
Tubuh pria itu menegang saat seorang pria dengan tatapan dinginnya berdiri dihadapannya dengan tatapan mematikan.
Beberapa kali dia sampai menelan saliva-nya saking takutnya. Dia seperti Iblis yang sering dilihatnya di dalam drama-drama fantasy.
Dia semakin ketakutan ketika pria itu kian mendekat kearahnya. "Si..Siapa kalian ini, dan kenapa kalian menangkap alu mengurungku ditempat seperti ini?! Kalian jangan macam-macam denganku, atau kalian akan menyesal!!" Ujar pria itu. Dia butuh penjelasan sekarang.
Lalu laki-laki itu berhenti tepat di depan pria tersebut. "Melisa Xia, seorang gadis kecil yang kau nodai puluhan tahun yang lalu. Apa kau masih mengingatnya?!"
Pria itu mencoba mengingat-ingat nama Melisa Xia, yang baru disebutkan oleh laki-laki di depannya ini. Nama itu terdengar tidak asing di telinganya, dia merasa pernah mendengarnya tapi kapan dan dimana.
Kemudian laki-laki itu yang tak lain dan tak bukan adalah Nathan. Menunjukkan sebuah foto pada pria di depannya, dan seketika itu juga dia mengingat nama Melisa.
Dan Melisa adalah, gadis kecil yang pernah ia nodai puluhan tahun yang lalu hingga dia hamil.
"Bagaimana, apa kau sudah mengingatnya?" ucap Nathan memastikan.
"Sebenarnya kau ini siapa, dan apa hubunganmu dengan wanita itu?" tanya pria itu meminta penjelasan.
Kemudian Nathan bangkit dari posisinya lalu memainkan senjata ditangannya. Lalu mengarahkan pada kepala pria itu.
"Siapapun aku, itu tidaklah penting. Dan aku ingin agar kau mempertanggungjawabkan perbuatanmu dimasa lalu. Karena dirimu, seorang gadis kecil harus kehilangan masa depannya. Terpisah jauh dari keluarganya selama bertahun-tahun. Dan kau malah hidup enak-enakan tanpa rasa berdosa sedikit pun. Sebenarnya kau itu manusia atau bukan?!"
"Jangan bertele-tele, sebaiknya katakan siapa dirimu, dan apa hubunganmu dengan wanita itu?! Jangan membuatku marah, bisa melakukan apa saja padamu!!" teriak pria itu memberi ancaman.
Nathan menyeringai sinis. "Kau mencoba mengancamku?! Memangnya siapa kau, sampai-sampai berani mengancam Bos mafia yang paling ditakuti. Apa kau sudah bosan hidup?!" Nathan menatapnya dengan dingin.
"Jangan-jangan kau adalah~"
__ADS_1
"Tepat sekali yang kau pikirkan. Bagaimana masih ingin bermain-main denganku?! Sebaiknya sekarang kau katakan dengan jujur, kenapa kau sampai menodai melisa dan merenggut masa depannya?!"
Pria itu menatap Nathan dengan tajam. "Bukan salahku!! Karena Wanita itu yang lebih dulu menggodaku, dulu aku sangat tampan dan populer ketika masih menjadi guru olahraganya. Dia yang terus mendekatiku dan mendesakku agar mau berhubungan dengannya!!"
"Awalnya aku tau mau menanggapi dan menggubrisnya. Karena dia masih anak-anak, tetapi dia terus mendesak ku hingga aku tidak memiliki pilihan. Lagipula aku adalah pria normal, dan ketika sekor kucing diiming-imingi seekor ikan, mana mungkin dia tidak memakannya!! Apalagi anak dibawah umur rasanya sangatlah lezat!!"
BRAKK...
Tubuh pria itu terjungkal kesamping oleh pukulan Nathan. Nathan memukulnya dengan keras hingga dia jatuh tersungkur. Amarah Nathan memuncak, bagaimana bisa dia begitu bangga dan tak merasa bersalah sama sekali.
Sontak pria itu mengangkat wajahnya dan menatap Nathan dengan marah. "YAKK!! KENAPA KAU MALAH MEMUKULKU?!" bentaknya emosi.
"Bukan hanya memukulmu, tapi aku juga ingin menghabisimu!! Dan pria sepertimu tidak layak dibiarkan tetap hidup, kau bajingan yang tidak berhati!!" Nathan menatapnya dengan tajam.
Pria setengah baya itu menatap Nathan dengan sinis. "Jika aku bajinga* lalu kau apa?! Bahkan kau lebih buruk dariku!!"
"Setidaknya aku masih waras, tidak gila sepertimu!! Karena hanya orang gila, yang menodai anak dibawah umur!! Dan sudah saatnya mengucapkan selamat tinggal pada dunia ini!!"
"Goodbye!!"
Suara tembakan menggema di dalam ruangan itu. Satu nyawa baru saja melayang sia-sia ditangan Nathan. Setelah menghabisi pria itu, dia langsung melenggang pergi, tanpa menghiraukan pria yang sedang terkapar tersebut. Tugasnya telah selesai, dan akhirnya dia mendapatkan jawabannya.
Dan sudah saatnya untuk pulang, Luna pasti menunggunya. Apalagi ini sudah waktunya makan malam, perempuan itu tak akan makan malam tanpa dirinya. Dan Nathan tak ingin membuatnya menunggu terlalu lama.
.
.
__ADS_1
Deru suara mobil yang memasuki halaman mengalihkan perhatian Luna, saat ini perempuan itu tengah menyiapkan makan malam di dapur. Entah apa yang ada di pikiran perempuan itu sebenarnya, jelas-jelas dia tidak bisa memasak, tapi tetap memaksakan diri untuk menyiapkan makan malam.
Beberapa telur mata sapi yang telah gosong memenuhi dua piring, kita sudah berapa banyak telur yang menjadi korban dari percobaannya.
"Luna, Apa yang sedang kau lakukan? Lalu telur-telur itu?" nathan menunjuk telur-telur kosong yang ada di atas meja.
Luna menghela nafas panjang. "Tadinya aku ingin menyiapkan makan malam untuk kita berdua, dengan membuat telur mata sapi. Tapi hasilnya tidak seperti yang aku harapkan, semua telur yang aku masak malah gosong dan tidak bisa dimakan." ucapnya menjelaskan.
Nathan mendengus mendengar penjelasan Luna. Kemudian dia menghampiri perempuan itu lalu menyentil keningnya. "Dasar kau ini, berapa kali lagi aku harus mengingatkanmu tidak memasak apapun. Bagaimana jika sampai kebakaran karena kecerobohan mu itu,"
"Bagaimanapun juga aku kan ingin menjadi istri yang baik seperti kebanyakan wanita di luaran sana, bisa melayani suaminya. Menyiapkan sarapan dan makan malam, aku benar-benar payah. Sebaiknya buang saja semua telur-telur ini, toh sudah tidak bisa dimakan lagi!!" kemudian Luna membawa telur-telur itu ke tempat sampah.
Luna tunggu," seru Nathan menghentikan Luna yang hendak membuang telur-telur tersebut. "Jangan dibuang. Kau memasak ini untukku kan?"
Luna mengangguk. "Ya aku memasaknya untukmu, tapi gagal."
Kemudian Nathan mengambil piring itu dari tangan Luna. "Jangan dibuang, aku rasa telur ini masih bisa dimakan. Dan Kelihatannya tidak terlalu buruk," ucapnya lalu membawa telur-telur itu ke meja makan.
"Tapi, Nathan. Telur-telur itu gosong, dan pasti rasanya pahit." luna menatap suaminya dengan cemas.
"Tidak apa-apa, kau tidak perlu memakannya biar aku saja. Aku sudah membeli kamu makanan dari luar, jadi kau makan yang itu saja." Ucap Nathan seraya mendaratkan pantatnya di kursi.
Luna menatap Nathan dengan tatapan tak terbaca. Sudut bibirnya tertarik ke atas, Nathan begitu gitu menghargai usahanya. Dan itu membuat Luna terharu.
Kemudian wanita itu mendaratkan pantatnya kursi yang berhadapan dengan Nathan, pasangan muda itu kemudian menyantap makan malamnya dengan tenang. Tak ada lagi obrolan di antara mereka, hanya terdengar suara sendok dan garpu yang saling bersentuhan.
.
__ADS_1
.
Bersambung.