Bloody General Sword

Bloody General Sword
Eps 49


__ADS_3

Malam kian larut, jejak kaki di padang rumput membuat seorang pria yang berdiri di sana terlihat rapuh, dia telah menerima takdirnya, jika itu akan membawa kebaikan terhadap jenderalnya maka dia rela berkhianat.


Angin malam serta mendung tiba-tiba datang menutupi bulan purnama. Cahaya itu sedikit demi sedikit padam, jejak tapak kaki semakin mendekat kepadanya. Rui berbalik dan menyaksikan Jenderalnya sedang berdiri di hadapannya, kedua bola matanya telah berubah hitam legam mengerikan.


"Kau di sini Rui Akai," ucap sang jenderal.


"Ya jenderal."


Wajah pucat Rui tidak membuat Jenderal Kimi ga memiliki rasa belas kasihan kepadanya. Dia lalu terkekeh.


"Angin berhembus itu memberitahukanku, jika salah satu Akai telah berkhianat kepadaku, jadi kaukah itu Rui Akai?" tanyanya.


"Saya siap menerima hukuman, Jenderal." Dia menunduk dan berlutut di hadapannya.


"Kau tahu persis bagaimana hukuman seorang pengkhianat, bukan? Aku tidak perlu mendengar alasan sentimentilmu itu. Apa kau punya kata-kata terakhir? Karena pedangku tidak bisa menunggu lebih lama lagi." Wajah mengerikan dengan mata hitam menatap sosok berlutut yang tersenyum pasrah menatap Jenderalnya dengan tatapan sayang dan rasa kasihan.


"Kimi ga. Aku berharap di kehidupanmu berikutnya kau akan berubah, hidup bahagia dan...."


Tebasan pedang terdengar merobek mengerikan tepat di depan tubuh Rui Akai. Darah merah pekat dan kental melumuri pedang jenderal, darah berceceran memenuhi hamparan padang rumput, begitupun darah yang keluar dari mulut Rui Akai. Dia mengangkat tangannya, menatap Jenderalnya dengan posisi berlutut, dia menatapnya untuk terakhir kalinya.


"Aku...aku adalah Rui, teman kecilmu, tidakkah kau mengingatnya?" Itu adalah kata-kata terakhir darinya, tubuh itu menunduk sambil memegang pedangnya.


Jenderal Kimi ga hanya menatapnya sebentar, dia kemudian pergi meninggalkan salah satu prajurit setianya yang tewas di tangannya sendiri.


***


Keempat Akai melompat dan mengelilingi tubuh tak bernyawa itu, keempat Akai bersedih dengan kematiannya. Hatachi menangis sedih ketika melihat Rui tidak bernyawa lagi.


Otaru berlutut, dia memegang Rui. Wajahnya memperlihatkan ekspresi terkejut.


"Dia masih hidup," ucapnya.


Hatachi mendekat dan memegangnya, dengan tangkas dia menarik pedangnya dan melepaskan gagangnya sendiri.


"Hatachi apa yang akan kau lakukan?" tanya Otaru.


"Masih belum terlambat, dia harus tertidur kembali menjadi bongkahan batu, masih belum terlambat," ujarnya dengan suara bergetar dan napas memburu.


"Tapi itu tidak mungkin, bukankah kita telah menelan batu terakhir yang mengubah kita menjadi bongkahan batu?" ucap Tutsima.


"Aku juga baru mengetahui hal ini. Aku membacanya dari buku kerajaan Ochtosk. Jika kau sudah menelan obat yang akan merubahmu menjadi batu, maka kau hanya perlu meminumkan ini dan kau akan kembali menjadi bongkahan es."


Hatachi bergegas meminumkan air aneh yang diambilnya dari dalam tas bututnya.


Tegukan pertama membuat langit menggelap seketika, tegukan kedua angin berhembus sangat kencang. Hatachi memberikan Rui tegukan ketiga, perlahan-lahan tubuhnya mengeras dan berubah menjadi bongkahan batu yang dingin dan terlihat terpahat sempurna. Rui kembali menjadi sebuah bongkahan batu dengan posisi berlutut.


"Minuman apa itu, Hatachi?" tanya Otaru.


"Air sungai Kyusu, aku membawanya untuk berjaga-jaga jika hal seperti ini terjadi kelak."


"Sekarang bantu aku menyembunyikan Rui, sebelum jenderal mengetahuinya," ucap Hatachi. Mereka berempat membawa Rui di tepian sungai, keempatnya menyembunyikan bongkahan batu Rui bergabung dengan batu sungai lainnya.

__ADS_1


"Tunggulah Rui, kau akan bersama kami lagi di kehidupan kita selanjutnya," ucap Hatachi menatap sedih wajah Rui yang telah berubah menjadi batu.


***


Barak utama telah sepenuhnya kosong, hari ini jenderal dan sebagian orang akan kembali ke Hanjang.


Wajah jenderal Geem pucat, sejak semalam dia tidak bisa tidur karena memikirkan tentang Renzai dan tentang rencana pangeran yang hendak membunuh putrinya. Apakah dia akan membiarkannya? Dia tahu, bahwa Renzai tidak boleh memasuki kerajaan Hanjang, maka satu-satunya rencana yang ada di kepalanya adalah mengikuti rencana pangeran sebelum Jenderal Kimi ga menguasai penuh tubuh putrinya.


Semua orang terheran-heran ketika Pangeran merubah haluan, mereka akan melewati desa yang terkenal itu yaitu desa Gem dan sungai yang terkenal mengerikan, yaitu sungai Kyusu.


"Kita akan sedikit beristirahat, sesampainya di desa Gem," ucap pangeran. Saat itu, jenderal Gem memerintahkan kepada prajurit untuk membawa sebagian orang-orang pergi dari desa Geem, hanya segelintir orang saja yang ada di sana.


Mereka kini hanya tinggal berlima, wajah jenderal Gem tampak pucat seputih kertas. Mereka berdiri di dekat sungai Kyusu, tiba-tiba saja angin kembali kencang, langit mulai menggelap menutupi cuaca cerah di langit, rintik hujan mulai turun. Tawa mengerikan itu terdengar dari arah belakang di atas bebatuan sungai, mereka semua menatapnya.


Keempat Akai pun turut berada di samping kiri dan kanan Jenderalnya.


"Kalian semua akan menjadi koleksiku yang berharga," ucapnya kepada mereka. Sebelum dia menyerang, para Akai telah mengelilingi jenderalnya, mereka mengelilinginya lalu hendak menyerang balik.


KALIAN SEMUA PENGKHIANAT."


Suara teriakan besar yang berasal dari kegelapan terdengar mengerikan, keempat Akai mencoba melumpuhkan jenderal Kimi Ga dengan kekuatannya. Sementara itu jenderal Gem menatap putrinya dengan air matanya, dia tidak bisa melihat mata mengerikan itu terpancar dari wajah putrinya, sabetan pedang mengenai mereka satu persatu, para Akai tumbang dengan mudahnya, kekuatan pedangnya tidak sanggup melawan kekuatan jenderal mereka yang hebat, darah memenuhi tubuh mereka dengan mengerikan.


Kalian pengkhianat, sebaiknya mati di tanganku.


Jenderal Kimi ga hendak menusukkan pedangnya kepada Otaru yang sudah terluka, tetapi dari arah belakang, pangeran Yamagashi menyerang Renzai hingga lengannya terluka.


"Ini bukanlah eramu lagi jenderal Kimi Ga, era kita telah tiada, kau dan aku tidak bisa hidup di zaman ini lagi," ucap pangeran Yamagashi.


Suara dentang pedang berbunyi membahana diderasnya air sungai yang mengalir. Tabib Jang dan Wakil Cheon hanya menatap pertempuran itu tanpa bisa berbuat apa-apa, mereka hanyalah saksi bisu kebangkitan jenderal Ochtosk yang terkenal.


Kegilaan permainan pedang Jenderal Kimi ga tidak ada yang menandinginya, dengan sekali ayunan pedang, pedang pangeran pun jatuh, kini dia tersudut, sebentar lagi nyawanya akan berakhir di tangan Jenderal Kimi ga. Tangan itu terangkat hendak menebas, akan tetapi tanpa ada yang menduganya, jenderal Gem berlari ke arah belakangnya lalu menusukkan pedang kepada putrinya sendiri.


"KIMI GAAA!"


Dia berteriak sekencang-kencangnya sambil menangis sedih, pedang itu kini menancap di punggung putrinya.


Darah mengalir dari balik punggungnya berjatuhan di atas bebatuan sungai Kyusu. Kejadian ini terulang kembali, di zaman dahulu, ketika Gem dikejar prajurit Ochtosk. Seorang wanita menolongnya hingga dia memberikannya air sungai Kyusu dan merubahnya menjadi buih dan mengalir bersama air yang mengalir jernih. Kini, kejadian itu kembali terulang.


Renzai berlutut dengan pedang menembus dari belakang punggungnya hingga ke depan tubuhnya.


Sambil menangis dan berlari menghampiri putrinya, Jenderal Gem membaringkan putrinya di atas bebatuan, darah mengucur dari mulutnya.


"Renzai ... Renzai. Renzai maafkan Ayah." Tangis Jenderal Gem terlihat membuat dirinya menderita.


Mata itu masih hitam dan terkekeh di saat-saat terakhirnya.


"Kau. Kau anak kecil yang dulu kuselamatkan itu, ironi sekali. Kini kau yang kembali membuatku terluka seperti ini, hehehe."


Dia terbatuk-batuk, mata hitamnya perlahan berubah menjadi putih. Dia kembali lepas dari belenggu Jenderal Kimi ga. Sang ayah menatap ke segala arah meminta bantuan kepada siapa saja untuk menolong putrinya.


"Tolong ... tolong putriku, bertahanlah Renzai, ayah akan menolongmu. Bertahanlah! Pangeran, kumohon pangeran. Tolong putriku, tolong dia," ucap sang ayah dengan putus asa.

__ADS_1


Pangeran Yamagashi menggelengkan kepalanya.


"Renzai tidak bisa di selamatkan lagi jenderal, akan tetapi ada satu hal yang bisa menolongnya," ujarnya sambil memandang ke arah sungai.


"A-apa itu pangeran?" Sebelum pangeran Yamagashi menjawab Jenderal mengetahui maksudnya. Dengan perlahan dia meletakkan kepala putrinya di atas bebatuan, dia lalu turun ke sungai Kyusu dan mengambil air di dalam sebuah wadah.


Gemuruh angin sangat kencang seakan mengguncang desa Gem, petir menyambar pepohonan di dalam hutan, siang itu terlihat lebih gelap dari biasanya. Dengan tangan gemetar dia memberikan air sungai kyusu perlahan di mulut Renzai, tegukan pertama membuat angin berhembus sangat kencang, membuat tabib Jang dan wakil Cheon berusaha membuka kedua matanya agar bisa melihat dengan kedua matanya sendiri bahwa legenda sungai Kyusu benar adanya.


Tegukan kedua, Petir mengerikan menyambar-nyambar saling terikat di langit dan tegukan ketiga langit menjadi gelap seakan matahari telah terbenam disertai hujan yang turun ikut membasahi tubuh yang sebentar lagi akan mengalir bersama derasnya air sungai. Tubuh itu pun perlahan-lahan menghilang.


"M-Maafkan ayah Renzai ... Ayah berdoa di kehidupanmu berikutnya, kita bertemu lagi. Pergilah dengan tenang, sampai saat kau kembali lagi." Sebelum putrinya menghilang pedang Tetsu milik Jenderal itu telah di singkirkan oleh Jenderal Gem.


Air hujan yang membasahi tubuh itu perlahan mengalir bersama derasnya air sungai. Jenderal tidak berhenti menangis menatap Renzai yang berubah menjadi buih.


Tabib Jang dan Wakil Cheon hanya terdiam menyaksikan semua itu. Tiba-tiba saja pangeran Yamagashi bergerak, dia mengambil air sungai itu dan meminumkan satu persatu para Akai.


"Pergilah dengan tenang, jika waktunya tiba, jenderalmu akan bangkit kembali, berusahalah merubahnya menjadi lebih baik, aku percaya kalian para Akai mampu melaksanakan tugas ini."


Setelah meminumkan air sungai itu, satu persatu Akai berubah kembali menjadi bongkahan batu, terpahat indah di atas sungai. Wajah tabib Jang dan Wakil Cheon kini ternganga lebih lebar saking terkejutnya, keempatnya telah berubah menjadi batu yang akan tertidur entah kapan, mungkin puluhan, ratusan bahkan ribuan tahun.


"Kini giliranku," ucap pangeran Yamagashi.


Jenderal Gem, tabib Jang dan Wakil Cheon menatap ke arah pangeran, dengan pandangan tidak mengerti.


"Pangeran. Apa yang anda katakan?" tanya Jenderal Geem.


"Sudah aku katakan sebelumya, aku seperti Lee Renzai. Aku bukanlah hidup di era Juseon. Aku berasal dari kerajaan Ochtosk."


"T-tapi pangeran, anda adalah putra mahkota kerajaan ini, mengapa anda bisa hidup di zaman yang sama dengan Jenderal Kimi ga?" Tanya sang Jenderal.


Pangeran Yamagashi hanya tersenyum tipis, dia mengeluarkan pedang mataharinya, lalu memencetnya, batu itu keluar begitu saja dari pedangnya.


"Aku akan bertemu lagi dengan putrimu di kehidupan mendatang, selamat tinggal Jenderal Gem."


Pangeran Yamagashi menelan batu itu, kini perlahan-lahan tubuhnya berubah, tubuhnya kini mengeras seperti batu yang terpahat indah dengan posisi memegang pedang. Sebelum menutup matanya, dia kembali mengingat alasan dia hidup di zaman yang sama dengan Jenderal Kimi ga.


Alasanku cukup sederhana jenderal Geem, karena sejak dulu sampai sekarang aku mencintai putrimu.


Perlahan-lahan langit mulai berubah, yang tadinya hitam mengerikan dengan petir menyambar-nyambar kini tergantikan dengan cuaca indah di sore hari. Ketiganya masih terpaku di atas bebatuan, tubuh mereka masih terasa kaku untuk digerakkan.


Jenderal Gem menatap sungai yang mengalir itu, hanya dia satu-satunya yang berubah menjadi buih. Hanya Raja, jenderal dan orang yang kejamlah yang berubah seperti nasib putrinya Lee Renzai. Jenderal Gem menatap langit lalu perlahan menatap sungai itu.


"Ayah berharap kita bertemu lagi Renzai, sampai saat itu tiba, Ayah akan menunggumu."


Nyanyian pilu mewakili hati yang sedang berkabung, derap kaki kuda membuat penduduk bersembunyi dengan gemetar mencari perlindungan.


Seorang anak lelaki bernama Lee Geem ling sedang meminta kepada orang tuanya, menceritakan kisah menyedihkan yang terjadi di sebuah sungai itu, kisah itu adalah legenda di masa lalu, menjadi pelajaran bagi mereka yang kejam.


Apakah yang sedang dicari oleh sang jendral? hal itu merupakan misteri bagi siapapun yang ingin mengetahui kisahnya


☘️Sesion 1 End☘️

__ADS_1


__ADS_2