
Di sebuah taman. Terlihat dua orang pria dan wanita Tengah duduk di bawah pohon sakura yang berguguran.
Menikmati malam yang dingin dan gelap. Sang Penguasa malam menampakkan sinarnya yang lembut, dengan ditemani jutaan manik-manik langit yang memainkan sinarnya.
Keheningan menyelimuti kebersamaan mereka berdua. Tak sepatah kata pun keluar dari bibir Nathan maupun Luna. Keduanya sama-sama diam menikmati suasana malam.
Sesekali Luna menatap pria yang duduk di sampingnya, dan dia hanya menatap lurus ke depan. Tak menunjukkan ekspresi apapun, datar. Luna ingin tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Nathan saat ini.
"Kenapa, aku merasa kedinginan?" tanya Nathan melihat Luna yang sedari tadi menatap padanya. Ternyata Nathan menyadari jika dirinya diperhatikan sedari tadi.
Luna menggeleng. "Tidak. Aku hanya penasaran apa yang kau pikirkan, sedari tadi kau terus diam. Seperti memikirkan sesuatu, memangnya apa yang sedang kau pikirkan. Apa kau memikirkan Kekasihmu?"
"Aku tidak memiliki kekasih!!" Nathan menyela ucapan Luna. Karena memang kenyataannya ia tidak memiliki kekasih.
"Lalu apa yang kau pikirkan?" Luna bertanya sekali lagi.
Nathan menoleh dan mengunci langsung manik Hazel milik gadis itu. Membuat Luna gugup setengah mati. "Ke..Kenapa malah aku? Memangnya apa yang kau pikirkan tentang diriku?" Luna menundukkan kepalanya dan tak berani membalas tatapan Nathan.
"Aku berpikir akan lebih aman jika kau memiliki Bodyguard lebih dari satu, aku takut tak bisa terus berada di sisimu." jawab Nathan.
"Apa yang kau katakan, kau saja sudah cukup. Aku tidak membutuhkan Bodyguard lagi. Aku sangat menyukaimu, meskipun terkadang kau sangat menyebalkan. Tetapi cuma kau yang bisa mengerti dan memahami diriku." Ujar Luna.
Menyukai bukan dalam arti yang sebenarnya, kata menyukai yang Luna katakan bukan berarti jika dia telah jatuh cinta pada bodyguard-nya itu.
__ADS_1
Tetapi karena Luna sudah cocok dengan Nathan.
"Tapi bagaimana jika tiba-tiba aku berhalangan, dan tidak bisa menjagamu. Itu akan sangat berbahaya untukmu. Untuk itu aku menyarankan agar kau memiliki satu Bodyguard lagi,"
Lagi-lagi Luna menggeleng. "Aku tidak mau, apapun alasannya kau harus tetap ada di sampingku. Dan aku tidak ingin mendengar alasan apapun darimu!!" ucap Luna menegaskan.
Luna meletakkan kepalanya di atas bahu kanan Nathan. Membuat pria itu terdiam dan terpaku, tak menduga jika Luna akan melakukan hal itu.
"Apa kau tahu sebelum aku mengenalmu? Aku tidak pernah sedekat ini dengan pria manapun, meskipun banyak yang mendekatiku, tetapi aku selalu menolak mereka. Seperti awal-awal kau datang dalam hidupku. Kau seringkali membuatku kesal karena sikapmu yang dingin seperti kutub utara, tetapi lambat laun aku mulai terbiasa dengan keberadaanmu."
"Hingga saat kau tidak ada, aku merasa kosong dan kesepian. Aku sangat menyukaimu, untuk itu Aku tidak ingin mencari yang lain lagi sebagai Bodyguard ku." Ujar Luna panjang lebar.
Nathan Diam seribu bahasa, tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya untuk membalas ucapan Luna. Mata kanannya melirik Luna yang bersandar di bahunya. Nathan merasakan desiran aneh.
Suara mencurigakan yang berasal dari semak-semak membuat perhatian Nathan teralihkan. Pria itu beranjak dari duduknya dan mendekati semak-semak itu.
Ujung pistolnya menempel pada kening seorang laki-laki yang tampak ketakutan tersebut.
"Apa yang kau lakukan disini? Apa kau sedang memata-matai kami?!" tanya Nathan meminta penjelasan.
Alih-alih menjawab. Pria itu malah mendorong Nathan hingga terhuyung dan situasi itu dia manfaatkan untuk melarikan diri. Tapi sungguh naas baginya, karena Nathan tak membiarkannya pergi begitu saja.
Tembakan yang dia lepaskan mengenai paha kanan pria itu dan membuatnya terjungkal.
__ADS_1
Nathan sengaja tak langsung menghabisi pria itu. Dia ingin tau apa tujuan dia bersembunyi di balik semak-semak dan mengawasi mereka berdua.
Nathan yakin jika pria itu adalah orang suruhan yang sengaja di tempatkan di kediaman Xia sebagai mata-mata.
"Sebelum peluru ini memecahkan kepalamu. Cepat katakan kenapa kau bersembunyi disana? Apa benar kau memata-matai kami?!" tanya Nathan menurut.
"Itu bukan urusanmu!! Dan aku tidak akan mengatakan apapun padamu!!"
Nathan menyeringai. "Oh, jadi kau lebih mati?! Baiklah, akan aku kabulkan!!"
"Aahhhh..." senjata di genggaman Nathan terlepas begitu saja saat sebuah timah panas tidak sengaja menggores lengan kirinya. Sontak ia menoleh ke arah peluru itu berasal. Dan dia melihat siluet pria yang sedang melarikan diri. "Bangsat!! Jangan kabur kau!!"
Nathan hendak mengejarnya, tetapi ditahan oleh Luna. "Tidak perlu dikejar, biarkan mereka pergi. Kau terluka, sebaiknya kita obati lukamu saja."
Sepertinya keamanan rumah ini telah kecolongan. Sampai-sampai mereka tidak menyadari jika ada penyusup yang masuk.
Melepaskan mereka bukan berarti Nathan akan membiarkannya, ia pasti akan menangkap mereka berdua dan menghabisi keduanya dengan tangannya sendiri.
.
.
Bersambung.
__ADS_1