
Kembalinya Luna ke kampus telah sampai ke telinga Robby, lelaki yang rela tidak lulus hanya demi untuk menunggu Luna kembali berkuliah. Dan Robby sendiri adalah senior Luna yang selama ini tergila-gila padanya.
Mendengar Luna telah kembali membuat Robby sangat bahagia, dia benar-benar sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan sang pujaan hati. Apalagi banyak yang bilang jika perempuan itu semakin cantik.
"Bagaimana, aku sudah harum belum?" tanya Robby pada teman-temannya.
"Hoek!!" mereka malah bereaksi ingin muntah.
"Yakk!! Kenapa dengan ekspresi kalian semua?!" bentaknya marah.
"Sebenarnya parfum apa yang kau pakai itu, Rob?! Aromanya sangat tidak enak!!"
Robby pun segera mencium dirinya sendiri guna memastikannya. "Mana ah? Aku tidak mencium apa-apa, selain aroma yang semerbak ini. Dan ini yang aku pakai." Kemudian dia menunjukkan parfum yang ia pakai pada teman-temannya.
Membuat mereka terkejut dan tak percaya. Pantas saja jika aromanya tidak sedap, karena yang dia pakai bukan parfum badan, melainkan pengharum kamar mandi beraroma melati.
__ADS_1
"Dasar sinting!! Bukannya dekat dan nempel terus padamu, yang ada dia malah kabur jika mencium aroma parfummu yang seperti ini!!"
Sekali lagi pria itu mencium aroma tubuhnya sendiri. Guna memastikan jika memang tidak ada yang salah dengan aromanya.
"Memangnya kenapa dengan parfumku, aku rasa tidak ada yang salah, parfum ini sangat harum dan aku menyukai aromanya!!" ucap Robby menuturkan.
Tak ingin menjadi bulan-bulanan teman-temannya. Robby pun memutuskan untuk segera pergi menemui Luna, dia sungguh sangat tidak sabar untuk bisa segera bertemu dengannya.
Setelah menunggu sekian lama, akhirnya wanita itu kembali juga.
.
.
Mulai dari orang yang dekat dengannya, sampai hal-hal kecil pun mereka tanyakan. Membuat Luna kalang kabut ketika menjawabnya. Bagaimana tidak, karena Selly dan Erica selalu melemparkan pertanyaan yang berbeda namun di waktu bersamaan.
__ADS_1
"Yakk!! Cukup kalian berdua!! Jangan membuatku pusing dengan pertanyaan-pertanyaan konyol kalian. Dan jika ingin bertanya satu-satu, bukannya bersama-sama seperti itu!!" luna melayangkan protesnya pada kedua sahabatnya, pertanyaan-pertanyaan mereka benar-benar membuatnya pusing sendiri.
Kemudian Erica dan Selly pun saling menunjuk dan menyalahkan, keduanya sama-sama egois dan keras kepala. Mereka sama-sama tak ada yang mau mengalah. "Iya, ni. Jelas-jelas aku yang bertanya duluan, tapi memang dasar Erica-nya saja yang suka ikut-ikutan. Dia seperti tidak punya pertanyaan lain saja!!"
"Yakk!! Kenapa kau malah menyalakanku?! Jelas-jelas kau yang ikut-ikutan, bukan Aku!!" Selly pun tak mau kalah, dia tidak ingin disalahkan oleh Luna.
Luna menghela nafas panjang. Berkumpul dengan mereka berdua terkadang membuatnya naik darah, karena kedua sahabatnya itu selalu meributkan sesuatu yang bisa dikatakan tidak penting sama sekali.
Malas mendengar keributan mereka berdua. Luna pun memutuskan untuk pergi dari kantin dan menuju atap gedung.
Dia akan menghubungi Nathan, entah kenapa tiba-tiba Luna merasakan ada sesuatu yang hilang pada dirinya ketika berjauhan dari Nathan.
.
.
__ADS_1
Bersambung.