Bloody General Sword

Bloody General Sword
Vol 7


__ADS_3

Wanita itu berparas sangat cantik, dengan rambut hitam legam dan mengenakan Hanbok (Pakaian adat tradisional Korea) berwarna pink muda di padu dengan baju putih bersulam kupu-kupu emas di ujung lengan bajunya yang panjang. Tak tahu siapa wanita itu, dengan rambut hitam yang dikepang panjang berpita senada dengan warna pakaiannya.


Wanita itu berdiri di atas jembatan kecil, terus memandangi benteng Gaku, tak tahu apa yang di pikirkannya, ia terus memandangi benteng berwarna abu-abu itu, benteng itu dipenuhi penjaga dan prajurit.


Setelah beberapa menit berlalu, wanita itu akhirnya meninggalkan tempat itu, sewaktu di perjalanan pulang, dia bertemu lagi dengan anak yang menabraknya tadi pagi, dia berhenti sejenak dan menatapnya, dia sedang berteriak keras memanggil orang-orang untuk membeli dagangannya.


Dari arah selatan, tiba-tiba muncul sekelompok preman jalanan yang mengobrak abrik jualan para pedagang dan mengambil paksa hasil jerih payah mereka, preman itu tiba di depan jualan ayah geem dan membalikkan meja sehingga sepatu-sepatu itu berjatuhan di tanah, bahkan satupun dari sepatu jerami itu belum laku terjual.


Geem memegang tangan preman itu karena mereka mengambil sepatu jerami dan mempermainkannya.


"Bocah tengik. Apa yang kau lakukan? Lepaskan tanganmu! Atau aku akan menghilangkan nyawamu dengan mudah."


Dia menendang Geem hingga jatuh terhempas di tanah. Masih tidak putus asa, Geem bangkit dan memegang tangan si preman dan menggigitnya hingga dia berteriak keras. Preman pasar itu tidak tinggal diam, ia mengambil goloknya dan menerjang ke arah Gem dan ayahnya, tiba-tiba serangan mereka berhenti, wanita yang sejak tadi memperhatikan Geem sedang menahan serangan dari preman itu.

__ADS_1


Preman itu berbalik, dia begitu terkejut karena yang menahan tangannya adalah seorang wanita, tentu saja dia merasa kesal, harga diri preman pasar itu tidak terima jika dia dikalahkan oleh seorang wanita yang menurutnya begitu lemah.


Sebelum dia menyerang kembali wanita itu, tiba-tiba dari arah belakang terlihat dua orang pemuda yang memukul si preman pasar tadi. Dengan kecepatan yang hebat, pemuda tadi menendang dan memukul preman-preman itu, mereka semua tidak bisa menahan serangan dua pemuda itu, akhirnya mereka pun lari terbirit-birit.


Geem dan ayahnya berdiri dan menatap kedua pemuda tadi yang menolongnya.


"T-terima kasih." Kata ayah Geem sambil sedikit menunduk. Kedua pemuda tampan itu hanya menganggukkan kepalanya dan segera pergi, tetapi Geem mencari-cari seseorang.


"Ada apa Geem?" tanya sang ayah.


"Siapa yang kau maksud Geem?"


"Nona tadi, yang menahan tangan preman pasar itu, kemana dia?".

__ADS_1


~


"Rui!" panggil Otaru padanya.


"Biasanya kau tidak suka ikut campur urusan orang lain, apalagi orang yang kita tolong tadi mungkin saja akan mati di tangan kita nanti." Rui dari tadi hanya diam sedang memikirkan sesuatu, setelah itu ia menghela napas panjang.


"Jenderal kita ... apakah kau pernah melihat wajahnya?" kata Rui tiba-tiba.


"Yang kita ketahui dari jenderal hanyalah satu, yaitu dia bukanlah seorang pria, dan kita para Akai tahu tentang itu." Otaru memandang Rui.


"Kita tidak perlu tahu bagaimana wajah jenderal, kita hanya cukup setia padanya, itu sudah cukup bagiku." ucap Otaru.


"Kau tahu?" Sambil mengacak-acak rambutnya.

__ADS_1


"Setiaku pada jenderal lebih dari nyawaku sendiri," kata Rui.


"Tapi bagaimanapun juga meskipun aku tidak ingin memikirkannya, pertanyaan itu selalu dan selalu ada di dalam kepalaku, ingin mengetahui rupa jenderal kita."


__ADS_2