
Kediaman Jenderal Lee Gem Ling
"Renzai, Paman, mereka memukulku di sini dan di sini." Ucap gun wu sambil memegang lengan dan bahunya yang membiru. Gun wu mengadukan kepada mereka kesakitan yang di terimanya selama dirinya di bawa ke penjara di istana.
Setelah mendengarkan keluhan Gun Wu, Renzai keluar ke taman, dia kemudian berdiri di sana sambil menatap kedua tangannya, ingatannya kembali ketika ia membunuh dan menebas dengan lihainya prajurit-prajurit itu dengan mudahnya.
Malam sebelum dia merencanakan penyerangan itu, Renzai kembali di bawa kedalam memorinya yang paling dalam, ingatan itu terasa melekat di kepalanya, pasukan hitam disertai dengan kuda hitamnya, memegang pedang dengan mata merah menyala, membabi buta menjatuhkan musuh-musuhnya dalam peperangan.
Renzai menutup kedua matanya, lalu menghirup udara dalam-dalam, kilasan di kepalanya kembali terlihat.
Sebuah bangunan yang dikenalinya, dia menerawang di dalam sudut sebuah ruangan besar. 'Itu dia.' ditengah-tengah ruangan besar itu berdiri pedang hitam yang tertutup kaca dan dirantai oleh besi berwarna hitam, di setiap sudutnya, di beri mantra berwarna merah, dengan gambar matahari merah.
Renzai kemudian membuka matanya, senyum merekah di wajahnya,
•••
Istana Kerajaan
Hari ini istana sangatlah sibuk, ketika mereka pulang membawa putri dalam keadaan pingsan akibat serangan tempo hari lalu, sehingga putri sakit, begitupun putri mahkota.
Paduka yang mulia sangatlah murka, dia memerintahkan menangkap orang-orang yang telah menyerang putri kerajaan, di kota yang damai ini, tidak pernah ada penyerangan langsung kepada Anggota keluarga kerajaan. Sehingga Paduka yang mulia memberikan tugas kepada panglimanya untuk menyelidiki
kasus penyerangan sang Putri.
"Siapa ! siapa yang telah menyerang putriku !! setelah putri kembali bersama putri mahkota, hanya beberapa prajurit saja yang kembali, bahkan pelindung putri terluka parah." bentak paduka yang mulia, dia memandangi semua menteri mereka yang berkumpul.
"Yang mulia, sebaiknya anda tenang dulu, bisa saja ini adalah salah satu siasat dari kerajaan Beok He untuk mengadu domba rakyat kita, jangan sampai kita salah menuduh orang, yang mulia." ucap salah satu menteri kanan tersebut.
"Bagaimana bisa?? bagaimana bisa tidak ada bukti apapun, Orang gila mana yang dapat membunuh puluhan prajurit seorang diri saja?" ucapnya.
"Ya, yang mulia, menurut salah satu prajurit yang bersaksi bahwa, seorang berpakaian hitam menyerang puluhan prajurit seorang diri, tanpa bantuan siapapun." Ucap panglima.
"Tetapi itu mustahil, bagaimana mungkin seorang saja dapat mengatasi dua puluh prajurit yang melindungi kedua putri, apalagi saat itu mereka di serang dengan asap yang cukup tebal, sehingga mereka tidak melihat dengan jelas." Ucap Tutsima.
"Jenderal Geem." Teriak sang raja, "Apakah ini penyerangan kerajaan Beok He? Apakah mereka sengaja mengincar putri dan menakutinya?" ucap sang raja.
__ADS_1
"Maaf paduka yang mulia, menurutku itu tidaklah mungkin, menurut salah satu prajurit Sebelum dia tewas, dia mengatakan bahwa penyerang itu hanyalah seorang diri, tidak ada orang lain yang bersamanya." Ucap Jenderal Geem.
Tutsima melirik khawatir, kini, dia tidak bisa bicara banyak, dia mencoba menutupi jenderalnya dari sorotan orang-orang yang akan mencarinya.
"Kau harus menangkapnya, bawa dia kehadapanku, akan kupastikan dia mati di tanganku." ucapnya geram.
"Baik yang mulia."
Otaru dan tutsima sontak kaget mendengar titah sang raja.
"Jangan bicara di sini Otaru, kita kembali dulu ke penginapan, tetap tenang, kali ini apapun yang terjadi, kita harus melindungi jenderal." bisik tutsima.
~
Sore itu, matahari sedang menyinari kota Juseon dengan cahaya emasnya, terlihat Jenderal Geem sedang berdiri dan memandang kolam ikan di kediamannya, dia kembali berpikir mengenai penyerangan kedua putri.
"Adakah orang seperti itu? yang mampu menghilangkan nyawa puluhan prajurit dengan kekuatannya sendiri." gumamnya. Dia kemudian menghembuskan napasnya.
"Orang seperti itu memang ada, tetapi itu sudah terjadi berpuluh-puluh tahun yang lalu, dan hal itu tidaklah mungkin.
"Jenderal Kimi Ga dari kerajaan Ochtosk."
Renzai berdiri di sana di ambang pintu mendengarkan ucapan ayahnya, dia kemudian mengulang kembali apa yang tadi di dengarnya.
"Jenderal Kimi Ga dari kerajaan Ochtosk." bisiknya.
•••
Malam semakin larut, para penjaga istana tetap berdiri di posisinya sambil terkantuk-kantuk. Sekelebat bayangan hitam melompat dari bangunan satu ke bangunan yang lainnya.
Dia memakai topeng hitam, dia sepertinya sedang mencari sesuatu di istana ini, dan yang dicarinya ada di museum kerajaan yang tersegel, hanya keluarga kerajaan yang diperbolehkan masuk ke dalam museum kerajaan.
(Dalam bahasa Kerajaan Ochtosk)
"Milikku, pedang itu milikku."
__ADS_1
Kini, dia telah masuk ke dalam museum, dia membuka topeng yang menutupi wajahnya, dia menatap benda itu dengan kagum, seakan sinar matahari menerangi indahnya dunianya, Ia tersenyum, ia kemudian membuka kaca yang menutupi pedang yang menjulang di depannya.
Pedang hitam legam dengan gagang berwarna merah darah, serta gambar matahari merah di tengah-tengahnya. Di pegangnya gagang pedang itu, lalu dibukanya penutup kain berwarna hitam, tampaklah cahaya yang terpantulkan, begitu tajam, pedang inilah yang mengambil ribuan nyawa pada Era kerajaan Ochtosk.
Kegelapan hitam menutupi kedua matanya, lalu dia kemudian berbalik dan menatap sosok mereka dalam bayangan, Ada lima Akai yang telah merasakan kehadirannya di malam berkabut itu di luar sana, mereka merasakan bahwa pemilik pedang telah kembali kepada tuan sesungguhnya.
Renzai menatap pedang hitam di tangannya, seakan sesuatu telah terbangun di dalam gelapnya jiwanya, ketika dia telah bersatu dengan pedangnya, Renzai menyadari itu semua ketika Kang Gun Wu di tangkap, kemarahannya di luar batas normal sehingga sang jenderal pun terbangun dari tidur panjangnya, sehingga sedikit demi sedikit Renzai menyadari dari mana dia berasal.
~
Kelima Akai segera pergi malam itu dari penginapan mereka, ketika mereka merasakan tubuh mereka bergetar dan merasakan angin hitam telah berhembus dengan sangat dingin, hal itu bertanda jenderal mereka telah datang, dengan kecepatan tidak terduga seperti panah yang melesat dari busurnya, mereka berlima segera datang ingin menemui jenderal mereka.
"Cepat, kita tidak boleh terlambat, ." Teriak Rui.
Sesampainya di museum istana, Jenderal mereka telah menghilang, begitupun pedangnya.
"Kita terlambat." Ucap Matsue.
"Sial." umpat Hatachi.
Otaru tertunduk, "Apakah jenderal akan mengingat kita, ketika pedangnya sudah berada di tangannya?" ucapnya.
~
"Entah mengapa dia selalu sendiri, setelah terbit matahari, Nona Lee Renzai seperti membawa sesuatu, lalu keluar pagi-pagi sekali." Ucap bibi Choi kepada ayah dan ibu Renzai.
"Kemana anak itu pergi sepagi ini?" ucap jenderal Geem.
Ayahnya membuka dan melihat kamar Renzai yang rapi, tidak ada sesuatu apapun yang membuat jenderal Geem mencurigai anaknya sendiri, dia masuk dan melihat-lihat setiap sudut kamar putrinya, sama sekali tidak ada yang mencurigakan, kamar Renzai layaknya seperti kamar seorang anak perempuan yang rapi dan bersih.
Kemudian mata jenderal Geem tertarik pada buku-buku yang tersusun rapi di raknya, dia mengambil salah satunya.
"Hem, cara menyulam praktis dan cepat." Ucapnya. Sontak ayah Renzai tersenyum, dia berhasil dikelabui oleh Renzai. Sebelum dia keluar dari kamar putrinya, dia melihat sesuatu yang terhimpit diantara buku-buku itu, Jenderal mengambilnya dan membaca sampulnya.
"keberadaan Kerajaan Ochtosk?" bisiknya, dia begitu terkejut, dia mengambil buku itu dan keluar dari kamar putrinya.
__ADS_1