
Malam itu udara sangat dingin, Renzai berada di dalam tendanya, dia telah tertidur lelap sehabis bekerja keras siang tadi. Suara-suara terdengar di kegelapan malam, membuat mata itu terbuka lebar.
"Kami tidak menemukannya jenderal, kami sudah mencarinya kemana-mana tetapi orang-orang yang berada di pertarungan itu tidak kami temukan." Suaranya terdengar ragu, membuat Jenderal Geem menatapnya.
"Katakan ada apa?" Ucapnya.
"Seorang perawat bertingkah aneh, dia seperti ketakutan ketika mendengar nama anda di sebut, begitupun dengan nama putri anda. Dia terlihat menghindar, setelah itu dia berlari ketakutan. Sedangkan tabib Jang tidak mengatakan apapun, dia sampai sekarang tutup mulut."
"Apa yang sebenarnya terjadi," ucap jenderal terlihat bingung.
Matanya terarah ke arah tenda miliknya, besok dia akan bertanya kepada Renzai, apakah ada yang mencurigakan sewaktu pasukan musuh mendatangi mereka. "Beristirahatlah, kau sudah bekerja keras," ucap jenderal Geem. Prajurit itu memberi hormatnya dan segera pergi.
***
Suasana di barak utama masih dalam pemulihan, tenda-tenda dan balai pengobatan di bangun kembali, begitupun tenda milik Renzai, tenda itu di buat oleh tiga orang prajurit dan wakil Cheon, Renzai duduk di sana memperhatikan mereka bekerja.
Menunggu seminggu lagi bukankah sangat membosankan? Apa yang akan aku lakukan seminggu ini. Pikirnya.
Renzai mengamati wakil Cheon, pria yang selalu ketakutan ini, berusia sama dengan kakak laki-lakinya, meskipun dia terlihat selalu ketakutan tetapi dia melakukan pekerjaannya dengan baik.
Wakil Cheon sepertinya sangat cocok dengan kak Hana.
"Wakil Cheon, apa kau memiliki seorang istri?" Ucap Renzai, kedua prajurit itu saling menatap dan menunduk. Wakil Cheon menggeleng pelan.
"Aku masih belum menikah, Nona Renzai," ucapnya sambil menelan ludahnya pelan.
"Kalau peperangan ini selesai, datanglah ke rumahku, aku akan memperkenalkanmu dengan kak Hana, sepertinya kalian cocok," ucap Renzai. Mata wakil Cheon membelalak dia tidak menjawabnya hanya menunduk kepadanya.
Langkah kaki itu membuat Renzai berbalik dan menatap seorang pria tinggi berdiri di hadapannya. Dia tersenyum ketika Renzai menatapnya.
"Selamat pagi Nona Renzai," ucap pria itu, dia tersenyum lalu mengamati wajahnya. "Namaku Kim Hyun Ki. Anda bisa memanggilku kapten Hyun," ucap pria berlesung pipi itu.
__ADS_1
"Kau pasti bosan berada di perkemahan ini, bagaimana jika kita berjalan-jalan sebentar? Aku bisa memperlihatkan kepada anda suasana indah di dekat hutan, di sana banyak bunga-bunga yang bisa anda nikmati." Pria itu tersenyum sangat ramah kepada Renzai. Dia menunggu jawaban Renzai.
"Tunjukkan tempatnya. Aku juga merasa bosan seharian duduk di depan tenda," ucap Renzai. Mata wakil Cheon membelalak, dia menggelengkan kepalanya, bukan untuk Renzai tetapi untuk pria bernama Hyun Ki. Renzai berjalan di belakang pria itu, dari kejauhan pangeran melihat Renzai dan Kim hyun ki meninggalkan tenda dan berjalan menuju hutan.
Sementara itu kelima Akai tidak tinggal diam, mereka mengikuti Renzai dan pria itu dengan perlahan, meskipun begitu, Renzai dapat menyadari keberadaan kelima Akai.
Tampak dari kejauhan pangeran memandang mereka berdua. Wajah datar yang tidak bisa terbaca, setelah itu dia memalingkan wajahnya dan memanggil seorang prajurit dan memberikan perintah kepadanya.
Jalanan menuju ke dekat hutan tidak begitu jauh, dari barak utama menuju hutan hanya sekitar 15 menit. Pria bernama Kim hyun ki terus berjalan di samping Renzai, dia sejak tadi berbicara terus menerus, hingga masuk ke tepian hutan.
"Bagaimana? Indah bukan? Aku sering kali ke sini jika merasa bosan. Anda juga bisa ke tempat ini, pemandangan ini sangat indah, siapa saja bisa menghilangkan rasa jenuhnya ketika datang ke tempat ini, bagaimana pendapatmu, Nona Renzai?"
"Tidak begitu buruk, tempat ini indah," gumamnya.
Pria itu tersenyum. "Tentu saja, aku sering kali menghilangkan lelah di sini ketika selesai bertarung. Kau bisa menggantikanku atau menjaga tempat ini jika kami tengah bertarung." Renzai tidak mengatakan apapun tetapi dia mendengus, pria itu tertawa. Anehnya dia tahu jika Renzai tidak menyukai cara bicaranya yang lembut kepadanya.
"Nona Renzai, bagaimana jika kita menjalin pertemanan kita menjadi sebuah keakraban di keluarga besar Geem dan keluarga Kim. Bukankah sangat serasi?"
Pikir Renzai. Matanya tanpa ragu menatap pria penuh percaya diri yang sedang berjalan mendekati Renzai. Suara-suara terdengar dari belakang punggungnya. Ternyata pangeran sedang berjalan-jalan bersama Jenderal Geem dan Tabib Jang.
"Renzai? Apa yang kau lakukan di dekat hutan bersama seorang pria?" Wajah Jenderal Geem terlihat tidak suka, dia memalingkan wajahnya kepada sosok pria itu. Tentu saja dia mengenal siapa pria yang terkenal itu. Keluarga Kim tidak begitu baik di mata sang Jenderal. Apalagi putranya yang terkenal suka bermain dengan wanita-wanita di rumah hiburan.
"Kembalilah ke tenda Renzai." Ucap Jenderal.
"Baik Ayah." Renzai berjalan tanpa menatap wajah pangeran. Meskipun sekilas mata pangeran menatap ke arah Renzai.
"Kapten Kim Hyun Ki, bukankah anda tahu bahwa Nona Renzai salah satu kandidat Putri mahkota? Anda tidak bisa bertindak sembarangan, status Nona Renzai masih milik kerajaan," ucap Tabib Jang.
Pria itu mengatupkan kedua tangannya dan meminta maaf kepada pangeran karena ketidaktahuannya. Meskipun begitu, Kim hyun ki yang selalu mendapatkan apa yang diinginkannya tidak akan peduli dengan peraturan istana. Pria itu menunduk ketika pangeran melewatinya tanpa mempedulikannya.
***
__ADS_1
"Jika Jenderal mengizinkanku. Aku akan membunuh pria menyebalkan itu. Berani sekali dia mengajak Jenderal ke tepi hutan," ucap Hatachi sambil bersandar di sebuah pohon di dekat barak utama.
"Kau kenal siapa dia?" Tanya Tutsima.
"Dia putra pertama dari perdana menteri kanan Kim. Dia merupakan Menteri kepercayaan Raja, meskipun begitu pangeran sama sekali tidak menyukai Menteri Kim itu. Sudah sejak dulu keluarga Kim menempati posisi penting di kerajaan, sejak turun temurun keluarga itu menduduki jabatan itu. Sepertinya pangeran ingin melenyapkan keluarga Kim yang menyebalkan itu." Rui terlihat marah ketika Renzai mau saja di ajak pria itu menuju ke hutan, meskipun Renzai bisa melindungi dirinya, ada rasa jengkel dan marah terlihat di wajahnya.
***
Setelah menuggu seminggu ternyata ide dari Wakil Cheon berhasil, musuh mengatur kembali strategi mereka. Mereka percaya dan tidak percaya dengan kabar burung yang mereka dengar, sehingga situasi berbalik menguntungkan kepada pihak Hanjang. Hari ini Prajurit tambahan akan tiba dalam jumlah yang besar, mereka akan membangun tenda di barak kedua.
Karena strategi wakil Cheon berhasil, dia mendapatkan pujian dari Jenderal Geem dan pangeran serta kapten lainnya, begitupun kaptennya sendiri. Hanya satu yang tidak menyukai sedikit keberhasilan wakil Cheon, dia adalah Kim hyun ki, pria itu tidak menganggap keberadaan wakil Cheon. Pria pencari masalah itu malah dengan terang-terangan menuduhnya mencuri dengar ide orang lain dan dia menjadikan strateginya sendiri, meskipun sebenarnya sebagian benar, karena Renzailah yang menyuruhnya untuk berbicara.
Wakil Cheon tidak menanggapi perkataan pria itu, dia lebih baik diam dan tidak menyambut ucapan kasar atau umpatan untuknya. Renzai menatapnya dari kejauhan dan memberikan isyarat kepada wakil Cheon agar mendekat kepadanya. Hal ini pun tidak lepas dari tatapan mata pria itu.
"Wakil Cheon. Apa kau tahu? Aku paling membenci pria dengan model seperti kim hyun ki itu. Ketika perang berlangsung, bunuh dia untukku."
Ucapan Renzai yang tidak masuk akal itu membuat wakil Cheon terbelalak ketakutan. "T-tapi Nona Renzai, aku ... bagaimana mungkin aku membunuhnya? Aku tidak bisa melakukannya," tegas wakil Cheon.
Renzai berdecak, lalu menatap wajah pucat wakil Cheon. "Kalau begitu buat saja dia terluka, hingga dia tidak bisa menggunakan mulutnya berbicara untuk sementara waktu. Pria itu terlalu cerewet."
"Kalian mendengarku?" Ucapan Renzai di tujukan kepada kelima Akai.
"Baik Jendral." Ucap Rui. Wakil Cheon yang mendengarnya terlihat terkejut dan ketakutan mendengar suara seorang pria tetapi tidak orang di sekitar mereka.
Tampak dari kejauhan pangeran dan Tabib Jang melihat Renzai dan wakil Cheon kembali mengobrol dan terlihat akrab.
"Kasim Cha," ucap pangeran mahkota, matanya masih tertuju pada Renzai dan wakil Cheon.
"Iya yang mulia."
"Ikuti wakil Cheon dan Lee Renzai. Cari tahu informasi mengenai mereka, kalau perlu catat seluruh perkataan mereka."
__ADS_1
"Baik yang mulia."