
Sebulan sejak kejadian itu, jenderal dan keluarganya kembali ke hanyang, adapun kabar baik dari keluarga geem adalah bahwa istri jenderal geem telah sembuh dari penyakitnya dan berita gembira lainnya bahwa istri jenderal gem tengah hamil, Hana dan Cha wu akan segera memiliki seorang adik.
"Aku berharap yang lahir nanti bayi laki-laki." Ucap Cha wu yang tengah duduk di samping ibunya yang menyulam, ibunya tersenyum mendengar ocehan putranya.
Hana pun menambahkan. "Kuharap yang lahir adik perempuan, dia akan menjadi teman bermainku, dan aku tidak akan lagi menyulam seorang diri." Matanya melotot memandang Cha wu yang mengejeknya.
~
Umur kandungan istri jenderal gem kini sudah sembilan bulan, tidak lama lagi dia akan melahirkan.
"Nyonya, ada apa?" tanya dayang Choi melihat nyonyanya sedang gelisah.
"Perutku sakit dayang Choi, segeralah panggil suamiku, Sepertinya aku akan segera melahirkan." ucapnya sambil menahan sakitnya.
"Baik nyonya."
Malam itu angin berhembus begitu kencang, di sertai gemuruh dan dinginnya malam membuat siapa saja tidak berani keluar dari rumah mereka.
Malam itu hujan deras telah turun. Persiapan kelahiran bayi ketiga jenderal gem telah siap, jenderal dan kedua anaknya sedang menunggu cemas di sebelah ruangan tempat istrinya melahirkan. Bunyi petir bersahutan dan angin kencang merobohkan tiang-tiang rumah di desa itu, tidak lama setelah itu terdengarlah suara tangis bayi yang memekakkan telinga.
Bibi Choi keluar dengan menggendong bayi perempuan lucu di tangannya.
Detik-detik sebelum kelahiran anak ketiga jenderal membawa perubahan di pegunungan Geem. Angin berhembus begitu kencang di sertai petir yang menggelegar dan menyambar pepohonan.
Terlihat seperti sebuah batu yang membeku yang di tumbuhi sulur-sulur panjang sehingga tertutup dengan dedaunan merambat. Mereka membeku layaknya bongkahan batu di bawah pepohonan besar. Beberapa musim telah berganti, mereka masih membatu di bawah pohon itu untuk menunggu lahirnya jenderal mereka kembali.
__ADS_1
Tangis bayi perempuan di kota hanyang membangunkan kelima Akai di pegunungan Geem, bongkahan batu itu retak sedikit demi sedikit, kini yang terlihat bagaikan pahatan manusia yang terukir indah.
Detak jantung mulai terdengar dari kelima patung itu, ketika tangisan bayi pertama kali itu terdengar maka retakan itu jatuh dengan keras di tanah dan hancur berkeping-keping.
Kelima Akai kini telah terbangun dari tidur panjangnya, mata mereka seketika membuka dan Bergerak-gerak.
Sementara di kerajaan Juseun sang raja juga sedang menunggu dengan begitu cemas di luar istana sang ratu, dia sedang bolak balik dan menautkan kedua tangannya.
"Kenapa lama sekali? Apa yang di lakukan tabib itu, mengapa belum terdengar juga?
Tidak lama kemudian terdengarlah tangisan bayi mungil.
"Selamat paduka yang mulia, selamat atas kelahiran sang putri."
"Putri katamu?"
"I..iya yang mulia." Seorang tabib wanita sedang menggendong bayi perempuan kepada sang raja.
"Dia bayi yang sangat cantik." ucap tabib itu.
Hembusan angin pada saat itu memberi kabar pada kelima Akai.
Satu persatu dari kelima Akai pun bergerak dan puing-puing batu yang menutupi tubuhnya jatuh berserakan di tanah.
"Ugkh...badanku kaku sekali." Ucap Hatachi.
__ADS_1
"Sudah lahir...." Ucap Matsue.
"Telah lahir di kota Hanyang dua bayi perempuan." ucap Otaru yang masih menutup matanya yang berat.
Perlahan mereka sudah berdiri dan menatap satu sama lainnya. Tutsima memandang satu persatu teman-teman Akainya.
"Aku akan ke sana untuk memastikannya." ucap Rui.
"Tapi yang mana jenderal kita?" ucap Hatachi sambil menghembuskan napasnya dan menatap langit-langit yang berarak.
"Seharusnya kita kembali ke bentuk semula saat jenderal sudah dewasa, sekarang bagaimana? kita tidak tahu yang mana jenderal kita." ucap Hatachi.
"Siapakah keluarga dari kedua bayi perempuan itu?" tanya Otaru, tapi hatachi yang menjawabnya.
"Yang pertama putri dari keluarga jenderal Lee gem ling, dia merupakan jenderal kerajaan di juseun, dan yang satunya lagi, hm...dia adalah putri dari raja juseun, menurutmu yang manakah yang paling memungkinkan bahwa dia adalah jenderal kita?" tanyanya.
Rui masih memegang pedang jenderal, menatapnya lalu berkata. "Tidak ada jalan lain selain menunggunya kan." ucap Rui.
"Bagaimana kalau kita berbagi tugas?" Usul hatachi sambil memandang Matsue yang ingin bersin dengan pandangan jijik.
"Tidak adakah tempat yang lebih hangat untuk berdiskusi? di sini sangat dingin...Hua..Huachim.."
"Baru sekarang kau bersin? padahal kau membeku selama beberapa tahunkan?" ucap Hatachi.
"Baik, kita akan mencari penginapan, maka kelima Akai pun meninggalkan pegunungan Geem tempat mereka membeku.
__ADS_1