Bodyguardku Seorang Mafia

Bodyguardku Seorang Mafia
Beri Dia Waktu


__ADS_3

Melisa menutup wajahnya dengan dua telapak tangannya. Bahunya bergerak naik-turun turun, isakan terdengar dari sela-sela bibirnya. Dia baru saja menerima penolakan dari putri kandungnya sendiri, Luna tidak mau menerima dan mengakui dirinya sebagai ibu kandungnya.


Bukan salah Luna maupun Melisa, apalagi Luna memang tidak tau apa-apa. Dan jika ada orang yang harus disalahkan, maka orang itu adalah Tuan Xia. Karena dia lebih memilih merahasiakan kebenaran itu dari Luna.


"Dia menolakku, Pa. Dia tak mau menerima apalagi mengakuiku sebagai Ibunya!!" lirih Melisa dengan suara parau-nya.


Melisa tidak bisa membendung lagi kesedihannya setelah menerima penolakan Luna. Dia pikir pertemuan mereka akan menjadi jembatan untuk ia dan Luna menjadi dekat. Tetapi kenyataan tak berjalan seperti yang Melisa harapkan.


Tuan Xia menggeleng. Dia menghampiri putrinya lalu memeluknya. "Itu tidak benar. Bukannya Luna tidak mau menerima dan mengakuimu sebagai ibunya, tetapi dia masih terlalu syok untuk menerima kenyataan ini." Ucap Tuan Xia. Dia mencoba menenangkan Melisa yang tengah berurai air mata.


Tuan Xia bisa memahami betul apa yang sedang dirasakan oleh Luna saat ini.


Dia membutuhkan waktu untuk bisa menerima semuanya.


Semua ini memang salahnya, jika saja ia memberitahu Luna sejak awal. Pasti kejadiaannya tidak akan seperti ini. Dia yang pantas untuk disalahkan.


"Papa akan coba berbicara dengannya nanti. Untuk saat ini sebaiknya kita berikan Luna waktu untuk sendiri." ucap Tuan Xia sambil melepaskan pelukannya pada Melisa.


Tuan Xia mengusap kepala Melisa dengan lembut. "Sebaiknya sekarang kau istirahat, Papa keluar dulu." ucap Tuan Xia dan dibalas anggukan oleh Melisa.


"Baik, Pa."


.


.


Luna duduk termenung ditempat tidurnya. Tidak ada hujan, tidak ada angin, tiba-tiba ayahnya mengatakan jika dia sebenarnya bukanlah ayahnya melainkan kakeknya.


Dan wanita yang awalnya Luna kira sebagai calon istri ayahnya ternyata adalah ibu kandungnya.

__ADS_1


Semua yang terjadi masih sulit diterima secara nalar oleh Luna. Meskipun Melisa dan ayahnya, bukan... tetapi kakeknya sudah memberikan penjelasan padanya.


Nathan menghampiri Luna kemudian duduk berhadapan dengannya. Pria itu menatap Luna dengan sendu, belum pernah Nathan melihat wanitanya serapuh ini, karena biasanya Luna ceria dan sedikit bar-bar. Jadi melihat Luna yang tiba-tiba menjadi pendiam rasanya kurang nyaman.


"Untuk sementara aku ingin tinggal di rumahmu, kau tidak keberatan bukan? Jujur saja, aku masih belum bisa bersahabat dengan keadaan. Semua yang terjadi benar-benar sulit untuk aku mengerti," ucap Nara.


Nathan mengangguk. "Jika itu maumu, kita berangkat sekarang juga. Sebaiknya kau siap-siap dulu, aku akan menunggumu di luar. Ada beberapa hal yang harus aku bicarakan dengan, Tuan Xia." Ucap Nathan sambil mengusap kepala Luna kemudian bangkit dari duduknya.


Pria itu melenggang pergi meninggalkan kamarnya dan juga Luna yang masih belum bergeming. Wanita itu menghela napas, kemudian Luna beranjak dan pergi ke kamar mandi. Dia harus bersiap-siap sekarang.


.


.


Keadaan keluarga ini benar-benar tidak dalam keadaan stabil, itulah yang Nathan lihat saat ini. Hubungan antara Luna dan Tuan Xia yang dulu begitu erat seolah-olah terhalangi oleh dinding pemisah. Dan Nathan tau betul apa penyebabnya.


"Aku sadar, ini semua memang salahku. Awalnya aku tidak berpikir jika semua akan seperti ini. Jika saja aku memberitahu tentang Melisa lebih awal padanya, pasti Luna bisa menerimanya. Nathan, tolong bicara pada, Luna. Jika kau yang bicara, pasti Luna mau mendengarnya."


Nathan menghela napas berat. "Aku akan coba bicara dengannya nanti. Dan sementara waktu, aku akan membawa Luna untuk tinggal bersamaku. Setidaknya beri dia waktu, jangan terlalu memaksanya untuk menerima wanita itu sebagai Ibunya. Biarkan di beradaptasi dengan keadaannya saat ini." Ujar Nathan panjang lebar.


Tuan Xia mengangguk. "Aku mengerti, terimakasih Nathan, memang kau satu-satunya orang yang bisa aku andalkan." Tuan Xia menepuk bahu Nathan sambil tersenyum lebar. Dia lega karena ada Nathan yang bisa membantu permasalahanya saat ini.


.


.


Setelah hampir 45 menit berkendara, mereka berdua tiba di kediaman Nathan. Dan kedatangan mereka berdua disambut oleh kekonyolan Arya, Max dan Chan yang sedang bermain kartu di ruang keluarga.


Ketika tidak ada pekerjaan, mereka bertiga tak pernah melewatkan waktu senggangnya untuk bermain kartu dan bersenang-senang, seperti hari ini contohnya.

__ADS_1


"Yoo, aku menang lagi!!" teriak Max dengan heboh.


Max meraup semua uang yang ada di atas meja dan yang kalah harus menerima hukuman dari yang memang. Dan hukumannya tentu beragam, hukumannya ditentukan oleh yang menang.


"Sesuai kesepakatan!! Maka yang kalah harus dihukum yang menang, dan karena aku baik hati dan tidak sombong, hukumannya adalahhh... KALIAN HARUS MENARI DI LAMPU MERAH DAN BERDANDAN SEHEBOH MUNGKIN!!!"


Dan sontak membuat mata mereka berdua membelalak saking kagetnya. "Yakk!! Hukuman macam apa itu?! Yang benar saja, masa iya kita harus berbadan dan menari di lampu merah?! Kita berdua tidak mau!!" seru Arya menyampaikan suaranya.


"Suka tidak suka, mau tidak mau, kalian berdua harus menerima hukuman itu!!" ucap Max sambil tersenyum lebar. Sedangkan mereka berdua langsung lemas.


Nathan hanya bisa menghela nafas melihat kekonyolan mereka bertiga, ada saja hal yang tidak pantas yang selalu mereka lakukan ketika tidak ada pekerjaan.


"Eo, Nunna!!" ciri dan arya tiba-tiba berseru keras lalu berdiri ketika melihat kedatangan Luna bersama Nathan. Arya menghampiri Luna lalu mengajak wanita itu untuk ikut bermain. "Nunna, ayo ikut bermain bersama kamu. Kita seru-seruan bersama!!" ucap Arya.


Bukannya menolak, Luna malah menerimanya. "Oke, siapa takut!!" balas wanita itu dengan berapi-api. Bahkan tak terlihat kesedihan lagi di matanya saat ini.


Sepertinya membawa Luna keluar dari kediaman Xia untuk sementara adalah pilihan yang tepat. Buktinya dia bisa tersenyum dan ceria lagi saat tidak berada di rumahnya.


"Luna, kau yakin akan ikut bermain kartu dengan mereka bertiga?! Apa tidak sebaiknya kau istirahat saja?" ucap Nathan.


Luna menggeleng. "Aku tidak lelah sama sekali, dan untuk saat ini aku sedang membutuhkan hiburan. Dan aku rasa ini adalah satu-satunya hiburan yang bisa mengurangi sedikit beban pikiranku saat ini," jawabnya.


Nathan menghela nafas panjang. "Baiklah kalau begitu, kau bermain saja dengan mereka bertiga aku ke kamar dulu." Ucapnya dan dibalas anggukan oleh Luna. Tidak mungkin Nathan melarang Luna untuk ikut bermain bersama mereka bertiga. Selama itu tak membahayakan dirinya, Nathan si fine-fine saja.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2