
Pria itu menghentikan Mobilnya di sebuah toko bunga yang tak jauh dari kantornya.
Kedatangannya disambut oleh seorang wanita setengah baya yang merupakan pemilik toko bunga tersebut.
Wanita itu menghampiri si pria, dan menyapanya dengan ramah. Maaf, Tuan. Bunga apa yang sedang anda cari? Bisakah saya membantu, Anda?" ucap wanita itu dengan ramah.
"Aku sedang mencari bunga untuk seseorang yang spesial, apakah ada? Dan bisakah kau membantuku? Karena aku tidak mengerti sama sekali tentang bunga," ucapnya datar.
Wanita itu tersenyum lalu mengangguk. "Tentu saja ada, Tuan. Kalau begitu mari ikut saya, silakan Anda memilih sendiri. Saya akan menunjukkan bunganya," balas wanita itu lalu mengantarkan pelanggannya tersebut untuk memilih bunga yang dia inginkan.
Ada begitu banyak bunga, sehingga pria itu bingung untuk memilihnya. Bisakah kau menjelaskan satu persatu padaku, tentang makna-makna bunga-bunga ini."
Wanita itu mengangguk. "Tentu, Tuan!! Dalam hal mengekspresikan cinta, tidak ada bunga yang cukup ideal seperti mawar merah. Bunga mawar melambangkan kesetiaan antara dua kekasih dan menjadikannya pilihan yang tepat untuk diberikan pada orang terkasih."
"Ini adalah Bunga anyelir merah dan putih, yang secara khusus mencerminkan rasa cinta. Warna anyelir merah yang lebih terang sering digunakan untuk menyampaikan kekaguman, di mana anyelir yang diarsir lebih gelap mengekspresikan sentimen cinta dan kasih sayang yang lebih dalam. Sedangkan anyelir putih dikaitkan dengan kemurnian dan keberuntungan."
"Tulip merah melambangkan cinta abadi, mengungkapkan fakta bahwa cinta tidak memiliki batas. Sebaliknya, tulip kuning melambangkan cinta tanpa harapan, menjadikannya bunga cinta yang pahit-manis."
"Lilly Putih. Ketika seorang pria memberikan bunga ini pada pasangannya, maka umumnya mereka mengenal pasangannya dengan sangat baik. Bagaimana, Tuan? Silahkan Anda memilih bunga mana yang ingin di berikan pada orang special itu."
"Mawar merah. Aku akan mengambil Mawar Merah saja," ucap pria itu sambil menyerahkan beberapa lembar Won pada wanita di depannya.
Wanita itu mengangguk. "Baik, Tuan,"
__ADS_1
"Satu lagi, kirimkan ke alamat ini dan sematkan cincin ini juga. Bunga ini untuk orang bernama, Luna." kemudian pria itu menyerahkan secarik kertas pada perempuan tersebut. Lagi-lagi wanita itu menganggukkan kepalanya.
"Baik, Tuan."
.
.
Seorang bodyguard menghampiri Nathan sambil membawa sebuah buket bunga yang katanya di tujukan untuk Luna.
Nathan tak langsung membawanya ke dalam, tetapi memeriksanya terlebih dulu. Takut jika bunga itu mengandung sesuatu yang berbahaya.
Lalu pandangan Nathan bergulir pada bodyguard yang membawa bunga tersebut. "Siapa yang mengirim bunga ini?"
"Baiklah, kau boleh pergi." ucap Nathan.
Bodyguard itu mengangguk lalu beranjak dari hadapan Nathan. "Kalau begitu saya permisi dulu," ucapnya dan pergi begitu saja.
Nathan menoleh mendengar derap langkah kaki seseorang yang datang. Terlihat Luna berjalan menghampirinya "Eo, kau memberikan bunga untukku? Tumben romantis, bunganya sangat cantik, cepat berikan padaku." cinta Luna seraya mengulurkan tangannya pada Nathan.
"Jangan disentuh!! Bunga ini dari orang yang tak dikenal, bisa saja bunga ini berbahaya."
Gerakan tangan Luna pun terhenti, lalu dia menatap Natan penasaran. "Dari siapa? Tapi di bunga itu ada namaku, mungkin kamu nggak itu untukku?" tanya Luna memastikan.
__ADS_1
"Ya, bunga ini sangat misterius dan terlihat mencurigakan. Dan Cincin ini~" mata kanan Nathan membulat cincin itu berkedip merah seolah-olah mau meledak. Buru-buru Nathan membawanya menjauh lalu melemparkannya ke udara dan...
BOOM...
Cincin itu meledak, beruntung Nathan dengan sigap membuangnya. Jika tidak iya dan Luna sudah mati saat ini. Nathan menghampiri Luna yang tampak syok dan ketakutan.
"Kau baik-baik saja?" tanya Nathan memastikan.
Luna mengangkat kepalanya dan mengangguk. "Ya, aku baik-baik saja." Ucapnya meyakinkan.
Dan suara ledakannya yang keras tentu saja mengejutkan semua orang, terutama Tuan Xia.
Paruh baya itu buru-buru lari keluar untuk melihat apa yang terjadi, Nathan pun segera menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada ayah mertuanya.
"Tapi kalian berdua tidak apa-apa bukan?" Nathan dan Luna sama-sama menggelengkan kepala, meyakinkan pada Tuhan Xia jika mereka baik-baik saja. "Syukurlah kalau begitu, sebaiknya mulai sekarang kita perketat penjagaan, agar hal semacam ini tak terulang kembali." Ucap Tuan Xia dan kemudian dibalas anggukan oleh Nathan.
Tentu saja Nathan tak akan membiarkan hal serupa terjadi kembali. Dia harus memperketat penjagaan supaya tidak kecolongan lagi, dan jika ada sesuatu yang mencurigakan, memang sebaiknya langsung ditolak saja ataupun langsung dibuang. Agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
.
.
Bersambung.
__ADS_1