Bloody General Sword

Bloody General Sword
Eps 43


__ADS_3

Derap kaki kuda memasuki barak utama, debu beterbangan ketika seluruh pasukan memasuki kawasan khusus itu. Tenda-tenda telah terbakar dan sebagian berusaha di padamkan oleh prajurit-prajurit, asap mengepul menyisakan bau kayu bakar yang hangus. Jenderal lalu turun dari kudanya, dia lalu berlari menuju tenda milik Renzai, ternyata tenda itupun terbakar, kepanikan melanda jenderal, suara jenderal menggema memanggil nama Renzai. Dia berlari ke balai pengobatan dan memasuki tempat itu dengan napas tersengal-sengal.


"Dimana Renzai, di mana putriku. Apa dia baik-baik saja?" Matanya mengarah pada kedua perawat yang sedang mengobati tabib Jang yang terluka. Ketika mendengar nama Renzai kedua perawat itu berjengit, dia ketakutan mendengarkan nama itu di sebut-sebut.


"Bagaimana dengan putriku, dia pasti ketakutan dan sembunyi di suatu tempat, dimana dia?" Ucap Jenderal panik. Suara dengusan terdengar dari tabib Jang. Dia kemudian membuka matanya perlahan. Dia mengernyit ketika memandang Jenderal Geem, karena tidak sanggup membuka kedua matanya yang terluka.


"Putri anda berada di tenda anda, Jenderal. Jangan khawatir, putri anda hebat, mampu melindungi dirinya sendiri." Ucapnya. Dia kemudian menutup matanya lagi dan mengingat kembali bagaimana mata merah mengerikan itu berubah di wajah gadis itu.


Jenderal kembali berlari-lari menuju tenda, dari kejauhan dia melihat putrinya sedang berbicara kepada Wakil Cheon. Sedangkan wakil Cheon terlihat menunduk dan berbicara serius dengannya.


"Renzai." Ucap sang jenderal.


Keduanya berbalik, wajah pucat jenderal Geem terlihat jelas, wakil Cheon mundur perlahan-lahan ketika Jenderal Geem mendekat.


"Bagaimana keadaanmu kau tidak terluka kan? Kau tidak apa-apa?" Ucapnya. Renzai tersenyum tipis.


"Aku baik-baik saja Ayah, jangan khawatir. Tadi, ketika musuh datang menyerang, saya berlari bersama perawat lainnya, jadi mereka tidak menemukan kami." Ucap Renzai berbohong dengan lancar.


Terlihat wajah Jenderal Geem sangat lega, dia kemudian menepuk lembut kepala putrinya. "Ayah sangat khawatir, kau sama sekali tidak tahu bahwa musuh kita sangatlah kejam, bagaimana jika mereka menemukanmu dan menangkapmu?" Ucapnya. "Aku akan memohon kepada pangeran agar hukumanmu di percepat, kita akan kembali ke Hanjang. Kau tidak perlu melihat peperangan ini, peperangan ini tidak akan pernah habis, Renzai. Suatu waktu pihak musuh akan datang lagi dan berusaha lagi merebut benteng." Ucap Jenderal.


"Sebaiknya kau masuk kembali ke tenda, beristirahatlah. Ayah masih harus mengurus beberapa hal penting, dan berbicara dengan putra mahkota."


"Baik ayah."


***


Wakil Cheon terlihat termenung, dia mengingat pembicaraan dengan Nona Renzai. Dia membicarakan mengenai strategi perang yang hebat, sehingga nantinya musuh tidak akan kembali menyerang. "Bagaimana mungkin dia menyuruhku berbicara ketika orang-orang hebat akan rapat sebentar lagi? Aku hanyalah seorang wakil kapten, jika aku berbicara di depan pangeran dan jenderal, bagaimana dengan kapten, dia pasti akan mengatakan, kenapa kau tidak mengatakan strategi itu kepadaku sebelumnya? Ughhh, aku bisa gila." Ucap Wakil Cheon sambil menunduk.


Suara kekehan terdengar dari atas pohon lebat itu, dia bisa melihat bagaimana frustasinya wakil Cheon di bawah perintah Renzai.

__ADS_1


"Hehe sangat lucu melihat dilema yang di hadapi wakil Cheon, di satu sisi dia hanyalah seorang wakil kapten yang belum pantas berbicara di dalam rapat penting, apalagi di hadapan pangeran, jenderal dan seluruh kapten. Tetapi di sisi lain dia ketakutan kepada Jenderal kita, bagaimanapun dia harus menyampaikannya." Ucap Otaru.


"Andaikan saja kita bisa mendekati pangeran itu, akan lebih mudah mengatur siasat dan memenuhi keinginan Jenderal. Akan tetapi dia adalah pangeran Yamagashi yang merupakan musuh besar jenderal kita. Apalagi mungkin saja ingatan masa lalunya akan kembali sedikit demi sedikit dan hal itu akan berbahaya bagi keselamatan jenderal." Ucap Tutsima.


****


Seluruh kapten di setiap barak berkumpul dalam tenda milik pangeran. Semuanya telah berkumpul, terlihat wakil Cheon meminta izin kepada jenderal Geem, agar dia diizinkan mengikuti rapat, dengan alasan dia juga ingin mengetahui tindakan apa yang di ambil oleh musuh nantinya. Jenderal Geem menganggukkan kepalanya meskipun dia mengernyitkan alisnya, baru kali ini wakil Cheon terlihat antusias.


Mereka semua telah berkumpul dan membentuk lingkaran besar, meja besar itu berada di tengah-tengah dengan peta wilayah setiap kota dan desa serta wilayah musuh terpampang di hadapan mereka.


"Pasukan musuh tidak akan berhenti menyerang kita, setelah menguasai benteng Gamyoung mereka akan kembali membawa pasukan besar untuk kembali mengalahkan kita dan merebut benteng itu. Wilayah benteng Gamyoung merupakan wilayah yang sangat strategis, jika sudah menjadi milik kita, maka seluruh tanah luas itu sampai ke wilayah perbatasan musuh akan menjadi teritorial kerajaan Hanjang. Jika mereka melewatinya, maka mereka telah melewati batas Hanjang. Jadi, saya ingin meminta pendapat kalian semua mengenai strategi berikutnya." Ucap Jenderal.


Pangeran menganggukkan kepalanya, "Apa yang di katakan oleh Jenderal Geem memang benar, akan tetapi untuk mengalahkan seluruh musuh yang akan datang sebentar lagi, sangat tidak mungkin dengan melihat kondisi seluruh prajurit kita yang hanya tersisa ratusan orang, apalagi sebagian dari prajurit kita banyak yang terluka. Kondisi kita sangat tidak memungkinkan untuk memulai peperangan." Ucap pangeran.


"Bagaimana jika kita menggunakan prajurit dari Barak kedua, sekitar dua hari perjalanan, mereka akan tiba menjadi pasukan tambahan sebelum pasukan musuh memasuki wilayah benteng Gamyoung." Ucap salah satu kapten yang hadir di sana.


"Tidak, hal itu sangat beresiko besar. Jika kekuatan di Barak kedua lemah, musuh dari tempat lain akan menyerang dan mereka akan menguasai wilayah kita dengan mudah. Saya tidak setuju dengan usul itu." Ucap Jenderal Geem.


"B-bagaimana jika kita menggunakan strategi itu, maksudku Erm ... di wilayah benteng di sekitar hutan terdapat daun Hogweed yang tumbuh subur, tanaman rumput liar itu sangat beracun, apabila terkena sedikit saja kulit atau mata atau bagian tubuh kita, maka akan menyebabkan kebutaan permanen dan rasa gatal dan terbakar yang menyengat." Ucap Wakil Cheon.


"Apa kau bermaksud menggunakan rumput raksasa itu? menyentuhnya saja akan menyakiti tubuh kita, kita tidak bisa memindahkannya di sekitar benteng apalagi jarak benteng dan hutan cukup jauh." Ucap salah satu kapten yang duduk persis di depan Wakil Cheon.


"K-kita tidak akan memidahkannya tentu saja, karena sama saja kita akan melemahkan sebagian prajurit kita, akan tetapi kita hanya akan menyebarkan rencana kita kepada pihak musuh, biarkan dia tahu strategi kita, bahwa kita menggunakan tumbuhan racun Hogweed untuk menghadapi mereka, dan kita akan memberikan informasi palsu bahwa pasukan Hanjang telah menyebarkan racun ke sungai-sungai yang mengalir sepanjang benteng, juga telah di berikan racun yang akan mengalir ke wilayah mereka." Ucap Wakil Cheon.


Jenderal Geem lalu berbalik menatapnya. "Jadi maksudmu, kau ingin melemahkan semangat musuh atau menjatuhkan mental mereka karena ketakutan akan racun itu, jadi mereka akan berpikir ulang untuk menyerang benteng kita, dengan kata lain kita akan mengunakan taktik penyerangan psikologis, sebelum peperangan terjadi, kita telah melemahkan semangat musuh." Ucap jenderal Geem.


"Benar jenderal, jika mereka mengetahuinya, mereka akan mengambil waktu cukup lama untuk menyusun kembali strategi mereka, sehingga kita bisa mendapatkan pasukan tambahan dalam jumlah besar dari kota Hanjang, perjalanan mereka akan mencapai seminggu, ketika musuh mempercayainya, maka kita kembali menghimpun kekuatan prajurit kita." Ucap Wakil Cheon."


"Strategimu menarik dan hebat wakil Cheon." Ucap pangeran memujinya. Wakil Cheon hanya menunduk dan tidak mau menatap kaptennya, dia sedang memicingkan matanya ke arahnya.

__ADS_1


"Apakah ada pendapat lainnya mengenai strategi wakil Cheon?" Ucap Jenderal Geem. Tidak ada yang menyanggahnya, maka keputusan pun di buat.


"Kita akan menggunakan strategi Wakil Cheon, karena itu satu-satunya harapan yang bisa kita lakukan. Aku berharap informasi ini akan tersebar ke wilayah musuh esok hari." Ucap pangeran.


"Pasukan tambahan akan datang seminggu lagi, semoga informasi palsu ini akan mereka percayai dan mereka akan ketakutan."


***


Renzai sedang berdiri menghadap ke arah padang yang luas di depan tendanya, saat itu dia tidak melihat jenderal Geem dan pangeran Yamagashi telah keluar dari tenda.


"Renzai, kenapa kau keluar malam-malam begini, di luar masih sangat berbahaya." Ucap Jenderal Geem. Renzai melirik ke arah pangeran, dan menatap kembali ayahnya. "Aku hanya ingin mencari udara segar, karena udaranya sangat berasap." Ucap Renzai.


"Kau memang benar, tetapi kita perlu banyak api untuk memperluas pandangan kita dari pihak musuh. Jadi aku ingin kau sedikit bertahan, Renzai."


"Baik Ayah."


"Oh ya, apa kau sudah meminta maaf kepada pangeran mengenai hukumanmu itu?" Jenderal Geem menatap Renzai lalu menatap kepada pangeran yang berdiri di belakangnya.


Jenderal menatap Renzai sambil menghembuskan napasnya. "Ayah akan memberikan waktu kepadamu, bicaralah kepada pangeran." Jenderal Geem segera masuk ke dalam tenda. Ucapan Jenderal membuat Renzai ingin marah kepada jenderal Geem. Lidahnya keluh dan tidak sanggup mengatakannya. Renzai menatapnya sinis dengan pandangan permusuhan.


"Apa pandanganmu itu menunjukkan bahwa kau sedang ingin meminta maaf? Kau terlihat ingin menyumpahiku, Nona Renzai." Ucap pangeran dengan suaranya yang dalam.


Giginya menggertak sempurna, bahkan untuk mengucapkan satu kata pun Renzai terlihat sangat kesulitan. Pangeran menatapnya dan menunggu, tetapi tidak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya.


"Apa kau tahu? Wajahmu itu sekarang terlihat sangat aneh, lupakan ucapan minta maaf itu, kau sudah cukup menjalani hukumanmu selama peperangan ini, jadi aku menganggap itu sebagai permintaan maafmu kepadaku. Suatu hari aku pasti akan mendengar ucapan maaf darimu." Pangeran tersenyum tipis lalu beranjak dari hadapan Renzai.


Astaga, Nona Renzai benar-benar keras kepala, bahkan pangeranpun tidak bisa memaksanya untuk berbicara. Pikir wakil Cheon yang berjalan di belakang pangeran beserta kapten-kapten lainnya.


"Apakah dia putri dari Jenderal Geem? Aku mendengar mengenai hukumannya. Dia sangat cantik, apa hanya aku yang menyadarinya? Bagaimana jika sepulang peperangan ini aku akan meminta ayah untuk melamarkannya untukku." Ucap salah satu kapten yang berasal dari Barak ketiga, dia sejak tadi memperhatikan Renzai ketika mereka semua baru saja keluar dari tenda pertemuan itu, dia adalah putra dari seorang menteri kanan kepercayaan kaisar bernama Kim Hyun Ki.

__ADS_1


Melamarnya? Nona Renzai akan membunuhmu, Dia pasti sudah gila**. Bisik Wakil Cheon ketika mendengar ucapan pria yang berjalan di hadapannya.


__ADS_2