Bloody General Sword

Bloody General Sword
Vol 27


__ADS_3

"Mengapa kalian mengikutiku?" tanyanya. Kelima Akai sontak menatap Renzai dengan terperanjat.


"Berikan alasan masuk akal kepadaku, apa yang kalian inginkan." ucap Renzai.


"JENDERAL." ucap mereka berlima serempak, Renzai mengerutkan alisnya, menatap tidak mengerti dengan ucapan kelima pria dihadapannya. Renzai berbalik ke belakang mengira ayahnya datang dan berdiri di belakangnya.


Siapa yang mereka panggil jenderal? pikir Renzai. Mereka terdiam dan menunduk, seakan menunggu Renzai untuk berbicara.


"Apa alasan kalian tidak mengatakan yang sebenarnya kepada istana? tanya Renzai.


"Mengatakan apa?" Kata Rui sopan.


Renzai kembali berpikir, Apakah mereka tidak melihat wajahku waktu itu?


"Maaf? kata hatachi, "Kami harus mengatakan apa pada istana tentang anda?"


Renzai terkesiap, mungkin mereka tidak mengingatku, tapi apakah itu mungkin, aku sempat bertarung dengan salah satu dari mereka.


Mereka berlima memandang Renzai, menunggu pertanyaannya yang lain. "Lalu kenapa kalian mengikutiku?" tanya Renzai.


Kali ini Otaru yang menjawabnya. "Maukah anda ikut dengan kami, dan kami akan menjawab semua pertanyaan anda dan menjelaskannya, karena ceritanya panjang." ucapnya.


Renzai mengerutkan keningnya. "Mungkin lain kali saja, aku tidak punya waktu." ucap Renzai, dia hendak pergi meninggalkan kelima Akai.


"Tunggu..tunggu Jenderal, dengarkan kami dulu." Ucap Hatachi.


"Siapa yang kau panggil jenderal!" ucap Renzai terdengar jengkel. Dia kemudian pergi, Renzai berbalik sebentar menatap kelima pria yang masih memandangnya dari kejauhan.


"Tch, mereka gila," pikir Renzai.


Hatachi berjongkok sambil menghela napas, "Huff, ini tidak akan mudah, percaya padaku." ucapnya.


πŸƒπŸƒ


Pagi itu, udara yang tadinya hangat, digantikan dengan hawa yang dingin, seminggu lagi musim akan berganti menjadi musim gugur yang membawa hawa dingin hingga menusuk ke tulang.


Tampak keluarga Jenderal Lee gem Ling terlihat sibuk akan sesuatu, rupanya hari ini adalah hari yang mereka tunggu-tunggu, dan mereka menyambutnya dengan senang hati, begitupun semua keluarga pejabat yang memiliki seorang putri.


Tapi sayangnya, tidak semua orang bersuka cita menunggu hari itu, seseorang tengah duduk menunggu sang kakak mengenakan pakaiannya yang terlihat cerah, dia sangat bersemangat menantikan hari ini. Renzai duduk di sana dengan segala ketidakpeduliannya, dia hanya memandang halaman rumah dan taman bunga, tetapi kepalanya sedang berpikir keras untuk keluar dari situasi yang menurutnya konyol ini.


"Kak Hana, berapa gaun lagi yang akan kau kenakan? ini sudah ketujuh kalinya." Ucap Renzai sambil mengacak-acak baju di hadapannya dengan malas.


"Sabar Renzai, kakak harus memilih kain sutera yang betul-betul sesuai dengan warna kulitku, agar aku terlihat bercahaya dan cantik seperti musim....

__ADS_1


"Gugur." Jawab Renzai.


Hana membelalakkan matanya. "Semi, seperti musim semi dimana bunga-bunga bermekaran." ucapnya sambil berputar dan menatap dirinya sekali lagi di cermin.


🌼🌼🌼


Seakan cuaca bertolak belakang dengan keinginan Renzai, yang dengan segala cara ia lakukan untuk membatalkan kehadirannya untuk datang ke istana. Dimulai dengan mengatakan pakaiannya hilang, sampai alasan ia sedang alergi dengan musim gugur, bahkan dia mengatakan alergi dengan suasana istana, semua alasan itu membuat Gun wu memutar kedua bola matanya.


"Alasan itu tidak akan membatalkanmu untuk berangkat ke istana Renzai, kau kurang kreatif." ucapnya sambil menggeleng.


"Tutup mulut, sepuluh menit ini aku harus melakukan sesuatu." ucap Renzai.


"Kurasa akan sia-sia adikku tersayang, lihatlah ! Ayah sudah menunggu kita di gerbang, tandupun sudah siap untukmu." Ucap kakak laki-laki Renzai, yang mendengarkan perbincangan antara Renzai dengan Gun wu, "Kita harus berangkat sekarang, jaga rumah baik-baik gun wu."


πŸƒ


Perjalanan itu cukup singkat, hanya dengan 15 menit saja, mereka semua telah tiba di gerbang istana, terlihat tandu-tandu dari seluruh tandu milik putri-putri para pejabat, mereka telah berkumpul di paviliun istana, tidak sedikit di antara mereka memperbaiki busana mereka atau merasa kekurangan sesuatu di hiasan atau di wajah mereka.


"Renzai, apa aku kelihatan cantik?" tanya Hana sambil tersenyum kepadanya. Renzai menjawab dengan ogah-ogahan.


"Bagus, indah koq." ucapnya, tampak sang kakak kecewa dengan ucapan Renzai yang terdengar tidak yakin.


"Itu saja?" tanyanya cemberut.


"Terima kasih, kau juga cantik koq." Ucap Hana, lalu tersenyum manis melihat Renzai, dia memutar kedua bola matanya karena lelah di tanya oleh Hana sepanjang jalan sampai tiba di istana.


Seorang Kasim istana keluar dari ruang dalam Paviliun istana, dia berbicara dengan mengeraskan suaranya.


"Para pejabat dan putrinya, dipersilahkan untuk memasuki ruangan."


Mereka berdua memasuki ruang istana, terlihat kemewahan yang terpancar dari dalam yang membuat semua yang masuk nampak terpesona dengan keindahan dan kemewahan yang di tampilkan.


Mereka semua berdiri sambil berbaris rapi, sekitar tiga puluh putri pejabat juga ikut berbaris teratur dan rapi, Hana berada di baris ke tujuh begitupun dengan Renzai, ia nampak santai memperhatikan sekelilingnya tanpa gugup sedikitpun.


"Renzai coba lihat, itu Raja dan ratu." Ucap Hana terpesona.


"Tentu saja mereka berdua raja dan ratu, ini kan istana, apa yang kau harapkan?" ucap Renzai.


Hana seperti menulikan telinganya mendengar tanggapan adiknya. "Tapi di mana pangeran? dia belum tiba?" gumam Hana.


"PANGERAN PUTRA MAHKOTA TELAH TIBA."


Teriak Kasim itu yang berdiri di pojok pintu istana.

__ADS_1


Pangeran datang dengan tenang, meskipun wajahnya nampak sedingin es, namun sangat tampan, dia kemudian berjalan dan duduk di sebelah paduka yang mulia.


Pidatopun dimulai dari sang raja.


"Terimakasih kepada kalian, karena telah menghadiri seleksi pencalonan putri mahkota, Sebelum kita memulai, pangeran ingin menyampaikan beberapa hal." ucapnya.


Renzai nampak tidak ambil pusing, dia hanya melirik ke kiri dan kanan, tidak memperhatikan pidato raja yang membosankan itu, ia tengah sibuk untuk membuat rencana lain, agar dia secepatnya pergi dari istana. Sesuatu mengalihkan perhatian Renzai, suara lembut tetapi tegas, mengingatkannya akan memorinya yang masih kabur dan samar-samar.


"Kerajaan ini terkenal dengan seribu bunganya." ucapnya, Renzai kemudian terkesiap, dia mengerutkan alisnya.


"Sepertinya aku pernah mendengar suara ini." ucap Renzai, dia memberanikan diri menatap sang pangeran yang berpidato.


~


Sementara itu di gerbang, kelima Akai berdiri dan sedang mendiskusikan sesuatu.


"Menurutmu jenderal akan terkejut?" Kata Hatachi. "Atau dia mungkin tidak mengenalinya sama sekali."


"Dia pasti akan terkejut, aku yakin." Tutsima mengipas dirinya sambil memandang paviliun dari kejauhan.


"Dia tidak akan mengingatnya, jenderal saja belum mengingat tentang kita para Akai yang selalu setia kepadanya, apalagi pangeran itu, dia kan pengkhianat saat itu." Rui berkata dengan suara yang tidak sabar.


Matsue bersandar di dinding kayu dan mendengarkan Otaru berbicara. "Pangeran Yamagashi, dia adalah pemimpin pemberontakan saat kita ingin melakukan penyerangan pada waktu itu, karena dialah sang jenderal kita berubah menjadi buih dan mengalami kelahiran kembali seperti sekarang ini." ucapnya.


"Siapa yang sangka Pangeran Ochtosk di masa lalu adalah pangeran yang kembali lahir dan hidup di Hanjang sama seperti jenderal kita saat ini." Ucapnya.


~


~


Nampak para putri pejabat berada di kebun bunga kerajaan, tugas yang diberikan oleh pangeran adalah merangkai bunga di antara seribu bunga yang ada di kebun istana.


"Ck, sial ! betul-betul membuang waktuku, konyol sekali," pikir Renzai. Dia menatap bunga-bunga di sana dengan wajah bingung.


Beda halnya dengan para putri-putri pejabat istana, mereka semua sangat antusias dalam merangkai bunganya, Rangakaian itu bukan hanya terlihat indah dan menarik, melainkan harus memiliki jiwa seni dan arti yang mendalam dari setiap rangkaian bunga tersebut.


Renzai memandang kakaknya, dia terlihat tidak memperdulikan orang-orang di sekitarnya dia terus merangkai sambil komat-kamit menghapal nama-nama bunga itu. Renzai duduk di antara bunga-bunga yang berwarna warni, dia memetik apa saja yang berada di jangkauannya dan menggabungkannya secara acak. Renzai kemudian berpikir, wajah pangeran itu tidak asing, ia seperti pernah melihatnya di suatu tempat.


"Renzai ! Renzai, sudah waktunya, mana bunga rangkaianmu?" tanyanya. Tiba-tiba matanya membelalak dan sangat terkejut melihat hasil rangkaian adiknya.


"Bung..bunga apa itu Renzai?" Ucap Hana jijik, melihat salah satu bunga layaknya seperti jamur berwarna kuning berbintik kemerahan.


"Itu bunga bangkai." Jawab Renzai asal.

__ADS_1


__ADS_2