
Pagi-pagi sekali jenderal Geem terbangun, dia keluar dari tendanya. Seorang prajurit menghampirinya lalu membisikkan sesuatu.
"Apa Renzai berkata seperti itu? Padahal aku sudah menyuruhnya meminta maaf kepada pangeran. Kenapa anak itu keras kepala sekali?" Ucap Jenderal. Dia lalu berjalan mencari Renzai, tetapi dia akhirnya kembali ketika menyadari bahwa terlalu pagi untuk membangunkan putrinya.
Pasukan tiba-tiba berlari kepada Jenderal Geem. Wajah panik tampak di wajahnya.
"Jenderal, pasukan Gamyoung datang dari arah utara, mereka membawa ratusan orang prajurit, mereka akan menyerang kembali benteng gamyoung."
Jenderal Geem lalu berdiri dan berjalan mencari pangeran. Dia lalu masuk ke dalam tenda ketika pangeran sedang sarapan. "Pangeran, musuh bergerak dari arah utara, mereka datang bersama ratusan prajurit. Mereka semua keluar dari tenda.
"Kerahkan semua pasukan menuju benteng Gamyeung."
"Baik pangeran."
Seluruh prajurit dikerahkan menuju benteng, pangeran pun ikut mengenakan pakaian perangnya. Jenderal telah bersiap-siap, seluruh dayang pun juga mengenakan senjata dan baju besi khusus untuk berperang. Mereka bukan hanya seorang dayang biasa, mereka juga prajurit pribadi yang selalu berada di samping pangeran.
Setelah mereka bersiap-siap, Jenderal mendatangi tenda milik Renzai. "Renzai, renzai, ikut Ayah." Dia menarik tangan Renzai menuju balai perobatan. Dia kemudian masuk ke dalam tenda.
"Tetap di sini, jangan kemana-mana, ikuti mereka, jika mereka berlari kau juga ikut berlari, sembunyi di tempat aman. Jaga dirimu untuk ayah. Kau mengerti Renzai. Ayah akan segera kembali." Jenderal memberikan belati kepada Renzai, belati itu adalah belati pemberian ayahnya turun temurun. "Pegang ini, jika keadaan sangat terdesak kau bisa menggunakannya."
Renzai menatap belati itu. "Baik ayah." Ucap Renzai.
Jenderal meninggalkan tenda. Dia kemudian mengumpulkan para kapten untuk mengatur siasat berperang, mereka menempatkan mata-mata di balik hutan dan perbukitan, untuk mengawasi pergerakan musuh.
***
Para perawat menatap sinis kepada Renzai, mereka menatap marah dan tidak suka dengan keberadaannya.
__ADS_1
"Oh rupanya putri Jenderal, pantas saja dia tidak pernah ada bersama kita. Lihat saja pakaian mewah yang dikenakannya. Huh jangan harap kita akan melindunginya untuk bersembunyi, itu bukan tanggung jawab kita."
Renzai keluar dari tenda, dari kejauhan dia melihat seluruh pasukan telah berkumpul. "Tsk, apa mereka tidak bosan saling memperebutkan benteng itu seperti memperebutkan mainan? Apa ayah tidak berpikir mereka akan kalah telak jika menghadapi ratusan prajurit musuh." Ucap Renzai.
***
"Kenapa putri Jenderal Geem berada di sana?" Ucap Tabib jang.
"Jenderal Geem membawanya untuk menyembunyikannya, pangeran. Hanya di sana tempat teraman untuk saat ini, tetapi jika musuh sudah menyerang, tidak ada lagi tempat aman. " Ucapnya.
"Kita akan lihat, bagaimana kesombongan gadis itu nanti, dia pasti ketakutan ketika melihat musuh." Ucap tabib Jang sambil tersenyum.
***
Renzai telah mengganti pakaiannya di dalam hutan, dia lalu melompat dan memperhatikan pasukan Hanjang akan menghadapi musuh.
Jenderal mengumpulkan seluruh prajurit yang telah siap berperang. Sebelum berangkat Jenderal Geem mengucapkan sesuatu kepada seluruh prajuritnya.
"Serangan kali ini kita lakukan dengan Frontal. Kita tidak menggunakan strategi, meskipun musuh sangat besar tetapi dengan ketangkasan yang kita miliki, kita akan mengalahkan mereka ke segala arah." Jenderal mengangkat pegangnya, kemudian dia berteriak di hadapan seluruh pasukan.
"HIDUP HANJANG."
Teriakan jenderal di sambut dengan sorakan seluruh pasukan. Jenderal mengendarai kudanya bersama kapten lainnya, sementara para prajurit berbaris di belakangnya. Mereka sudah harus menghalangi kedatangan musuh sebelum mereka sampai di benteng Gamyoung.
Mereka bertemu di sebuah padang rumput sangat luas di kelilingi dengan pegunungan tinggi, tempat itu terkenal dengan anginnya yang kencang sehingga lapangan yang di penuhi padang rumput itu di sebut Ganghan .
Mereka semua berdiri menghalangi pihak musuh. Ratusan prajurit musuh menyerang ke arah pasukan Hanjang. Akhirnya kedua pasukan bertemu. Saat itu Renzai berada di atas bukit, kelima Akai telah berdiri di belakangnya.
__ADS_1
"Jenderal, apa yang akan kita lakukan? Apakah kita akan membantu pihak pangeran Yamagashi?" Ucap Otaru.
"Kita akan masuk ke peperangan, bunuh musuh Hanjang." Perintahnya.
"Baik Jenderal." Mereka semua bergabung memasuki medan peperangan. Renzai menggunakan topengnya berwarna hitam, dia berlari dengan cepat dan masuk ke medan pertempuran. Parajurit musuh terlalu banyak. Mereka bergerak dimana-mana. Anak panah beterbangan di udara. Tidak sedikit pasukan Hanjang yang berjatuhan. Ketika mereka lebih mendekat ke tempat musuh, musuh ternyata telah menyiapkan sebuah parit. Banyak kuda-kuda yang di kendarai pasukan Hanjang berjatuhan.
Renzai telah memegang pedang tetsunya, dengan kecepatan dan kekuatannya dia mampu menghabisi musuh-musuh, sehingga telah banyak musuh bergelimpangan dan meregang nyawa. Dia menebas setiap pasukan musuh yang di hadapinya. Kemudian meluncurkan tiga anak panah sekaligus hingga menewaskan pihak musuh yang masih berjaga di belakang.
Kecepatan Akai pun tidak diragukan lagi, mereka bukanlah prajurit biasa. Kemampuan berpedang mereka sangat hebat, kecepatan dan ketangkasan membuat pangeran yang ikut berperang melihat perbedaan besar ketika sebagian besar pihak musuh telah berjatuhan. Mereka pun sangat mencolok di antara prajurit lainnya.
Jenderal Cheon menyadari kedatangan Renzai, tiba-tiba saja dia kembali bersemangat karena dia yakin kemenangan ada di tangan kerajaan Hanjang. Panah melesat ke arahnya, dia seketika menunduk tetapi panah yang hampir mengenainya, telah dihalau oleh seseorang. Dia berbalik dan menatap seseorang bertopeng besi telah menolongnya.
Renzai melompati parit besar itu yang sebagian prajurit Hanjang telah wafat di dalamnya, parit itu di penuhi dengan bambu yang telah diruncingkan. Sehingga siapapun yang jatuh akan segera mati begitu saja.
Dengan kecepatannya, Renzai melompati parit besar itu dan menendang Jenderal dari pihak musuh langsung ke tubuhnya. Dia terkepung sekitar puluhan prajurit telah mengepungnya. Dia telah melewati parit yang tidak bisa di tembus oleh prajurit lain. Kekehan terdengar darinya.
Kemarilah, sambutlah pedangku dengan nyawa kalian yang tidak berharga
Suaranya telah berubah begutupun matanya telah menghitam dari balik topengnya. Dengan sekali serangan, dia mampu menjatuhkan mereka semua, luka sayatan yang tajam mengenai prajurit musuh dengan mudahnya dia mengalahkan musuh-musuh yang mengepungya.
Jenderal itu telah mengelurakan pedangnya, dia berteriak keras ketika menghadapi Renzai, tetapi sayang sekali kekuatan pedangnya tidak sebanding dengan permainan pedang Renzai. Dia terjatuh di tanah. Sang jenderalpun wafat, sementara itu Renzai menghabisi prajurit yang tersisa. Seluruh pasukan musuh menyadari Jenderal mereka telah wafat. Mereka berlarian ke segala arah, tetapi Kelima Akai tidak membiarkan hal itu terjadi, mereka mengejarnya dan menghabisi mereka.
"Jenderal, kita harus segera pergi dari sini." Ucap Otaru.
Para Akai telah pergi dari medan perang memasuki hutan yang lebat, Renzai dan Otaru pun ikut melompat dengan gesit dan memasuki hutan. Terlihat dari kejauhan sang pangeran menyadari kehebatan keenam prajurit yang mengenakan topeng itu, salah satunya mengenakan topeng berwarna hitam.
"Siapa mereka?" Gumamnya.
__ADS_1
Seluruh pasukan Hanjang bersorak dengan mengangkat pedangnya, Jenderal Geem berjalan di antara tubuh-tubuh yang bergelimpangan. Menatap sekali lagi jenis sayatan yang sama di antara para prajurit musuh.