Bloody General Sword

Bloody General Sword
Vol 12


__ADS_3

Perjalanan Akai pun berlanjut. Kelima Akai berangkat ke gunung Kyojin puncak tertinggi dan terdingin di sana. Mereka meninggalkan Geem yang terduduk agak jauh dari para kelima Akai.


"Hei Geem." panggil hatachi.


"Pulanglah jangan duduk di sini, kembalilah dan cari tempat aman."


Geem menatapnya masih dengan pandangan kebingungan, lalu Otaru menambahkan .


"Jaga dirimu, pergilah sejauh-jauhnya, dan bertahanlah untuk hidup, itu hadiah terakhir jenderal kami." Setelah mengatakan itu kepada Geem, mereka akhirnya pergi meninggalkan anak kecil itu dan sungai Kyusu tempat sang jenderal menjadi buih.


Puncak gunung Kyojin sudah terlihat jelas, hampir tengah malam mereka berlima sampai di atas sana, salju yang begitu dingin dan angin yang menerpa sangat kencang di tambah gemuruh, tidak ada pepohonan di atas sana, yang ada hanya bongkahan es yang membatu. Pada saat kelima Akai sampai di puncak gunung Kyojin, mereka melihat satu pohon yang begitu besar berakar dikelilingi salju yang menumpuk, akhirnya mereka memutuskan duduk di bawah pohon itu, seakan-akan pohon itu menunggu kedatangan kelima Akai.


"Pada hitungan ketiga," kata hatachi sambil mencari gaya yang sesuai dengan keinginannya..


"Satu, dua ...." Tapi tiba-tiba hatachi berteriak.

__ADS_1


"Stop. Stop!" Rui menggeram dan menggertakkan giginya.


"Apa lagi kali ini?"


"Tunggu dulu, kalau kita kembali lagi dan kebekuan kita telah sirna, apa ada yang tahu bagaimana rupa sang jenderal kita?" Mereka semua memandang Hatachi.


"Betul juga." ucap Matsue.


"Kita semua tak ada yang mengetahui wajah jenderal kita, kalau suaranya, kita semua pernah mendengarnya."


Tiba-tiba saja Rui menjawab pertanyaan mereka.


Keempat Akai memandangnya. Rui sedikit salah tingkah, namun masih menampakkan wajah tenangnya.


"Aku melihat sebuah lukisan di pajang di keluarga kerajaan Ochtosk di kediaman raja terdahulu yang di kudeta oleh raja sekarang ini, disana ada sebuah lukisan satu-satunya putri dari raja Ochtosk terdahulu."

__ADS_1


"Jenderal adalah putri raja terdahulu yang dikudeta oleh adik kedua dari raja Ochtosk karena itulah sang putri menjadi jenderal, dan lukisan dia satu-satunya ada di sana."


Keempat Akai terheran-heran mendengarnya. Hatachi bagaikan tersambar petir.


"Kenapa aku tidak mengetahuinya?" ucapnya penuh kecewa pada dirinya sendiri.


"Dan sebelum jadi seorang jenderal, meskipun hanya sebentar saja ...." sambung Rui, dia terdiam sebentar.


"Jenderal adalah teman masa kecilku dan pernah menjadi tunanganku." Rui memasukkan mutiara hitam ke mulutnya dengan sikap menunduk diapun membeku, tidak ada denyut jantung yang terdengar lagi dari Rui.


"A-Apa?? tunggu dulu ... hei, hei." Teriak Hatachi, yang lain pun mengikuti Rui, mereka memasukkan mutiara ke mulut mereka masing-masing, karena kesal, Matsue menjejalkan mutiara hitam ke mulut Hatachi dengan gaya berlutut dan teriak. Akhirnya kelima Akai membeku terlihat tidak bernyawa, mereka akan membatu dan menunggu kehadiran sang jenderal mereka kembali.


***


Udara di negara juseo sangat segar, wangi bunga pada musim semi sangat terasa, semilir angin menerpa pepohonan di kerajaan juseo, penduduk juseo beraktivitas seperti biasanya. Tahun 1487 pasukan Ochtosk telah di pukul mundur oleh tiga kerajaan besar pada saat itu, kemudian bergantilah dengan nama kerajaan yang lebih membawa kedamaian yaitu juseo.

__ADS_1


37 tahun berlalu sejak penyerangan pasukan Ochtosk ke kerajaan Hanyang, kerajaan Joseo lebih mementingkan kedamaian dan mencegah terjadinya peperangan.


Di suatu rumah yang cukup besar, seorang pria paruh baya sedang memandangi derasnya air yang mengalir dihalaman rumahnya, dia menyilangkan kedua lengannya di belakang punggungnya, sesekali memandang langit dan menghela napas, suara ribut menyadarkannya dari lamunannya.


__ADS_2