
Medan pertempuran
Seluruh pasukan Hanjang bersorak-sorak mengangkat pedangnya, jenderal Geem berdiri diantara tubuh yang bergelimpangan, dia memperhatikan semua bekas sayatan yang sama, Jenderal berjongkok dan memperhatikan sayatan itu.
"Salah satu prajurit yang melakukan hal ini?" Gumamnya. Dia terus berjalan di antara parit dan melihat para prajurit yang gugur.
Wakil kapten Cheon juga berjalan di padang rumput yang berbau anyir itu, lapangan luas berumput itu sudah menjadi tempat mengerikan karena tubuh-tubuh bergelimpangan di segala arah.
Mereka sungguh hebat, sangat terlihat perbedaan yang begitu besar dengan kehadiran Nona Renzai dan kelima pria itu. Dia adalah seorang putri dari jenderal Geem. Bagaimana bisa dia memiliki kemampuan hebat seperti itu? kemampuannya luar biasa, bahkan tidak bisa di bandingkan dengan ratusan prajurit Hanjang.
Langkah kaki yang berjalan membuat wakil Cheon berbalik, dia menatap kaptennya sedang berjalan menuju ke tempatnya berdiri
"Wakil Cheon, aku sudah melihat prajurit yang hebat itu, dia sangat hebat. Kita dapat dengan mudah mengalahkan musuh karena prajurit bertopeng itu. Aku terus mencari-carinya, tetapi aku sama sekali tidak menemukannya, sekarang dia muncul lagi, cari dia sekarang wakil Cheon. Aku ingin tahu siapa prajurit bertopeng itu."
"A-aku tidak yakin kapten." Ucap Wakil Cheon ingin menyembunyikan kebohongannya.
"Apa maksudmu? Kau ingin bilang bahwa prajurit bertopeng itu bukan orang yang sama dengan prajurit yang berada di medan pertempuran pada peperangan di benteng? Aku sangat yakin dia orang yang sama, wakil Cheon. Apa kau meragukanku? Aku bisa melihat gerakannya yang hebat dan sangat cepat, permainan pedang serta ketika dia memanah, aku sangat yakin dia orang yang sama, cari dan bawa dia ke hadapanku."
Wakil Cheon terlihat ragu, dia mengepalkan tangannya kuat-kuat dan menunduk. "Baik kapten, saya akan segera mencarinya." Wakil Cheon pergi dan berpura-pura memeriksa seluruh prajurit dan menyuruh mereka membuka seluruh pelindung besi di kepalanya.
Apa yang harus aku katakan? Aku tidak begitu pandai berbohong. Bagaimana jika jendral yang bertanya padaku, apakah aku akan bilang bahwa putrinyalah yang melakukan semua ini?
Dia terus berpura-pura mencarinya, karena kaptennya masih berdiri di sana sambil berbicara dengan jendral Geem. Mereka berbicara serius, membuat jantung wakil Cheon berdetak kencang.
"Jenderal, sudah lama aku ingin mengatakan mengenai hal ini, apa jenderal menyadari kehebatan seorang prajurit ketika kita berperang? Selama ini aku terus mencari-carinya, kemenangan di medan pertempuran pun juga karenanya. Apakah Jenderal mengetahuinya?" Jenderal terlihat berpikir sebelum menjawab pertanyaannya.
"Selama ini aku mencurigai sesuatu, mengenai luka yang sama di setiap prajurit musuh. Aku berpikir bahwa dialah yang melakukannya, juga kekalahan musuh dengan pasukan besar dan kemenangan kita dengan jumlah prajurit kita yang terbatas merupakan kemenangan sangat luar biasa, kehebatan prajurit itu bukan main-main, tetpi siapa dia, apa kau sudah berusaha mencarinya?" Ucap sang jenderal.
"Saya masih berusaha Jenderal. Semua prajurit telah kami periksa, baik yang berada di pertempuran dan di barak utam serta benteng Gamyoung, tetapi sayangnya saya masih belum menemukannya." Ucap sang kapten.
Jenderal menatapnya. "Cari terus aku yakin dia berada di antara kita. Dia tidak akan pergi jauh. Kau pasti telah melihat wajahnya."
"Tidak jenderal, dia mengenakan topeng berwarna hitam, kami telah mencarinya kemana-mana. Wakil Cheon sudah aku perintahkan memeriksa seluruh prajurit." Ucapnya.
"Kita kembali ke benteng, kumpulkan seluruh pasukan dan bawa prajurit yang terluka ke benteng Gamyoung aku sendiri yang akan memeriksa mereka semua."
"Baik Jenderal."
__ADS_1
Kemenangan itu tentu saja membuat seluruh pasukan bersorak, tetapi wajah gembira dengan kemenangan hari ini tidak terlihat di wajah Jenderal, hal ini membuat pangeran mahkota penasaran. Setibanya di benteng. Seluruh pasukan yang terluka akan di rawat.
Jenderal Geem menyuruh kapten untuk mengumpulkan seluruh prajurit di depan benteng.
"Apa yang terjadi Jenderal. Mengapa anda mengumpulkan seluruh pasukan?" Ucap pangeran.
Jenderal sedikit menunduk. "Maafkan saya pangeran, ada sesuatu yang ingin saya periksa kepada seluruh pasukan." Ucapnya.
"Aku tahu apa yang anda cari jenderal. Jika anda mencari prajurit itu, dia tidak ada di sini, diantara prajurit. Karena aku melihatnya sendiri, setelah peperangan dimenangkan, mereka masuk ke dalam hutan dan menghilang." Ucap sang pangeran.
****
Mereka semua melompat dengan cepat menghindar dari perhatian orang-orang yang menyadari keberadaan mereka. Kelima Akai telah berada di atas bebatuan di tepi sungai. Renzai pun berada di sana.
Langit cerah seketika di gantikan dengan langit yang berubah mendung dan mulai menggelap, petir seakan menyambar keras, sama halnya ketika mereka berada di dekat sungai Kyusu. Mata mengerikan itu masih menghitam, dia melepaskan topengnya dan menatap kelima Akai yang menunduk di hadapannya.
Mereka berdiri di hadapan Renzai. "Jenderal, selamat datang kembali, kami sudah menunggu puluhan tahun akan kebangkitan anda." Ucap kelima Akai.
Suara kekehan terdengar dari bibirnya. Langit gelap seakan menyambut pula Jenderal kimi ga yang telah hadir kembali ke hadapan kelima Akai.
Belum waktunya memberikan aku selamat. Sebelum Hanjang jatuh ke tanganku, serta kematian pangeran yamagashi di bawah kakiku.
Mata itu kembali normal, dia berdiri di sana dengan tubuh kaku, dengan kening berkeringat, Renzai tentu saja menyadarinya. Dia tahu apa yang terjadi dan mendengar dirinya berbicara dengan bahasa Ochtosk. Dia menatap kelima Akai yang masih berdiri di sana.
"Kalian mendengarnya bukan? Lakukan sesuatu agar segel ini dapat terbuka." Ucapnya.
"Kalian bersembunyi. Jangan muncul di hadapan Jenderal Geem, dia sepertinya telah curiga." Setelah mengatakan itu, Renzai lalu pergi.
Mereka semua menghembuskan napas. "Aku tidak mengerti. Membuka segel dan tidak membuka segel sepertinya tidak ada bedanya sama sekali. Mereka berdua sama-sama jahat. Aku tidak mau Jenderal berubah menjadi buih lagi." Ucap Hatachi sambil menunduk sedih.
"Hati-hati dengan lidahmu Hatachi." Tegur Rui.
"Selama ini kita hidup berdampingan dengan orang-orang Hanjang mustahil sifat kita sedikit demi sedikit tidak berubah. Kejadian yang telah lalu akan kembali berputar." Ucap Tutsima.
"Apa yang di rencanakan Jenderal. Mustahil menguasai Hanjang dengan hanya kita berlima saja. Apa yang akan di lakukannya." Ucap Otaru.
"Entahlah, sebaiknya kita segera pergi dari sini dan mencari tempat aman." Ucap Matsue.
__ADS_1
***
Renzai melompat dari satu pohon ke pohon lainnya, dia berlari begitu kencang hingga akhirnya tiba di barak utama. Matanya membelalak ketika melihat apa yang terjadi di sana, musuh kembali menguasai barak utama, mereka menghabisi para prajurit yang berjaga, di sana hanya tertinggal tabib Jang dan empat perawat serta salah satu tabib lainnya. Prajurit itu sekitar seratus orangz rupanya tujuan utama mereka yaitu menguasai barak utama selagi menunggu pasukan yang lainnya menyusul.
Tawa mengerikan terlihat dari wajah mereka, sementara tabib Jang telah terluka tubuhnya di penuhi darah.
"Kita akan berpesta malam ini, selagi mereka merayakan kemenangan mereka, kita pun sebentar lagi akan merayakan kemenangan kita. Pasukan tambahan akan segera datang." Ucapnya. Salah seorang prajurit menarik tangan perawat, dia hendak melakukan perbuatan kejinya. Tabib Jang berusaha menolongnya tetapi tubuhnya telah di penuhi darah, dia tidak sanggup lagi bergerak. Kecepatan panah itu menembus tepat di jantungnya.
Mereka semua berbalik, Renzai datang dari arah belakang, dengan senyum mengerikan dia kembali menyerang prajurit-prajurit itu.
"Saatnya berpesta."
Renzai dengan cepat berlari di antara kerumunan musuh seorang diri, dia membabat habis mereka dengan cepat di depan mereka semua. Seluruh prajurit itu menghadapi Renzai seorang diri.
Pedang Tetsuya saatnya menikmati santapanmu, mereka akan menjadi santapanku.
Dengan mudahnya bergerak melawan mereka semua, matanya yang hitam mengerikan kembali, tubuhnya dengan tangkas dapat menjatuhkan seluruh musuh hingga tidak lagi bersisa. Tinggal beberapa prajurit yang berada di belakang Renzai, dengan lompatan cepatnya, seluruh musuh habis di tangan Renzai.
Dia berdiri disana, memegang pedang Tetsuya kebanggaannya. Warna hitam pada matanya kembali jernih seperti semula. Tubuh-tubuh itu mengelilingi Renzai. Seluruh saksi yang menyaksikan Renzai menatap terkejut padanya. Matanya melirik ketika salah seorang berjalan di antara mereka. Renzai memanahnya.
Senyuman terpancar di wajahnya. "N-nona Renzai, apa yang anda lakukan? Mengapa anda menyerangnya?" Ucap Tabib Jang menatap seorang perawat yang memegang lengannya yang terpanah dia mengerang kesakitan.
"Aku tidak bisa membiarkan kalian hidup, apa yang harus aku lakukan?" Ucap Renzai sambil tersenyum. Tiba-tiba saja dari arah belakang seseorang berlari ke tempat mereka, dia lalu menunduk di depan Renzai.
"T-tutup mulut, kami berjanji akan tutup mulut. Kami tidak akan membicarakan hal ini, j-jika ada yang mengatakannya, anda bisa membunuh kami semua." Ucap Wakli Cheon yang kembali lebih awal dari benteng.
"Aku memegang kata-katamu, Wakil Cheon. Berikan kabar ke benteng, pasukan musuh akan menyerang barak utama." Ucap Renzai.
"Baik, saya akan segera pergi." Ucap Wqkil Cheon.
Matanya bersinar menatap mereka satu persatu. Renzai berbalik dan berjalan masuk ke dalam tendanya seakan tidak ada sesuatu yang genting telah terjadi.
***
Kedatangan Wakil Cheon membuat Pangeran dan Jenderal yang berada di atas benteng terkejut dengan berita yang di dengarnya, dia kembali memerintahkan setengah pasukan untuk menuju ke barak utama. Jenderal sangat khawatir dengan Renzai.
Kuda itu melaju kencang menembus angin dingin di sore itu, Jenderal Geem memacukan kudanya lebih kencang agar mereka tiba di barak utama.
__ADS_1
Kelima Akai sejak tadi berada di sana ketika Renzai bertarung dengan pasukan musuh, akan tetapi ketika Rui dan Hatachi hendak bergerak, Renzai memanah ke arah pohon, dia memberikan peringatan agar mereka tidak keluar dari persembunyiannya.
"Jangan bertindak gegabah. Kita tidak boleh terlihat oleh mereka, apalagi tabib itu, sebaiknya kita tunggu perintah selanjutnya." Ucap Otaru.