Bloody General Sword

Bloody General Sword
Vol 29


__ADS_3

Matanya terlihat tajam menatap pelayan di depannya, tidak ada pilihan lain lagi, cuma ide ini yang ada dalam pikiran renzai. Ketika jalanan cukup sunyi, renzai berjalan cepat dan menyerang pelayan itu hingga jatuh pingsan.


Renzai berlari, mencari jalan keluar dari istana, seketika ia bersembunyi ketika melihat pasukan istana berbaris rapi dan berjalan melewatinya, kemudian Renzai melompat ke atas tembok istana kemudian memanjatnya, setelah berhasil melompat dia berlari sangat cepat, lalu kemudian melompat lagi dengan mudahnya.


"Bagus, tidak ada penjaga istana, dia kemudian berhenti ketika melihat seseorang berdiri dan duduk di singgasananya. "Ck, itu putra mahkota." Gumam renzai. Tetapi tatapannya menjadi aneh, wajahnya seperti dia begitu kenal, sangat familiar, wajah pangeran mahkota sangatlah mirip dengan ingatan renzai yang di dapatnya tadi, ketika dia melewati Museum, seorang pria yang naik di atas tahta kerajaan dan anak kecil yang berdiri di sampingnya.


Renzai kemudian melompat lagi dengan ahlinya, dia berlari menuju pintu belakang istana, karena penjagaan di sana tidak begitu ketat di bandingkan gerbang istana.


"Bagus pintu keluar."


Renzai mengintip dari balik tembok, kemudian dari arah belakang seseorang menepuk pundaknya. Renzai berbalik karena terkejut.


Renzai berbalik dan siap menyerang. "Tu..tunggu dulu." Ucap seseorang yang mundur beberapa langkah, dia kaget dengan serangan renzai. Mereka pria yang selalu memanggilnya jenderal.


~


Hatachi begitu terkejut ketika hampir menerima serangan dari Renzai.


"Apa yang anda lakukan di sini?" tanya Otaru, "Test berikutnya akan segera di laksanakan, anda tidak pergi ke sana?" tanyanya.


Renzai memandang mereka satu persatu. "Apa yang kulakukan bukanlah urusan kalian," Jawabnya dengan sinis, kental dengan sikap permusuhan.


"Apakah anda ingin keluar dari istana?" tanya Rui, dia tersenyum kepada renzai. "Kalau anda tidak keberatan kami akan membantu anda melarikan diri dari sini." Ucapnya.


Renzai menatapnya dan menilai, "Kenapa? apa alasan kalian ingin membantuku."


"Kami memiliki ribuan alasan kalau anda bersedia mendengarkan kami." Ucap tutsima.


Renzai memandang curiga kepada mereka, tetapi akhirnya menyetujui menerima bantuan mereka.


"Gunakan pakaian ini." Kata Hatachi, ia memberikan pakaian pengawal kerajaan kepadanya, melihat ekspresi renzai, hatachi kemudian menyambung ucapannya.


"Baju yang anda gunakan sangat mencolok." Renzai memandang dirinya, lalu mengambil pakaian pengawal yang di berikan untuknya.

__ADS_1


Setelah berganti pakaian dengan mengenakan pakaian seorang prajurit, dia keluar dari tempat gantinya dan menemui mereka berlima, Rui terbatuk kecil ketika melihatnya, dia menyamarkan tawanya.


"Kenapa kau tertawa?" Renzai memandang Rui jengkel, dia lalu menatap pakaian yang dikenakannya, harus dia akui, dia kelihatan konyol.


Hatachi menendang kaki Rui.


"Dia bercanda, pakaian itu sangat sesuai dan sangat cocok untuk anda." Renzai kemudian memelototinya.


"Apa kau bilang? cocok?"


"Kita berangkat sekarang." Kata Matsue menghentikan perdebatan. "Lihat ! prajurit-prajurit di sana akan melewati tempat ini." Mereka berenam berjalan senatural mungkin dan melewati pos penjagaan tanpa ada yang mencurigainya, akhirnya mereka tiba di pintu gerbang bagian belakang dengan selamat.


Mereka berenam berjalan dan sudah jauh dari istana, Hatachi menjulurkan sesuatu kepada Renzai, "Kenakan pakaian ini, jika tidak, orang-orang akan curiga." Ucap Hatachi.


Renzai menyipitkan matanya, melihat bungkusan itu dengan ragu, tetapi kemudian dia mengambilnya. Setelah berganti pakaian, Renzai berdiri di hadapan kelima para Akai.


Renzai bermaksud mengucapkan terima kasih, tetapi berkat sikapnya yang seperti itu, yang begitu jarang berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain, apalagi dia tidak pernah berkumpul dengan gadis-gadis seusianya, maka ucapan terima kasihpun sulit dia utarakan. Renzai nampak berdiri dengan sedikit salah tingkah.


"Ehm, itu...." Mereka berlima menunggu, hatachi menahan tawanya, tetapi di cubit oleh Otaru. Rui hanya menatapnya sambil tersenyum, sikapnya begitu menggemaskan, sama persis ketika mereka hidup di masa kerajaan Ochtosk. Otaru mengambil alih, renzai berdiri dengan gamang, nampak pipinya memerah karena mengucapkan terima kasih saja, sungguh sulit keluar dari bibirnya.


Renzai menatap mereka, dia juga sebenarnya penasaran dengan sikap dan kebaikan yang di tunjukkan kepada dirinya.


"Baiklah," Renzai hendak berbalik ingin pergi, kemudian dia berbalik lagi dan akhirnya ucapan itu keluar juga dari mulutnya. "Terima kasih." ucapnya pelan, sempat renzai melirik kepada salah satu dari mereka yang tertawa kecil.


Renzai akhirnya bisa kembali pulang. "Tch, sebenarnya aku bisa keluar dari istana itu, meskipun tanpa bantuan mereka berlima." kata renzai angkuh.


Renzai hendak kembali pulang, dan memikirkan alasan mengenai kepulangannya, tetapi langkahnya terhenti, dia melihat sekumpulan prajurit di depan gerbang rumahnya, dan melihat hana kakaknya di bawa masuk ke dalam tandu. Renzai bersembunyi dan menatap prajurit-prajurit yang membawa paksa Hana menuju ke istana.


"Apakah pihak istana telah mengetahui pelarianku?" gumam renzai. "Mereka membawa kak Hana, apakah mereka pikir yang lari dari istana adalah kak Hana? Sial !"


~


Putri-putri para pejabat masih berkumpul di ruangan yang begitu luas yang di tujukan untuk menampilkan keterampilan mereka mengenai seni dan keterampilan yang dimiliki oleh mereka.

__ADS_1


Mereka semua berbalik, ketika melihat prajurit datang membawa tandu, saat tandu itu berhenti, hana keluar dari tandu itu, lalu di bawa langsung ke hadapan putra mahkota. Hana duduk tertunduk, dia ketakutan dan kebingungan, dia tidak mengerti dengan situasi yang dihadapinya.


Seakan Hana akan divonis hukuman mati, dia gemetar ketakutan, pangeran menatapnya dengan pandangan dingin dan tajam.


"Mengapa kau lari?" Tanya pangeran mahkota kepadanya.


"Ha...hamba," Air matanya jatuh tak tertahankan, hanna tidak bisa berkata apa-apa, dia sangat ketakutan.


"Apakah ini bunga rangkaian milikmu?" dia bertanya kembali.


Hanna menatap rangkaian bunga milik Renzai. "I..itu bukan milik hamba yang mulia." ucapnya dengan suara bergetar.


Tiba-tiba seorang kasim maju selangkah, dia menatap hana dengan seksama dan berkata kepada yang mulia pangeran.


"Maaf yang mulia, jika hamba akan menyela perkataan yang mulia, setahu saya, rangkaian bunga ini bukan miliknya, wajahnya sangat berbeda, saya sangat yakin yang mulia."


Pangeran mahkota kemudian berbalik menatap kasim tua itu sambil mengernyitkan alisnya. "Benarkah? lalu kenapa kalian membawanya ke istana?" Ucap pangeran tidak mengerti.


"Nona Lee Hana adalah putri pertama dari Jenderal Lee Gem Ling, dan dia tidak terpilih dalam kontes merangkai bunga." Wajah hana merona dan malu.


"Lalu siapa pemilik rangkaian bunga aneh ini? Aku sengaja memilihnya karena rangkaian itu terlihat lain dari pada milik peserta lainnya, saya ingin tahu apa makna dari rangkaian bunga aneh yang di rangkainya." Ucap sang pangeran.


"A..adikku yang mulia," Jawab Hana dengan suara gemetar.


Pangeran mahkota kembali memandangnya. "Adikmu? Lalu, dimana dia sekarang? berani sekali dia melarikan diri dari istana, padahal dia salah satu yang terpilih mengikuti seleksi calon putri mahkota !"


Hana gemetar ketakutan, dia tertunduk dengam air mata berjatuhan di pipinya.


"Kalau dia tidak datang sampai besok siang, seluruh keluarga Jenderal Lee gem Ling akan mendapat hukuman yang berat, karena dengan berani menyalahi tugas dan lari dari istana, sama saja telah menghina keluarga kerajaan." Ucap sang pangeran.


Hana menautkan jemarinya, tubuhnya gemetaran, setelah mengucapkan titahnya, pangeran segera pergi. Hana kemudian di bawa ke ruangan khusus dan di tahan di sana.


Sementara itu Renzai berlari dan memanjat di tembok menuju kamarnya, dia begitu terkejut ketika melihat puluhan prajurit menahan orang-orang di rumahnya dan menjadikan mereka sebagai tahanan rumah.

__ADS_1


"Aku harus bergegas kembali ke istana." Ucap renzai dengan marah.


__ADS_2