Bloody General Sword

Bloody General Sword
Vol 17


__ADS_3

Suasana hari itu begitu cerah kelima hatachi berada di kediamannya.


"Jadi, bagaimana kita mengamati anak yang satunya?" ucap Matsue.


"Sang putri?" tanya Otaru.


"Ya, kau benar dia berada di dalam istana, kudengar dia adalah anak yang ceria dan baik hati, mungkin satu-satunya cara untuk bertemu putri kita harus menjadi prajurit di istana itu." Ucap Hatachi sambil duduk dibatas kayu di pintu luar sambil melebarkan kipasnya.


"Prajurit?" kata hatachi.


"Ide yang bagus."


Otaru dan tutsima mengikuti ujian untuk menjadi pejabat pemerintahan di istana itu, mereka dengan begitu mudah di terima di istana berkat keterampilan yang mengagumkan dari mereka berdua. Sedangkan Rui, Hatachi dan Matsue menjadi seorang prajurit di istana.


~


Pagi itu ayah Renzai membawa ketiga anaknya ke istana, sekarang ini di adakan panen bunga yang sedang bermekaran di musim semi kala itu, para putri dan putra dari pejabat pemerintahan di undang ke istana.


Bersama dengan sang ayah, pergilah mereka berempat menuju ke istana, tidak berselang mereka bertiga akhirnya sampai ke depan gerbang istana. Ketiganya memasuki istana dengan segala penjagaannya yang ketat.


"Lee Renzai?" Panggil sang kakak.


"Tersenyumlah, dari tadi wajahmu cemberut terus, ini kan pertama kalinya kau masuk ke istana?" ucap Cha Wu


Renzai menatapnya dengan malas. "Tersenyum untuk mencabut rumput? bodoh sekali." Ucapnya sinis. "Memakai pakaian seperti ini hanya untuk menemani putri dan pejabat istana hanya untuk mencabut rumput itu?"


"Sstt kecilkan suaramu nanti ada yang mendengarnya, dan lagi kita memetik bunga Krisan bukan rumput." Ucap Cha wu.


"Tidak ada bedanya bagiku." Renzai menyeringai mengerikan menatap para putri bangsawan yang hadir dan berkumpul tepat di paviliun utama.


Tiba-tiba ayahnya berbalik dan menatap ketiga anaknya. "Perhatikan sikap kalian, kalian mengerti?" Ucapnya.

__ADS_1


"Iya Ayah." Ucap mereka serentak.


~


Mereka akhirnya tiba di paviliun kerajaan, di sana para pejabat dan putra serta putri mereka semua berkumpul di sana. Kain sutra dan hiasan emas, perak serta giok menghiasi mereka yang berkumpul pada hari itu.


"Ketika raja datang kalian bertiga ikuti ayah, berikan penghormatan dengan menunduk." Peringat ayahnya.


Musik kerajaan bersatu mengalun dengan indah gayageum, daegeum, haegeum dan geomungo, mengalun dengan harmoni yang indah. Suara seorang pria terdengar dari sudut meneriakkan bahwa raja telah tiba.


"Paduka telah tiba."


Semua orang yang hadir di sana menundukkan kepalanya dan menekuk kakinya. "Panjang umur yang mulia." Ucap mereka serentak. Keluarga Lee gem Ling beserta ketiga anaknya turut memberikan penghormatan kepada sang raja dan permaisurinya yang juga hadir di sana.


Wajahnya nampak puas, dia kemudian duduk di singgasananya bersama sang istri. "Hari yang begitu indah untuk memulai acara pemetikan bunga Krisan dan bunga yang mekar di musim semi ini, semoga kerajaan kita selalu makmur dan aman." Ucap sang raja.


Renzai berdiri tepat di belakang kakaknya mengamati mereka yang tunduk kepada Raja, tampak di sebelah kirinya permaisuri yang selalu mengangguk ketika paduka yang mulia berbicara sedangkan di samping permaisuri duduk seorang gadis usianya tidak jauh berbeda dengan Renzai, dia mengenakan pakaian kerajaan, baju sutra berwarna pink dengan hiasan rambut berbentuk bunga krisan, Putri Youl in namanya.


"Itukah sang putri?" Ucap salah satu anak pejabat yang berdiri tidak jauh dari renzai. Dia mengamati dua sosok prajurit dengan sikap yang aneh menatap langsung sang putri sambil berbisik-bisik.


"Sepertinya gadis kecil itu memang putri." ucapnya. Tiba-tiba Hatachi menyenggol Rui. "Lihat, itu kan Lee Renzai, sepertinya dia datang bersama ayahnya. Rui menatap Renzai lalu memandang sang putri. "Salah satu dari mereka adalah jenderal dari kerajaan Ochtosk, tapi yang mana jenderal kita?" ucapnya.


~


Para putri pejabat ditinggalkan di ruangan Paviliun, sementara sang ayah mengikuti Yang mulia ke tempat lainnya.


"Kak Hana." Ucap Renzai. "Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanyanya sambil berbisik.


"Sepertinya putri hanya memilih mereka yang akrab dengannya." Seringai Renzai


"Sstt, jangan berisik Renzai."

__ADS_1


Dia dan kakaknya tengah berdiri di belakang dan memperhatikan putri yang menyebut nama dan pekerjaan ayah mereka.


"Tunggulah Renzai, sebentar lagi kita akan ke kebun istana, kau akan terkejut melihat ratusan bunga berwarna-warni, kau tahu? wanginya sangat harum dan menenangkan." Ucap Hana bersemangat.


Renzai kini duduk, kakinya begitu pegal dari tadi hanya berdiri saja. "Lihat Renzai kebun istana sudah dibuka." Ucap Hana sambil memegang tangan adiknya yang terlihat bosan.


Putri dan teman pilihannya terlebih dahulu masuk ke kebun istana, mereka yang lainnya yang tidak terpilih harus berbaris menunggu giliran untuk masuk. Tiba-tiba dari arah belakang ada seorang gadis yang menyambar Hana dan mengambil posisinya.


Hana hampir saja terjatuh tetapi untung saja Renzai memegang tangan kakaknya, Renzai menatap gadis yang memakai pita merah itu, dia mendorong Hana ke samping, dia adalah putri salah satu menteri yang merupakan tangan kanan Yang mulia.


Nama gadis itu Park Ki Heun. "Maafkan aku ya.., seharusnya kalian tahu di mana posisi kalian seharusnya berdiri." Dia memandang Hana dengan senyum sinis merekah di wajahnya.


Hana hanya tertunduk, dia selalu mengalah, padahal gadis itu lebih muda di bandingkan Hana. Renzai menatap kakaknya yang terus tertunduk menahan tangisnya, setelah itu dia memandang gadis bernama Park ji Eun. Renzai Secara terang-terangan menginjak gaun Park ji Eun sampai dia jatuh ke tanah.


Hana melotot memandang Renzai, dia memegang tangan adiknya. "Re..Renzai hentikan, apa yang kau lakukan." Ucap hana begitu terkejut. Park ji Eun berdiri dan mengamati gaunnya yang robek, dia kemudian menatap ke arah Renzai, dia melayangkan tangannya kepada Renzai tetapi dengan cepat Renzai menangkap tangannya.


"Be..berani sekali kau anak kecil, lancang !" Teriaknya.


Renzai melipat kedua tangannya, kemudian berjalan pelan ke arah Park ji eun. "Minggir dari tempat kami, jika tidak, bukan hanya gaunmu saja yang kurusak."


Gadis itu tentu saja tidak mengalah kepada Renzai kecil dia hendak kembali melayangkan tangannya kepada Renzai. Tetapi tangan kecilnya sekali lagi menangkap tangan Park ji Eun kemudian mendorongnya ke samping.


Bisik-bisik para putri pejabat terdengar di mana-mana, Hana memegang erat Roknya sambil tertunduk. Dua prajurit tadi menyaksikan kejadian itu, mereka tidak lain Hatachi dan Rui yang sejak tadi memantau keadaan sekitar. Rui menatap Renzai, sikap angkuhnya mengingatkannya pada teman kecilnya ketika mereka masih berada di kerajaan Ochtosk.


"Aku telah merasakannya." Ucap Hatachi sambil memicingkan matanya.


"Merasakan apa?" tanya Rui.


"Gadis bernama Lee Renzai itu sangat angkuh." ucapnya. Tidak lama kemudian putri berbalik Karena mendengar keributan dari luar.


"Ada apa ini? kenapa kalian semua begitu berisik?" tanyanya.

__ADS_1


Matanya tertuju kepada Hana dan Renzai, dia menatapnya setelah dua orang gadis membisikkan sesuatu kepadanya.


"Kalian berdua, Putri dari keluarga mana?" tanyanya. Hana menatap sang putri dengan gugup sambil tertunduk sedangkan Renzai menatapnya dengan senyum menyeringai kejam di wajahnya.


__ADS_2