Bloody General Sword

Bloody General Sword
Eps 38


__ADS_3

Pagi-pagi sekali jenderal Geem beserta Renzai akan menemui pangeran putra mahkota, mereka berjalan menuju tenda milik pangeran, Renzai menatap dua orang pria sedang berdiri di sana sambil berbincang. "Renzai, tunggu di sini, aku akan menghadap kepada pangeran."


"Baik ayah." .


Renzai berdiri di sana sambil menyilangkan kedua tangannya, kedua pria itu masih berbincang dan menyadari kedatangan jenderal Geem.


"Maafkan saya yang mulia, baru pagi ini saya datang menghadap dan datang bersama putriku." Ucap Jenderal Geem sambil memberikan penghormatan.


"Jangan khawatir Jenderal, kemarin adalah hari yang melelahkan setelah perjalanan dari benteng Jamyoung."


"Kasim Ji bawa Nona Renzai kemari." Ucap Jenderal.


"Baik Jenderal."


Kasim itu membawa Renzai menghadap pangeran mahkota. Matanya menatap tajam pria yang berdiri angkuh di sana bersama tabib menyebalkan itu.


Renzai datang dan memberikan salam kepada pangeran mahkota.


"Saya Lee Renzai menghadap kepada pangeran mahkota." Ucap Renzai masih sambil menunduk.


"Angkat wajahmu." Perintahnya.


Renzai mengangkat wajahnya dan mereka saling menatap. Renzai dengan tenang menatapnya, karena dia sudah melihat wajah putra mahkota sebelumnya, sedangkan pangeran sedikit tersekesiap melihat wajah Renzai, tanpa sadar dia mundur beberapa langkah, pangeran seperti mengenal wajahnya, wajah itu berasal dari masa lampau, tetapi dia masih belum mengingat sepenuhnya.


Pangeran segera menguasai dirinya. "Ternyata kau sangat mirip dengan jenderal." Ucap pangeran. Satu hal yang ingin aku ketahui, mengapa kau melarikan diri dari seleksi pemilihan putri mahkota."


Renzai susah payah agar tidak memutar bola matanya, ketika mendengar pertanyaan itu, tabib Jang dan Jenderal menatap ke arah Renzai, mereka seperti memasang telinga mereka baik-baik.


"Saya tidak ingin bersaing dengan kak Hana, karena itu saya mengundurkan diri." Ucap Renzai.


"Maafkan saya yang mulia, saya tidak mendidik putri saya dengan baik." Ucap sang Jenderal sambil menunduk.


"Jangan khawatir jenderal, saya hanya ingin mendengarkan jawaban putri anda." Pangeran kembali menatap Renzai.


"Begitu rupanya, tetapi bukankah kakak perempuanmu tidak lulus seleksi tahap pertama?" Renzai memicingkan matanya dan kedapatan mendengus di depan pangeran. Sebelum Renzai melanjutkan jawabannya, seorang prajurit dengan mengendarai kuda, dengan kecepatan tinggi menuju ke tenda milik pangeran, dia membawa berita dari benteng Gamyoung.


"Hamba menghadap kepada pangeran. Saya ingin memberikan informasi mengenai 500 pasukan musuh menyerang kembali benteng Jamyoung sejak subuh tadi yang mulia, 300 pasukan Hanjang bertahan di benteng tetapi pasukan musuh semakin kuat, banyak prajurit kita telah tewas." Ucap pria yang membawa kabar itu, dia adalah Wakil kapten Cheon, tiba-tiba matanya mengarah kepada Renzai yang berdiri di sana, dia tentu saja terkejut, melihat renzai ada di sana.


Mereka semua tentu saja terkejut. "Siapkan pasukan menuju ke benteng. Jenderal Geem, berapa prajurit yang tersisa di barak utama? Kita membutuhkan pasukan lebih, sebelum benteng Jamyoung kembali direbut musuh."


"Prajurit yang berada di barak utama berjumlah 300 prajurit, sebagian dari mereka masih banyak yang terluka, pangeran." Jawabnya.


"Perintahkan semua prajurit untuk berangkat sekarang juga menuju benteng Jamyoung, aku tidak mau benteng yang telah kita rebut kembali di miliki oleh musuh."

__ADS_1


"Baik yang mulia." Jawab sang Jenderal, sebelum jenderal pergi, dia menatap Renzai. "Kembali ke ruanganmu Renzai, ayah akan menempatkan penjaga di sana, jangan ke mana-mana. Ayah akan segera kembali."


"Baik Ayah."


Mereka semua pergi ke barak utama, meninggalkan Renzai seorang diri di sana. Para prajurit di kumpulkan, seluruh pasukan akan segera berangkat ke benteng Jamyoung.


Renzai menatap kepergian ayahnya, dia kemudian berpikir sambil berjalan kembali ke ruangannya. "Bukankah itu terlalu cepat? Kenapa benteng Jamyoung begitu cepat jatuh ke tangan musuh?"


"Nona Renzai, kau baik-baik saja?" Tanya tabib Jang, dia menghampiri Renzai. Dia berbalik menatap tabib Jang, Renzai menatapnya sinis.


"Kau pasti khawatir, tenang saja Jenderal Geem akan kembali dengan selamat." Ucapnya.


***


Kalima Akai sejak tadi memperhatikan mereka. Hatachi menyipitkan matanya, menatap jengkel kepada pria itu. "Tsk, pria itu selalu berada di sekitar jenderal, aku ingin tahu siapa pria itu ketika di masa lalunya." Ucap Otaru.


Kelima Akai berdiri disana dan menghalangi jalan Renzai.


"Kalian lagi." Ucap Renzai.


"Kami tidak akan mengatakan apa-apa, kami hanya ingin memberikan buku ini kepada anda, Jenderal." Ucap Otaru.


Renzai mengambil buku tua dan kusam dari tangan pria itu, dia memang mencari-cari buku mengenai sejarah kerajaan Ochtosk, tapi sejak dulu buku yang di carinya tidak kunjung ketemu.


Tabib Jang sekali lagi memperhatikan kelima pria itu. "Sebenarnya apa urusan pria-pria itu kepada Nona Renzai?"


***


Keadaan sekitar sangat sibuk, para prajurit dipersiapkan sebanyak mungkin untuk berangkat ke garis depan. Renzai mengganti pakaiannya, dia mengendap-endap keluar dari ruangannya dan masuk ke dalam hutan tempat kuda hitamnya di tambatkan, dengan cepat Renzai mengendarai kudanya menyusul wakil jenderal Cheon yang berada depan baris prajurit.


"Sibuk sekali, apa kau yakin ini bukan perangkap dari musuh?" Ucap Renzai.


"Kau akan menjaga rahasia ini, tidak ada yang boleh tahu, kau mengerti. Satu hal lagi, jangan sampai Jenderal Geem tahu tentang aku kau paham?" Seketika wakil kapten Cheon mengangguk cepat.


Sebelum mendengar jawaban wakil kapten Cheon, Renzai melajukan kudanya dengan sangat kencang sehingga dia tidak melihat lagi ke arah mana Renzai pergi.


pasukan Hanjang tiba di barak kedua, tempat yang paling dekat dengan benteng Jamyoung,


***


Di benteng Jamyoung ratusan prajurit saling menyerang dan berusaha saling menghancurkan musuh. Saat itu sudah banyak nyawa prajurit Hanjang mati di tangan musuh, sebagian benteng kokoh itu sudah terlalap api, kayu bakarpun di jadikan senjata untuk menghancurkan musuh yang terus berdatangan.


prajurit tambahan masih belum tiba di benteng, mereka kalah telak, pasukan musuh semakin bertambah.

__ADS_1


"Bakar bendera merah itu, hancurkan semuanya." Ucap seorang jenderal kepada pasukannya.


Panah melesat menghambur di udara, tepat mengenai jenderal musuh, tepat di leher dada dan perutnya, mereka semua berbalik mencari sang penyerang, dengan kecepatannya, dia melesatkan kembali panahnya hingga mengenai tiga prajurit musuh sekaligus. Kakinya melesat cepat dan menerjang mereka, dia melawan musuh seorang diri tanpa ada orang lain di sisinya. Gerakannya sangat cepat, dia menebas mereka dengan pedangnya.


Panah kembali melesat mengenai musuh-musuh, kelima Akai telah tiba, dengan serangan kelimanya dapat menghancurkan puluhan prajurit musuh.


"S-siapa mereka? Apa mereka monster, mengapa mereka cepat sekali?" Ucap salah seorang prajurit musuh.


Kelima Akai bertarung bersama sang Jenderal mereka. Renzai melompat dan naik ke lantai atas, di atas benteng musuh telah menunggunya dengan pedang siap di tangan mereka. Rui yang melihatnya mencoba menolongnya tetapi dihentikan oleh Tutsima.


"Apa yang kau lakukan? Kekuatan Jenderal belum sepenuhnya pulih, bagaimanapun dia adalah Renzai dan dia seorang wanita." Ucap Rui, dia kembali ingin menolongnya.


"Jika kau membantunya, dia yang akan menghabisimu, coba kau lihat." Ucap Tutsima.


Senyuman terpancar dari wajahnya.


Kalian semua akan mati di tanganku.


Renzai menyerang mereka seorang diri, tebasan demi tebasan mengenai prajurit musuh dengan kekuatannya. Musuh bergelimpangan dengan darah berceceran membasahi seluruh benteng.


Renzai melompat, dia kembali turun ke bawah bertarung dengan sisa prajurit lainnya. Suara tawa terdengar dari mulut Renzai, dia membunuh membabi buta musuh-musuhnya tidak meninggalkan satu orangpun untuk di biarkan hidup.


"Jenderal menakutkan." Bisik Hatachi kepada tutsima. Tutsima menipiskan bibirnya. "Diam bodoh, jenderal nanti mendengarmu."


Seketika sunyi, tinggal mereka berenam yang berada di benteng.


Kalian pergi, sebelum pasukan Hanjang tiba.


Baik Jenderal


Sekali lompatan kelima Akai telah meninggalkan benteng. Tinggal Renzai sendiri berada di benteng yang telah di menangkannya. Renzai melirik ke samping.


"Keluar."


Seorang pria sejak tadi berdiri di belakang pohon, wajahnya berubah pucat, dia adalah wakil kapten Cheon.


Renzai masih mengenakan topengnya, tubuhnya di penuhi darah, dia menatap tajam wakil kapten Cheon.


"Pergi, jangan mengatakan apapun. Kau mengerti?" Wakil kapten Cheon terdiam sejenak.


"S-siapa kalian sebenarnya?" Wakil kapten memberanikan dirinya bertanya. Renzai tidak menjawabnya.


"Kau tidak perlu tahu. Sebaiknya kau pergi, sebelum pasukan Hanjang tiba." Titah Renzai.

__ADS_1


"B-baik." Wakil kapten Cheon pergi, dia naik ke atas kudanya, dia lalu berbalik sebentar ketika dia mendengar tawa mengerikan darinya di antara mayat-mayat musuh yang bergelimpangan.


__ADS_2