
Disiang hari yang terik, seorang gadis duduk menikmati segelas orange jus disebuah cafe seorang diri.
Diantara semua pengunjung yang datang. Hanya dirinya yang sendirian, karena pengunjung lain datang bersama pasangannya, dan ada juga yang datang bersama teman-temannya.
Meskipun sedikit menyita perhatian orang lain karena hanya sendirian, tetapi Luna tidak peduli.
Tingg...
Lonceng di atas kafe berbunyi menandakan ada pengunjung yang datang. Seorang pemuda berjalan menuju meja Luna dengan angkuhnya. Wajah tampannya tak menunjukkan ekspresi apapun, datar. Dan sepertinya Luna belum menyadari kedatangannya.
"Kenapa aku merasa kau seperti sebutir debu diantara ribuan berlian?!"
Luna mengangkat wajahnya setelah mendengar suara yang begitu familiar masuk dan bergaul di telinganya. Sontak ia menoleh dan mendapati Nathan berdiri dibelakangnya dengan tatapan dingin seperti biasanya.
Gadis itu memicingkan matanya melihat melihat benda hitam bertali menutup mata kirinya. Hingga sebuah tanda tanya besar memenuhi benaknya.
"Aku mengalami kecelakaan Minggu lalu, dan selama tiga hari aku terjebak di rumah sakit. Itulah yang membuatku tidak datang!!" jelas Nathan seolah-olah mengerti apa yang Luna pikirkan.
"Tapi matamu tidak apa-apa kan? Kau tidak buta sebelah kan?" tanya Luna memastikan.
Nathan menggeleng. "Tidak!!" Jawabnya sambil duduk di depan Luna.
Luna memperhatikan Nathan secara diam-diam, tak bisa ia pungkiri jika Nathan memang sangat tampan. Bahkan lebih tampan dari para deretan mantan yang dia tinggalkan begitu saja karena mereka tidak setia.
"Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa ada yang ada di wajahku?"
Luna menggeleng. "Aku menatapmu Karena Kau terlalu tampan. Bukan-bukan, tapi cantik. Tidak-tidak, lebih tepatnya tampan dan cantik. Ya, memiliki wajah yang tampan dan cantik. Dan menurutku itu unik, saling uniknya sampai-sampai aku tidak pernah jemu untuk menatapmu." Jawab Luna.
Nathan mendengus. Entah dia harus merasa terharu atau geli karena dipuji seperti itu oleh Luna. Dan sangat aneh mendengar Gadis itu memberikan pujian padanya. Mengingat jika hubungan mereka selama ini bisa dikatakan kurang baik, karena mereka berdua tak ubahnya seperti kucing dan anjing. yang tidak pernah bisa akur.
Tiba-tiba Luna terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu. Kemudian dia mengangkat wajahnya dan menatap pria yang duduk di depannya. membuat Nathan ikut membalas tatapannya. "Apa lagi sekarang?" Luna menggeleng.
Luna melambaikan tangannya pada seorang pelayan. Pelayan itu pun datang sambil membawa buku menu. Lalu pandangan Luna bergulir pada Nathan. "Kau ingin pesan apa? Anggap saja aku sedang berbaik hati, pesan apapun yang kau inginkan, biar aku yang membayarnya."
__ADS_1
"Tumben kau baik?!"
Gadis itu menghela nafas dan mendecih sebal. "Jangan mulai, aku sedang tidak ingin berdebat denganmu!! Untuk sekali Ini saja bisakah kau bersahabat denganku, aku benar-benar tidak mood untuk bertengkar!!"
"Bukan aku yang selalu memulainya, tapi dirimu!!" jawab Nathan menimpali.
"Aku bilang diam, jangan mulai!!" Luna menatap Nathan dengan sinis.
"Maaf, Nona, Tuan. Sebenarnya Anda berdua jadi memesan atau tidak?" Suara pelayan menginstruksi pertengkaran mereka berdua.
"Hm, samakan saja dengan gadis ini." Ucap Nathan yang kemudian dibalas anggukan oleh pelayan tersebut.
Keheningan seketika menyelimuti kebersamaan Luna dan Nathan, tak ada pembicaraan di antara mereka berdua apalagi perdebatan seperti tadi. Keduanya sama-sama diam dalam kebisuan.
Nathan sibuk dengan ponselnya, sementara Luna sibuk menatap keluar pada kendaraan yang hilir mudik. Cuaca di luar benar-benar panas, dan itu membuatnya malas untuk pergi ke mana pun. Makan Luna malas untuk keluar dari Cafe tempatnya berada saat ini, di cafe sangat sejuk karena pendingin ruangan.
Dan kedatangan pelayan menyadarkan mereka berdua. Perhatian Luna teralihkan dia Menatap pelayan yang sedang menata makanan untuk Nathan di atas meja. Nathan bukanlah tipe pria pemilih, selama itu tidak beracun dan layak untuk dikonsumsi makanan apapun itu tak masalah.
Dan disaat mereka berdua sedang menyantap makan siangnya dengan tenang, tiba-tiba segerombolan pria tak dikenal masuk dan membuat keributan. Dari pakaian yang mereka kenakan, tentu saja mereka bukan orang baik-baik.
Dan kedatangan mereka Tentu saja sangat mengganggu pengunjung lain yang sedang menyantap makan siangnya. Tetapi mereka tidak berani menegur apalagi meminta mereka untuk pergi, bisa-bisa mereka sendiri yang terkena masalah besar.
"Apa lihat-lihat, apa kalian tidak suka melihat kami di sini?! Wow, ternyata ada bidadari di antara butiran-butiran debu!!" bos preman itu menghampiri meja Luna. "Kau sangat cantik, bagaimana jika menjadi kekasihku saja?!"
Plakkk...
Luna menyentak tangan preman itu ketika hendak menyentuhnya. "Jangan pernah menyentuhku dengan tangan kotormu!!" Luna menatapnya dengan dingin.
"Wow, benar-benar gadis yang sangat liar, dan aku menyukainya. Kemarilah sayang, biarkan aku mencicipimu sedikit saja!!"
Grepp...
Sebuah tangan terulur menahannya untuk menyentuh Luna. Sontak pria itu menoleh dan menatap marah pada orang itu yang pastinya adalah Nathan.
__ADS_1
"Yakk!! Kau sudah bosan hidup ya?! Berani sekali kau mencari masalah denganku, Cacat!! Oh, atau kau ingin aku membuat mata kananmu bernasib seperti mata kirimu!!" pria itu menatap Nathan dengan pandangan meremehkan. Dia baru saja membangunkan seekor singa yang sedang kelaparan.
Nathan menyeringai tajam, membuat bulu Kuduk pria itu berdiri seketika!! "Ja..Jangan menatapku seperti itu!!" bentaknya dengan suara terbata-bata.
Nathan memiringkan kepalanya, seringai tajam masih tercetak di bibir kiss ablenya.
"Sekarang Katakan padaku, kau ingin mati dengan cara seperti apa? Apapun permintaanmu akan aku kabulkan. Secara normal dan wajar, atau mati dengan rasa sakit yang tak tertahankan?! Pilih saja salah satu, dan dengan senang hati aku akan mengabulkannya!!"
Glukk...
Bukan hanya Bos preman itu yang menelan ludah melihat aura gelap yang tersirat dari mata hitam itu, tetapi Luna juga. Dia sampai menelan ludah, tatapan Nathan benar-benar mengerikan.
Nathan mengeluarkan senjata api dari balik pakaian yang ia kenakan, dia memainkan senjata itu dengan sorot mata tajam dan berbahaya.
DORR...
"Aahhh.. Kakiku!!"
Tanpa banyak basa-basi lagi, nathan melepaskan tembakannya pada pria itu membuat dia berteriak histeris.
Lalu pandangan Nathan bergulir pada beberapa orang yang tampak was-was itu. Mereka terlihat sangat ketakutan, melihat apa yang telah datang lakukan. Sepertinya pria ini bukanlah pria sembarangan apalagi yang bisa ditindas.
"A..Ampun, Tuan. Kami akan pergi. Ja.. Jangan bunuh kami. Bos, kita pergi saja dari sini!!" akhirnya mereka pun membawa bosnya pergi dari cafe. Mereka benar-benar tidak ingin mati konyol di tangan Nathan.
Luna bergidik ngeri. sepertinya mencari masalah dengan Natan sama saja dengan bunuh diri. Untuk itu mulai dari sekarang dia harus lebih berhati-hati ketika berhadapan dengannya. Luna tidak ingin mati konyol di tangannya.
"Kenapa kau menatapku seperti itu? Dan sampai kapan kau akan membiarkan makananmu?! Itu sudah hampir dingin." Ucap Nathan datar.
"A..Aku akan segera menghabiskannya!!"
.
.
__ADS_1
Bersambung.