
"Brengsek, berani sekali kau menggagalkan Rencanaku!!"
Pria yang tersungkur di lantai itu tiba-tiba berdiri dan menyerang Nathan. Nathan pun refleks melepaskan pelukannya pada Luna lalu mendorong gadis itu untuk menghindar agar tak terkena tendangan dan pukulan pria tersebut.
Perkelahian antara Nathan dan pria asing itu pun tak bisa terhindarkan lagi. Mereka berdua berkelahi dalam kegelapan, dari skill yang mereka berdua miliki sudah bisa dipastikan jika keduanya sama-sama berpengalaman.
Luna tidak bisa melihat jalannya perkelahian karena keadaan di kamarnya yang gelap gulita. Hanya terdengar suara gaduh dua orang yang saling baku hantam.
Dan dalam keadaan gelap seperti ini, Luna benar-benar tidak berkutik sama sekali. Sekujur tubuhnya gemetar ketakutan dan bermandikan keringat dingin. Gelap adalah kelemahannya selain darah.
"Nathan, kau harus hati-hati." Seru Luna dengan suara lantang. Dia benar-benar takut jika pria itu sampai terluka lagi karena dirinya.
Namun teriakan Luna tak dihiraukan oleh Nathan, dia fokus pada perkelahian.
Berkelahi dalam suasana yang gelap tentu saja membuatnya sedikit kesulitan. Apalagi lawannya bukanlah orang sembarangan. Dia memiliki kemampuan bela diri yang sangat baik.
"Ahhh, sial!!"
Suara rintihan dan kesakitan sama-sama keluar dari bibir keduanya. Ada kemungkinan jika mereka berdua sama-sama terluka.
Luna meraba-raba lantai untuk menemukan ponselnya. Dia bisa memanfaatkan ponsel tersebut untuk melihat dalam gelap.
"Dapat!!" seru Luna.
Dan dia mendapatkannya. Kemudian Luna menyalahkan flash di ponselnya dan mengarahkan pada dua orang yang sedang berkelahi tersebut.
Kedua mata Luna membulat melihat wajah Nathan yang berlumur darah. Dan nasib serupa pun dialami oleh pria asing yang sedang berkelahi dengan Nathan. Dia juga babak belur. Darah segar keluar dari peluru sebelah kirinya.
Tiba-tiba listrik Menyala kembali, terdengar derap langkah beberapa orang yang menuju kamar Luna. Sadar jika dirinya sudah tidak berada di titik yang aman. Pria itu pun mencoba untuk melarikan diri, dia berniat melompat dari balkon kamar Luna.
Dorrr...
"Aaahhhh!!"
__ADS_1
Tapi sayangnya usahanya tak berakhir baik, karena Nathan tak membiarkannya. Nathan menembak kedua kaki pria itu hingga dia tersungkur di lantai.
Dengan mengabaikan rasa sakit pada luka-lukanya. Nathan menghampiri pria tersebut sambil menodongkan senjata padanya.
"Katakan padaku siapa yang memerintahkanmu?!"
Pria itu mengangkat wajahnya dan menatap Nathan dengan tajam. "Aku tidak akan memberitahumu!!" jawab pria itu.
"Rupanya kau menggali kuburmu sendiri!! Aku bukan orang yang sabar untuk menghadapi orang sepertimu!! Jadi kau lebih memilih mati daripada memberitahuku?! Baiklah jika itu keinginanmu, akan aku kabulkan!!" ucap Nathan lalu mengarahkan senjata miliknya ke kepala pria tersebut.
"Nathan, tunggu!!" seru Tuan Xia yang tiba-tiba muncul bersama beberapa pria yang memakai setelan jas hitam. "Jangan dibunuh dulu!! Kita harus mendapatkan informasi darinya tentang siapa orang yang memerintahkannya."
"Tidak ada gunanya bertanya pada orang seperti dia!! Karena dia tidak akan mengaku!! Lebih baik dihabisi saja, daripada merepotkan!!" ucap Nathan.
Tuan Xia menggeleng, dia tidak setuju dengan apa yang Nathan katakan. Orang itu perlu diberi kesempatan satu kali lagi untuk mengakui siapa yang telah memerintahkannya. Tuan Xia harus tahu, karena itu menyangkut keselamatan putrinya.
"Sebaiknya obati saja luka-lukamu. Dia biar aku yang mengurusnya," ucap Tuan Xia.
"Terserah." Ucap Nathan dan pergi begitu saja.
Cklekk...
Perhatian Nathan teralihkan oleh suara decitan pada pintu kamarnya. Terlihat Luna berjalan menghampirinya.
Tak ada respon apapun dari Nathan. Dia hanya memandang Luna dengan datar.
Mereka berdua berdiri saling berhadapan, rasanya Luna ingin menjerit melihat luka-luka yang menghiasi tubuh pria itu.
Mata kirinya yang sebelumnya sudah hampir sembuh malah mengalami pendarahan lagi akibat pukulan pria asing itu. Bahkan mata itu juga mengeluarkan darah segar.
Mata Luna tiba-tiba berkunang-kunang melihat darah segar yang keluar dari luka-luka Nathan. Hampir saja dia pingsan, beruntung Nathan segera menangkapnya hingga tubuhnya tak sampai berciuman dengan lantai.
"Sudah tahu phobia darah, tapi kenapa masih kemari!!" omel Nathan sambil membaringkan Luna di tempat tidurnya.
__ADS_1
"Itu karena aku mencemaskanmu dan bagaimanapun juga kau terluka karena melindungiku." ucap Luna menimpali.
Dengan gemetar, Luna mengarahkan tangannya pada wajah Nathan yang berlumur darah. Lalu dia menyeka darah yang keluar dari mata kirinya. Luna merasa sedih, dia terluka karena dirinya. Dan Luna tidak mungkin bisa memaafkan dirinya sendiri jika sesuatu yang buruk terjadi pada mata kiri Nathan.
Nathan menggenggam jari-jari Luna yang berada di wajahnya lalu menurunkannya. Nathan mengambil beberapa lembar tisu yang kemudian dia gunakan untuk menghapus darah di tangan gadis itu.
"Jangan menyentuhnya!! Aku tidak mau jika kau sampai jatuh pingsan," ucap Nathan sambil mengunci manik Hazel milik gadis itu.
"Apakah ini sakit?" luna menatap Nathan dengan penuh rasa bersalah.
Pria itu menggeleng. "Tidak sama sekali!! Aku sudah biasa terluka seperti ini, jadi luka sekecil ini bukan apa-apa begitu." ucapnya menimpali.
Luna terdiam selama beberapa saat, muncul sebuah tanda tanya besar dibenaknya akan siapa Nathan yang sebenarnya.
Dia hanya tahu jika laki-laki ini adalah orang yang sangat berbahaya, tetapi Luna tidak tahu siapa Nathan sebenarnya.
"Biar aku saja yang mengobati luka-lukamu," ucap Luna seraya bangkit dari berbaringnya. Namun segera ditahan oleh Nathan.
Pria itu menggeleng. "Tidak perlu, biar aku sendiri saja. Tetaplah berbaring dan jangan bangun, kau pasti pusing melihat darah. Dan aku tahu kau masih trauma atas apa yang baru saja terjadi." Ucap Nathan seolah-olah mengerti apa yang sedang Luna pikirkan.
Luna tak memberikan tanggapan apapun untuk ucapan Nathan. Bagaimana dia bisa tahu jika dirinya masih trauma atas kejadian yang baru saja terjadi.
Apa mungkin pria itu mengerti apa yang sedang ia pikirkan saat ini?! Luna mengangkat wajahnya dan kembali mengunci manik hitam milik Nathan.
"Bagaimana kau bisa tau jika aku masih trauma atas apa yang terjadi. Jujur saja aku trauma bukan karena kemunculan pria itu, tetapi aku trauma pada gelap. Gelap adalah salah satu kelemahanmu selain darah. Dan aku bisa sangat ketakutan ketika berada dalam kegelapan. Itulah kenapa aku lebih menyukai tempat yang terang daripada gelap." Ujarnya panjang lebar.
Nathan bangkit dari duduknya lalu melenggang meninggalkan Luna. "Sebaiknya tetaplah berbaring. Aku akan segera kembali," ucap Nathan dan pergi begitu saja.
Nathan meninggalkan kamarnya begitupun dengan orang yang berada di sana.
Luna menatap kepergian Nathan dengan tatapan yang sulit di jelaskan.
.
__ADS_1
.
Bersambung.