
"Nathan, kau dari mana saja?!"
Kepulangan Nathan disambut oleh sebuah pertanyaan Luna, pasalnya sebelum dia pergi Nathan tak mengatakan apapun padanya.
Ada bercak darah di pakaian Nathan, tetapi tak ada sedikitpun luka di tubuhnya. Yang membuatnya kebingungan dan bertanya-tanya.
"Darah apa ini?" perempuan itu benar-benar tanpa penasaran.
"Darah orang yang ingin mencelakaimu. Aku pergi untuk menghabisinya!!" jawab Nathan dan membuat kedua mata Luna membulat sempurna.
"What?! Kau baru saja membunuh orang, dan itu demi diriku?! Apa hal ini ada hubungannya dengan dua orang yang mengikuti kita tadi?!" tanya Luna memastikan.
Nathan mengangguk. "Ya," jawabnya singkat. "Dan aku tidak bisa terima apalagi membiarkan orang yang ingin mencelakaimu berkeliaran bebas di luar sana. Untuk itu aku menghabisinya!!" jawab Nathan dengan santainya.
Luna menatap suaminya itu tak percaya. Bagaimana bisa Nathan bersikap setenang itu setelah menghilangkan nyawa seseorang, seolah-olah yang ia hilangkan adalah nyawanya seekor nyamuk.
"Tidak perlu heran apalagi bingung seperti itu. Yang terpenting sekarang adalah keselamatanmu sudah terjamin dan tidak ada orang yang membahayakanmu lagi. Ya sudah aku mandi dulu." ucapnya dan beranjak dari hadapan Luna.
Nathan tak harus menjelaskan apapun lagi pada Luna, semuanya sudah jelas, dan dia yakin Luna pasti sudah memahaminya.
Lagi pula semua yang ia lakukan adalah demi dirinya.
__ADS_1
.
.
Luna menoleh mendengar suara pintu pintu kamar mandi dibuka. Terlihat Nathan keluar dari dalam sana hanya memakan handuk yang melingkari pinggulnya.
Sementara tubuh bagian atasnya tak tertutup sehelai benang pun, bertelanjan* dada.
Melihat Nathan yang setengah telanj*ng, membuat Luna menyeringai nakal. Wanita itu mendekati suaminya lalu mengusap perut berotot dan dada bidangnya.
Perut Nathan seketika mengencang ketika jari-jari lentik Luna menyusuri setiap inci bagian kulitnya yang terbuka. Menimbulkan d*sahan dan erangan pelan dari sela-sela bibir kiss able-nya.
"Luna, hentikan!!" pinta Nathan dengan suara rendah.
"Jangan coba-coba membangunkan seekor singa yang sedang kelaparan, Nona!!" geram Nathan dengan suara rendah.
Luna semakin mendekatkan tubuhnya dan membunuh jarak di antara mereka berdua. Jari-jarinya kembali menyusuri setiap inci tubuh terbuka Nathan dengan gerakan sensuall.
Sepasang mata hitam nan tajam itu menatap Luna dengan tatapan lapar. Nathan benar-benar sudah tidak bisa menahan dirinya lagi.
Nathan mendorong Luna dan mengungkungnya diatas tempat tidur. Menyergap bibirnya dan melumattnya dengan kasar.
__ADS_1
Bukan salah Nathan, tetapi Luna yang memulainya lebih dulu.
Meskipun awalnya merasa terancam dengan apa yang Nathan lakukan, tetapi pada akhirnya Luna tetap bisa menerima ciuman itu dan membalasnya.
Semakin lama ciuman Nathan semakin meresahkan, bukan lagi ciuman lembut seperti tadi, melainkan ciuman panjang yang menuntut.
Des*han demi des*han berkali-kali keluar dari bibir Luna ketika ciuman Nathan semakin dalam. Tak hanya mel*mat saja, tetapi memagut dan menghisap.
Tak cukup sampai di situ, kemudian Nathan menurunkan ciumannya menuju leher jenjang Luna.
Beberapa bekas merah tanda kepemilikan menghiasi leher jenjang Luna. Tanda merah yang mengartikan jika Luna adalah milik Nathan. Nathan menarik dirinya sesaat untuk menatap wajah cantik Luna. Tampak buliran keringat mengalir dari keningnya.
Setelah puas dengan leher jenjang Luna. Ciuman Nathan kembali pada bibir ranumnya dan melumattnya seperti tadi, namun ciuman kali ini lebih singkat dari ciuman mereka yang sebelumnya.
"Aku ganti baju dulu, setelah ini temani aku makan malam." Ucap Nathan dan dibalas anggukan oleh Luna.
"Baiklah."
.
.
__ADS_1
Bersambung.