
Tubuh Luna gemetar hebat saat dia mendapatkan sebuah surat yang isinya ancaman pembunuhan yang di tulis dengan darah. Sebenarnya Luna bukanlah tipe gadis yang penakut. Hanya saja masalah darah, dia sudah tidak bisa berkomentar apa-apa.
Sejak kecil Luna sangat phobia terhadap darah. Dia bisa jatuh lemas saat melihat cairan merah tersebut.
Dia memiliki kenangan buruk dengan darah dan musim dingin. Dan keduanya adalah hal yang paling Luna benci dalam hidupnya.
"Ada apa?" Nathan menghampiri Luna yang tampak membatu sambil menggenggam sebuah kertas putih di tangan kirinya.
Dengan kaku Luna menoleh pada Nathan lalu menyerahkan kertas itu padanya. "Aku mendapatkan ancaman pembunuhan lagi, dan ancaman kali ini ditulis dengan darah. Aku tidak tahu siapa orang itu, tetapi dia mengancam akan membunuhku."
"Apa selama ini kau memiliki musuh?" Luna Menggeleng. Karena seingatnya Ia memang tidak memiliki musuh sama sekali. Bisa jadi itu adalah saingan bisnis ayahnya yang ingin menggunakan dirinya sebagai alat untuk menghancurkan Tuan Xia. "Lalu apa kau memiliki pandangan tentang orang yang mengirimkan surat ancaman ini padamu?"
Luna mengangkat wajahnya dan matanya langsung bersirobok dengan mata kanan Nathan. Lagi-lagi Luna menggelengkan kepalanya. Dia mencoba mengingat-ingat dan menebak-nebak kira-kira siapa yang ingin mencelakainya. Apalagi dia merasa jika selama ini tak pernah memiliki musuh.
"Aku benar-benar tidak tahu, karena selama ini aku tidak pernah menjalin hubungan buruk dengan siapapun." Jawabnya penuh keyakinan.
Nathan melihat sekali lagi surat kaleng yang berisi ancaman pembun*han tersebut.
Dia harus bisa menemukan siapa yang mengirim surat kaleng itu secepatnya.
Dia tidak bisa membiarkan Luna dalam bahaya. Bukan karena Nathan peduli padanya, namun yang dia lakukan semata-mata karena tugas. Karena melindungi Luna adalah tugasnya.
"Kau tidak perlu takut. Aku pasti akan segera menemukan siapa pengirim surat kaleng ini. Dan masalah dia serahkan saja padaku!!" ucap Nathan mencoba untuk menenangkan Luna. "Untuk sementara jangan pernah pergi kemana pun, tetap di rumah sampai keadaan benar-benar aman dan terkendali."
Kemudian Nathan meninggalkan Luna begitu saja. Dia harus memberitahu Tuan Xia perihal surat kaleng yang Luna dapatkan.
Mungkin saja Tuan Xia tau siapa orangnya, meskipun hanya sekedar menebak-nebak saja!!
.
__ADS_1
.
"I..Ini!!"
Tuan Xia tak bisa menahan keterkejutannya setelah membaca sebuah surat berisi ancaman pembunuhan yang di berikan oleh Nathan padanya.
Dia telah memberitahu Tuan Xia pada siapa surat itu ditunjukkan.
"Kira-kira Apa kau memiliki pandangan tentang siapa pengirim surat itu?" tanya Nathan.
Tuan Xia mengangguk. "Ya, aku tahu siapa yang mengirim surat ancaman ini. Dan bahkan aku mengenal betul tulisannya!!" jawab Tuan Xia.
"Kau tau siapa dia?" Nathan menatap Tuan Xia penuh selidik.
Paruh baya itu mengangguk. "Ya, dan dia masih bagian dari keluarga Xia. Dia adalah kakak tertuaku, sepuluh tahun yang lalu dia diusir keluar dan namanya di coret dari keluarga Xia. Dia melakukan sebuah kesalahan yang sangat fatal dan tak termaafkan, Itulah yang akhirnya membuat mendiang papa mengambil tindakan tegas. Dan sepertinya dia kembali untuk membalas dendam."
Nathan terdiam setelah mendengar apa yang Tuan Xia ungkapkan. Jadi bukan orang lain, dan dia mengincar Luna sebagai alat balas dendam untuk balas dendam pada keluarga Xia?! Dan Nathan tak mungkin tinggal diam, dia pasti akan melindungi Luna bagaimana pun caranya.
"Aku sudah kehilangan ibunya, dan aku tidak ingin kehilangan dia juga. Nathan, aku mohon padamu lindungi putriku. Aku tidak masalah jika harus kehilangan nyawa, asalkan putriku baik-baik saja. Dia satu-satunya harta paling berharga yang aku miliki."
Nathan terdiam setelah mendengar apa yang Tuhan Xia katakan. Begitu besar kasih sayang yang dia miliki untuk putrinya. Sebagai seorang ayah, Tuan Xia hanya ingin putrinya baik-baik saja.
"Aku berjanji padamu, aku pasti akan melindunginya. Meskipun harus mempertaruhkan nyawaku sendiri!!"
Tuan Xia tersenyum. "Terimakasih, Nathan. Aku akan mempercayakan putriku padamu. Lindungi dia dengan baik,"
Dan sementara itu, Luna yang tidak sengaja mendengar obrolan Nathan dan ayahnya tidak bisa menahan air matanya.
Begitu besar rasa cinta yang ayahnya miliki untuknya, dia rela melakukan apapun untukmu meskipun itu harus berurusan dengan orang berbahaya seperti Nathan.
__ADS_1
Gadis itu menyeka air matanya lalu berlari menghampiri Tuan Xia dan memeluknya.
"Daddy, terima kasih telah menjadi ayah yang baik. Kau harus berjanji padaku untuk menjaga diri baik-baik, Daddy harus sehat dan panjang umur. Aku sudah tidak memiliki siapa-siapa selain, Daddy. Untuk itu Apapun alasannya, tidak boleh meninggalkanku. Jadi harus tetap berada di sisiku, Daddy harus berjanji padaku."
Luna benar-benar tidak bisa menahan air matanya agar tidak menetes, pertahanannya akhirnya runtuh. Gadis itu menangis jadi-jadinya dalam pelukan sang ayah seperti. Seperti Tuan Xia yang sangat menyayanginya menyayanginya, luna juga sangat menyayangi ayahnya. Apapun alasannya tidak pernah ingin kehilangannya.
Tuan Xia kemudian melepaskan pelukannya dan menatap putrinya sambil tersenyum. Jari-jarinya menghapus air mata yang membasahi wajah Luna. "Sudah, Jangan menangis lagi kau terlihat jelek." Ucapnya dan membuat Luna mempoutkan bibirnya.
Dengan kesal Luna memukul pelan dada ayahnya "Daddy, menyebalkan!! Kenapa kau masih bisa berjalan tadi saat seperti ini. Masa iya aku harus tertawa setelah menangis," Lagi-lagi Gadis itu mempotkan bibirnya. Tuan Xia tertawa. kemudian dia membawa Luna ke pelukan dan memeluknya seperti tadi.
Terbesit rasa iri di hati Nathan melihat kedekatan ayah dan anak tersebut. Hubungan Nathan dan ayahnya tidak baik-baik saja mereka sudah lama saling berseteru dan bermusuhan.
Dan karena ayahnya pula yang akhirnya mendorong Nathan untuk masuk ke dunia gelap hingga dia tidak tau lagi bagaimana caranya untuk kembali pada cahaya.
Tak ingin mengganggu kebersamaan ayah dan anak tersebut, akhirnya Nathan memutuskan untuk meninggalkan mereka berdua.
.
.
"Pa, foto siapa ini? Cantik sekali?"
Pria itu mengangkat wajahnya mendengar suara putranya berkaur di gendang telinganya. Pria itu tersenyum lebar. "Kenapa? Apa kau tertarik padanya?"
"Ya, dia sangat cantik."
"Namanya, Xia Luna. Jika kau benar-benar tertarik padanya. Buat dia jatuh cinta padamu kemudian hancurkan masa depannya dan tinggalkan dia begitu saja. Buat dia sehancur-hancurnya agar ayahnya tak mampu lagi menghadapi dunia!!"
.
__ADS_1
.
Bersambung.