Bloody General Sword

Bloody General Sword
Eps 32


__ADS_3

Mereka semua masih ada di lautan, beberapa jam yang lalu, dari dek atas kapal masih terdengar keributan dan suara pedang semakin beradu, tetapi kali ini berbeda, suara serangan itu semakin mengecil, dan perlahan menghilang, tabib itu kemudian berdiri.


"Sepertinya sudah aman." Ia lalu naik ke atas dek, diikuti oleh renzai dan perawat-perawat lainnya yang juga ingin tahu apa yang terjadi di atas sana.


"Apa yang sedang terjadi?" Sambil memandang prajurit-prajurit dan sekelompok prajurit musuh yang bertebaran di atas kapal.


"Maafkan atas ketidaknyamanan yang terjadi tabib jang, mereka berasal dari pasukan Jamoung, sepertinya mereka memang menunggu kita melintasi pulau ini, mereka hendak menguasai perbekalan kita, tapi mereka semua sudah kami bereskan, jangan khawatir, anda bisa beristirahat sekarang." Ucap salah seorang prajurit.


"Apakah ada yang terluka?" tanya tabib jang, dia juga melihat prajurit itu terluka di beberapa tempat di tubuh mereka.


"Luka kami bukan apa-apa, kami akan segera mengobatinya."


Renzai memandang prajurit itu, dia seakan melupakan sesuatu yang penting tapi terlupakan begitu saja, Renzai berjalan menyusuri kapal, memandangi prajurit-prajurit yang mati, dia menunduk sebentar memandang sesuatu yang berkilat-kilat dilantai.


"Ini seperti mesiu, sepertinya mereka hendak menghancurkan kapal ini, Renzai menutupi kepalanya dengan mantelnya, kemudian memandang lautan di hadapannya nampak berwarna hitam karena saat itu malam hari, hanya purnama yang menyinari lautan gelap seakan tidak berujung itu.


"Kau tidak tidur?" Tabib jang mendatangi Renzai yang tengah memandangi lautan, Renzai tidak menjawabnya, berbalikpun tidak.


"Aku dengar kau adalah putri ketiga Jenderal Lee Geem ling." Tanyanya. Renzai masih tidak menjawabnya. Pria itu tidak kesal sedikitpun dengan sikap Renzai yang tidak perduli dan tidak menjawab pertanyaannya.


"Sepertinya aku benar." Dia tersenyum, masih menatap renzai dengan pandangan menyelidik. "Dan yang paling hebat, kudengar kau lari dari perjodohan untuk menjadi putri mahkota."


Renzai kini memandangnya. "Dan kudengar, orang akan hidup lama, jika dia tutup mulut dan berhenti mencampuri urusan orang lain." Ucap renzai dengan nada sinis kepada tabib itu, tapi anehnya tabib itu tersenyum semakin lebar.


Orang ini sinting, kenapa aku selalu bertemu dengan orang-orang seperti ini?


Renzai mendengus dia lalu berbalik dan kembali ke dek bawah untuk beristirahat.


🌿


Pagi yang cerah di Hanjang, matahari telah terbit, dan menyinari seantero kota itu, Kelima Akai membelalakkan matanya, ketika sampai di dermaga dan mendapat informasi, kapal yang menuju perbatasan telah berangkat semalam dengan membawa beberapa perawat dan tabib serta perbekalan dari istana untuk prajurit di sana.


Rui menarik kerah pengawal itu dan mengguncangnya, "Katakan sejujurnya! Kau mau menipu kami ya !" Bentaknya.


Hatachi ternganga, melihat Rui bersikap seperti itu, "Ada apa dengan Rui? Itu seharusnya reaksiku kan, karena ketinggalan informasi, aku kan pemberi informasi kepada kalian semua." Ucapnya.

__ADS_1


"Tenangkan dirimu Rui !" Teriak Otaru, "Kita masih bisa menyusulnya."


"Kapan itu?" Jawab Rui. "Kapal yang akan berangkat ke sana akan tiba dua hari lagi." Teriaknya.


"Kenapa mereka mengubah jadwal keberangkatan, jenderal?" Ucap tutsima yang bepikir dan bersandar di tiang.


"Sial, mereka ingin bermain-main dengan kita ya." Umpat hatachi sambil menendang bebatuan di dermaga.


Apa betul tidak ada lagi kapal yang berangkat hari ini?" Tanya matsue kepada pengawal yang berdiri di sana.


"Mm..itu??" Ucap pengawal itu ragu-ragu. Hatachi lalu memelototinya.


"Ada, adakan?" Pasti ada kapal terakhir kan?"


"Sebenarnya ada." Ucap pengawal itu perlahan. Otaru kemudian memberikan sesuatu di kantung pengawal itu. "Kapan berangkatnya?" Pengawal itu maju selangkah.


"Malam ini, tetapi kapal itu akan membawa Putra mahkota." Bisiknya.


Mereka akhirnya berkumpul di penginapan dekat dari dermaga. "Jadi, bagaimanapun caranya kita akan naik ke atas kapal itu, mereka akan membawa prajurit-prajurit terlatih dan bukan sembarang prajurit, mereka di kenal dengan Black Sword, prajurit yang hanya melindungi putra mahkota saja." Ucap Hatachi.


"Hm, bukan masalah, kita tinggal menyelinap saja, atau sembunyi di suatu tempat di dalam gudang mereka." Ucap matsue.


Otaru dan Rui angkat tangan, "Kami." Ucap mereka berdua.


"Dan bukankah kita ini orang penting, pejabat istana yang memiliki kedudukan cukup tinggi di kerajaan?" Matsue menggeleng menatap mereka berempat dengan tatapan prihatin dan mencemooh.


"Be..betul juga katamu." Ucap Hatachi, karena begitu paniknya, mereka sampai lupa akan status mereka sendiri di kerajaan.


~


Sementara itu di pasar, terlihat Gun Wu berlari-lari dan tidak memperdulikan tubuhnya yang menabrak apa saja ketika dia berlari dengan kencang.


"PA..PAMAN ! BIBI."


Ia mendobrak gerbang rumah jenderal Lee gem ling, berlari sambil teriak keras. Mereka sekeluarga sedang sarapan pagi, mereka hendak akan ke istana untuk menjenguk renzai dan membawakannya makanan serta pakaian yang akan dia kenakan nanti di sana.

__ADS_1


"Ada apa Gun Wu, kenapa kau teriak-teriak !" Ucap jenderal Geem.


"Gawat paman, Renzai....


"Ada apa dengan Renzai?" Tanya Cha Wu.


"Renzai sudah di berangkatkan semalam, saya baru saja memeriksanya paman, kata prajurit di sana dia berangkat semalam, sekaligus membawa perbekalan makanan prajurit istana."


"APA ! itu tidak mungkin," Kata Jenderal Geem.


"Apa kau sudah memastikannya Gun Wu." tanyanya. Mereka semua terlihat panik dan sedih, ibunya lalu menangis di bahu putrinya hana.


"I..iya paman, saya sudah memastikannya." Ucap Gun wu. Ibunya tiba-tiba jatuh pingsan.


Hana kemudian menghampiri ibunya, dia memegang ibunya, cha wu mengangkat ibunya dan membawa ke kamarnya. Jenderal geem lalu berdiri dan menatap kedua anaknya.


"Jaga ibu kalian, ayah akan berangkat ke istana."


"Ayah, aku ikut ayah." Ucap Cha wu.


"Tidak, kau jagalah ibu dan kakakmu, turuti kata-kata ayah Cha wu."


"Baik ayah." Ucapnya, sambil memandang punggung ayahnya yang keluar dari pintu gerbang.


🌿


Jenderal Geem telah tiba di istana dan bertemu dengan ayah dari Park ji eun yang merupakan menteri keuangan istana.


"Jenderal Geem." Panggilnya. "Ada apa dengan wajahmu? Kau tampak pucat." Ucapnya sambil memperlihatkan wajah sedih penuh keprihatinan, meskipun ada nada sindiran di setiap ucapannya.


"Aha, mungkin karena putrimu? Wah wah wah, putrimu hebat sekali, kudengar dia sudah berangkat semalam, bagaimana kau mendidik putrimu itu?" Pejabat yang ada di belakang Ayah park ji eun menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak percaya dengan berita yang mereka dengar.


"Permisi menteri Park, saya harus bertemu dengan yang mulia raja." Ucap jenderal geem tidak memperdulikan sindiran darinya.


"Oh, tentu, tentu silahkan masuk, tapi mungkin sia-sia saja permohonanmu kepada raja." Dia berkata seperti itu lalu segera pergi dari istana sambil tertawa terbahak. Jenderal geem hanya menggelengkan kepalanya kemudian dia masuk menemui yang mulia raja.

__ADS_1


🌿🤭


Ayo teman2 Readers berikan Vote like and komentarnya yaaaa, ikuti terus kelanjutannya...


__ADS_2