
Malam itu udara sangat dingin. Api di pembakaran pun tidak menyala lagi, menyisakan abu yang mengeluarkan sedikit asap. Renzai terbangun malam itu, matanya berubah menjadi hitam legam seluruhnya. Dia lalu keluar tenda dan melompat dari satu pohon ke pohon lainnya. Kilatan bayangan hitam beterbangan mengikuti Renzai yang pergi entah kemana. Dia lalu berdiri di tempat peperangan terjadi.
"Keluarlah !" Perintahnya.
Kelima Akai pun keluar dari persembunyiannya, terlihat wajah kelima para Akai keheranan. Pancaran mata Renzai sama seperti jenderal mereka di masa yang lalu. Kengerian dari seringai di wajahnya membuat Otaru dan Rui saling memandang. Mereka semua tahu kebangkitan jenderal Kimi ga sebentar lagi tiba, maka tidak akan ada lagi kebaikan di hatinya. Renzai hanya tinggal sebuah nama, karena Pemilik tubuh sebenarnya telah menyatu dengan Renzai.
Dia membuka topeng besinya, dia lalu menghirup udara malam di tengah-tengah medan pertempuran yang pernah berlangsung.
Akai, kalian hidup sampai sekarang karena kalian setia kepadaku bukan? Bahkan di masa lalu pun kalian akan terus setia kepadaku.
"Kami akan setia selamanya, Jenderal." Kelimanya menjawab dengan serentak. Hatachi menelan ludahnya kasar, entah mengapa akhir-akhir ini menghadapi langsung jenderal Kimi Ga di masa lalu lebih mengerikan di bandingkan Lee Renzai. Mungkin hatinya telah terpengaruh akan kebaikan orang-orang di Hanjang. Keinginan melenyapkan orang-orang perlahan sedikit memudar.
Jika peperangan berlangsung, kalian akan membunuh Jenderal Geem, beserta panglima dan kapten lainnya, sedangkan pangeran akan menjadi tugasku untuk melenyapkannya. Maka era Ochtosk akan kembali berjaya. Hanya tinggal menunggu waktu saja untuk menggulingkan Raja Hanjang itu.
Mereka serentak saling bertatapan. Kengerian ucapan jenderalnya membuat mereka menjawab dengan ragu. Renzai berbalik. Mata hitamnya menatap kepada kelima Akai.
Apa kalian tidak akan melaksanakan perintahku?
"Kami akan melaksanakannya, Jenderal."
Jangan lagi ada kesalahan, kalian mengerti?
"Baik Jenderal."
Renzai kemudian mengenakan kembali topengnya dan melompat meninggalkan kelima Akai. Dia kembali ke tendanya dan kembali membaringkan tubuhnya.
***
__ADS_1
Hatachi terduduk, lututnya bergetar ketakutan. "Apa yang akan kita lakukan?" Ucap Hatachi.
"Kesetiaan kita kepada Jenderal tidak perlu di ragukan. Tetapi, ada saat kita harus menolong Jenderal, menghentikan kekejamannya membunuh. Ucap Matsue.
"Kita akan terus melaksanakan perintah Jenderal sebagai seorang Akai. Tetapi sebagai teman di masa lalu. Kita akan menolongnya dari kekejamannya dirinya sendiri yang suatu hari akan membuatnya hancur, atau merubahnya menjadi buih kembali. Saat itu tiba, saat Jenderal tidak bisa lagi di selamatkan, saat itu aku lebih memilih jenderal kembali menjadi buih dan menunggu beratus-ratus tahun membeku agar dapat merubah Jenderal Kimi Ga menjadi lebih baik." Ucap Rui.
"Tsk. Apa kau tahu bagaimana cara membuatnya berubah? Dia akan tetap sama," ucap Hatachi.
"Kita hanya perlu menghancurkan pedang hitam Tetsu jenderal. Pedang itu sumber malapetaka bagi Jenderal Kimi ga."
"Sebaiknya kita pergi, sebentar lagi fajar," Mereka melompat satu persatu dengan gesit dengan kecepatan luar biasa.
Seseorang berdiri di belakang pohon. Pria berbaju hijau itu terlihat gemetar ketakutan, dia menyaksikan dan mendengarkan semua pembicaraan mereka. Rencana pembunuhan Jenderal Geem, pangeran, seluruh kapten dan panglima bahkan mereka berencana menyerang kerajaan Hanjang. Kasim itu berjalan menuju ke barak utama. Jaraknya cukup jauh dari tenda sehingga napasnya yang cepat terdengar memburu-buru.
Renzai berdiri di hadapannya dengan mengenakan topengnya, sampai saat ini, matanya tidak juga kembali normal, kembali menghitam, terlihat mengerikan.
Kasim Cha terkejut ketika seseorang muncul dan menghalangi jalannya. "K-kau, rencanamu akan sampai ke telinga pangeran ...." Tebasan tajam mengarah langsung ke tubuh pria itu, dia jatuh begitu saja di tanah yang dingin. Senyuman terlihat di wajahnya, dia mengangkat jari telunjuk ke bibirnya. "Tenang dan pergilah." Renzai meninggalkan tubuh tidak berdaya itu di tanah yang dingin, dia kini kembali ke barak utama.
***
Langkah prajurit yang berlari-lari membuat semua orang dari dalam tenda keluar, begitupun jenderal Geem dan pangeran serta kapten dan panglima.
"Ada apa? Informasi apa yang kau dapatkan dari pihak musuh." Ucap Jenderal Geem.
"B-bukan itu Jenderal. K-kami menemukan tubuh Kasim Cha di padang rumput di dekat medan peperangan." Ucap prajurit itu.
Mereka semua menuju ke tempat tubuh kasim Cha yang tergeletak tidak bernyawa, mereka tiba di sana. Tubuh pria itu telah terbujur kaku, Jari-jarinya melebar tidak mengepal, akan tetapi kaku, pangeran berjalan pelan, dia terlihat sangat shock, kasim Cha adalah orang kepercayaannya di istana sejak dia masih kecil hingga dia dewasa.
__ADS_1
Matanya terarah pada ukiran di tanah, yang ditulisnya sebelum dia wafat. Tulisan di tanah itu menunjukkan seseorang, 'dia' hanya kata itu yang di tuliskan kasim Cha sebelum dia wafat, tidak ada petunjuk lain atau bukti lainnya.
"Dia? Apa maksud tulisan kasim Cha?" Ucap Jenderal Geem.
Tabib jang bertanya kepada prajurit yang pertama kali melihat kasim Cha tergeletak di tanah. "Apa kalian menyentuh tubuh kasim Cha, atau memang seperti ini posisinya." Tanyanya.
"Kami tidak menyentuhnya, tabib Jang. Ketika kami tiba, tubuhnya memang terlihat seperti ini," ucap prajurit itu dengan wajah menunduk karena pancaran mata pangeran seakan ingin membunuh sekarang juga.
Tabib Jang memiliki pemikiran sendiri, mengenai kata misteri yang di tuliskannya, tiba-tiba dia menatap kelima jemari Kasim Cha, ketiga lainnya sedikit tertekuk hanya dua jari telunjuk dan tengah yang mengarah pada sesuatu.
Tabib jang menunduk sedikit, dia berada di atas kepala kasim Cha, tangannya mengarah pada sesuatu.
Tangan itu menuju satu titik, Ah di depannya ada sebuah bunga yang indah dan cantik. Bunga yang indah? Hm bunga indah menunjukkan bahwa yang dia maksudkan adalah seorang wanita.
Tabib jang sekali lagi mengelilingi mayat tabib Cha, dan mengikuti jari tengahnya, dia menunjukkan lurus langsung ke Barak utama, pandangan mata Tabib Jang mengarah pada salah satu tenda besar sangat pas dengan jari tengahnya.
Tenda itu milik jenderal Geem, tetapi kenapa dia mengarahkan kepada jenderal Geem, itu tidak mungkin karena dia tidak akan ....
Tubuh tabib Jang menjadi kaku, dia terpaku, jawabannya tepat di depan matanya.
Lee Renzai, gadis itu yang melakukannya, kata 'dia' dari tulisan tangan kasim Cha menunjukkan 'dia' seorang perempuan.
Tabib Jang berdiri, matanya mengarah pada sosok yang berdiri tidak jauh dari bibir tenda. Dia sedang berbincang dengan wakil Cheon dengan wajah yang serius.
Aku tidak memiliki bukti apapun, kesimpulanku hanya berdasarkan hasil analisaku sendiri. Tetapi aku yakin dialah pelakunya, aku akan membicarakan hal ini dengan Pangeran mahkota. Bagaimanapun aku akan memberitahunya.
Tabib Jang berjalan mendekati Pangeran, wajahnya terlihat shock. Dia terduduk menatap kasim Cha dengan mulut bergumam.
__ADS_1
"Maafkan aku, hanya itu yang bisa akau katakan." Gumamnya.
Tabib Jang yang mendengarnya sedikit terkejut dengan ucapan pangeran. Mengapa dia yang meminta maaf? Pikir tabib Jang.