh prajurit, dia lalu mencari kuda hitam yang dikendarainya, tetapi setelah mencari-carinya dengan mengelilingi seluruh tempat itu, dia sama sekali tidak menemukannya.


"Dimana prajurit itu, apa kau sudah menemukannya wakil Cheon?" tanya kapten.


"Maaf kapten, prajurit itu tidak bisa saya temukan, anehnya dia tidak ada di manapun, setelah saya memeriksa semua pasukan, saya sama sekali tidak bisa menemukannya, tidak ada prajurit yang memakai topeng hitam di antara seluruh prajurit." Ucapnya sambil tertunduk.


"Apa maksudmu tidak ada? bagaimana mungkin?"


"Maaf kapten, menurutku prajurit itu aneh, saya sangat mengetahui bagaimana kemampuan seluruh pasukan Hanjang, tetapi tidak ada yang seperti prajurit yang mengenakan topeng itu, baru kali ini saya melihat kemampuan hebat seperti itu dan....


Wakil kapten Cheon tiba-tiba terdiam, dia seperti menyadari sesuatu. Tiba-tiba wakil kapten Cheon memohon undur diri dan mencari sekali lagi prajurit itu. Wakil kapten Cheon keluar dari benteng dan berjalan sedikit ke sisi hutan, dia menemukan kuda hitam yang tali kekangnya di sematkan pada sebuah pohon besar, tiba-tiba seseorang keluar dari dalam hutan, masih lengkap dengan pakaian besinya. Wakil kapten Cheon membelalakkan matanya.


"A-anda, kenapa...." Dia memperhatikan zirah besi yang masih lengkap di kenakannya. Seringai muncul di wajah Renzai.


"Kau mengetahui prajurit itu aku, wakil kapten Cheon?" Ucap Renzai dengan tersenyum licik.

__ADS_1


__ADS_2