Bloody General Sword

Bloody General Sword
Vol 13


__ADS_3

"Ayah.." teriak seorang anak perempuan.


"lihat! kakak Cha wu memainkan layangannya dan tersangkut di paviliun kerajaan." ucapnya dengan bibir mengkerucut.


Seorang anak laki-laki berteriak, "Hana, kau jangan berbohong, layangan itu milikmu, itu layangan Hana, ayah." teriaknya.


Gem memandang kedua anaknya, "Berapa kali ayah katakan jangan bermain di sekitar istana." sambil turun dari bebatuan tempatnya berdiri.


"Kalian berdua harus dihukum, kalian sama sekali tidak mendengarkan kata ayah." Kedua anaknya tertunduk dan cemberut dan saling melempar pandangan mengejek satu sama lain.


Tiba-tiba dari arah pintu, seseorang masuk dan menunduk kepada gem.


"Jenderal gem, anda di tunggu di istana." ucap pria yang mengenakan pakaian pasukan kerajaan.


"Baiklah aku akan segera ke sana." Matanya masih memandang kedua anaknya. Gem kini memiliki dua orang anak, mereka seorang putra dan putri. putra mereka berusia 12 tahun dan putrinya berusia 8 tahun.


"Bibi Choi!" panggilnya. Seorang wanita paruh baya datang tertunduk-tunduk menghadap jenderal gem dan memasuki halaman.


"Iya tuan." ucapnya.


"Bawa nona Hana ke kamarnya, biarkan dia menyulam hingga potongan kain kelima, jangan biarkan dia berhenti sebelum selesai." ucap jenderal.


"Baik tuan."

__ADS_1


"Tapi ayah.." ucap anak perempuannya cemberut. Sebelum dia melanjutkan perkataannya bibi Choi sudah membawa Hana kembali ke kamarnya.


"Cha wu". Putranya menelan ludah dia tertunduk dihadapan ayahnya.


"I..iya ayah." ucap Cha wu menampilkan senyum bodohnya.


"Tiga karakter Cina dalam sehari , setelah ayah pulang, ayah akan mengujimu.


"Ayah..tapi ayah tidak adakah hukuman lainnya?" tetapi sang ayah sudah berlalu tidak mendengarkan keluh kesah putranya yang menggaruk-garuk kepalanya.


"Ukh, ini semua salah Hana." ucap cha wu.


~


"Tuanku paduka hamba jenderal gem datang menghadap." sambil tertunduk hormat kepada sang penguasa kerajaan.


Sang raja beserta permaisurinya yang menyertainya, tersenyum senang melihat kedatangan sang jenderal kepercayaannya itu


"Bangunlah jenderal." kata paduka raja.


"Ada yang ingin kusampaikan kepadamu jenderal gem."


"Hamba siap mendengarkan yang mulia." ucap gem menunduk.

__ADS_1


"Akhir-akhir ini saya selalu bermimpi aneh." dia terdiam sejenak.


"Mimpi apakah itu paduka yang mulia?" sang raja menghembuskan napasnya.


"Kamu tahu perbatasan kota Namu, kota itu masih berada dalam wilayah teritorialku, tetapi benteng geem sudah dikuasai oleh kerajaan nihonjin."


Raja memandang lurus ke depan dan kembali berbicara. "Dahulu, benteng geem masih daerah kekuasaan gorgolio, tapi kini sudah menjadi milik kerajaan Ochtosk dan sekarang benteng itu milik Nihonjin."


"Adapun mimpiku, saya sedang melihat diriku berdiri di benteng itu sampai perbatasan pulau koshiro, kau tahu apa maksudku jenderal?"


Jenderal gem mengerti apa yang diinginkan sang raja akan tetapi wajahnya masih kelihatan terkejut.


"Aku ingin mengembalikan apa yang dulunya menjadi milik kerajaan juseun, rebutlah kembali benteng itu jenderal, kembalikan warisan nenek moyang kita kembali ke pangkuan juseun."


Setelah permintaan raja tersebut, akhirnya jenderal gem membawa 10000 pasukan ke perbatasan benteng Namu, beberapa desa telah di rebut kembali dengan kekuatan dan strategi jenderal gem yang cemerlang, maka tibalah 5000 pasukan menyerbu benteng geem.


Pertumpahan darah dan bau kayu yang terbakar menyeruak di udara, banyak prajurit yang kehilangan nyawanya. Jenderal gem naik ke atas kuda dan menyaksikan desa yang hancur dan rumah-rumah yang terbakar, mengingatkannya akan peristiwa yang dahulu terjadi.


"Jenderal gem, pasukan di benteng Namu tersisa 300 prajurit dari kerajaan Nihonjin, begitu informasi yang datang jenderal." ucap salah satu prajurit.


"Siapkan 5000 pasukan ke perbatasan, besok benteng geem sudah menjadi milik kita." Selama seminggu lebih peperangan kian meningkat dan sampailah ke perbatasan kerajaan Koshiro, dan akhirnya mereka di pukul mundur oleh jenderal gem dan pasukannya.


Tanah yang basah terkena derasnya air hujan, disertai bau darah yang amis menyengat, bendera putih telah berkibar sementara bendera kerajaan yang menduduki benteng gem dahulu telah jatuh di atas tanah. Benteng geem tengah di duduki oleh pasukan Juseun.

__ADS_1


__ADS_2